
Sandi meninggalkan rumah Lisa dengan pertanda suara deruman mobil yang semakin tidak terdengar oleh Lisa. Lisa memilih kembali masuk ke rumah.
Didalam perjalanan, Sandi tidak lupa untuk membeli pakaian rumahan untuk ia kenakan nanti malam saat dirumah Tiara. Bukan hanya berhenti ditoko pakaian, Sandi juga berhenti ditoko buah dan makanan kecil. Sandi sudah membeli semuanya, ia melanjutkan perjalanan menuju rumah Tiara.
Doni sedang bermain dihalaman rumah, dia kemudian melihat ada mobil yang berjalan menuju rumahnya. Mulai dekat dan berhenti dihalaman. Memarkirkan mobil itu tepat dihadapan Doni. Doni pun segera menerka.
Pasti itu mas Sandi. Batin Sandi.
Dan tepat saja terkaan Doni tersebut. Sandi keluar dari mobil. Doni kemudian berjalan dengan langkah cepat. Dia menyapa Sandi dan mencium kedua punggung tangannya tanda memberi salam. Doni kemudian mengajaknya.
"Mas bawa sesuatu untuk Doni," kata Sandi memberikan buah-buahan dan makanan kecil yang ia beli tadi.
"Terima kasih ya mas," kata Doni dengan perasaan riang gembira.
Doni dan Sandi juga berjalan memasuki rumah.
Tiara dan ibunya sedang sibuk untuk mempersiapkan makan malam. Bu Lilis memang sengaja meminta Tiara agar tidak langsung pulang bersama Sandi. Bu Lilis meminta agar mereka mau makan malam bersama.
__ADS_1
"Kamu dengar suara deruman mobil tidak tadi?," tanya bu Sari.
"Kapan bu?," tanya Tiara.
"Barusan ini," kata bu Sari.
"Tiara tidak mendengarnya bu. Kemungkinan besar itu mas Sandi," kata Tiara tanpa sadar bahwa tebakannya itu benar.
Doni berjalan menuju dapur dengan raut wajah gembira sedangkan Sandi duduk dikursi ruang tamu.
"Kak, ada mas Sandi. Mas Sandi juga membawakan ini untukku," kata Doni sembari menunjukkan sesuatu bingkisan.
"Ternyata suara mobil tadi nak Sandi rupanya," kata bu Lilis.
"Tir, kamu buatkan dulu minuman untuknya," kata bu Lilis.
"Baik bu," kata Tiara. Tiara kemudian menyeduhkan segelas kopi untuk Sandi.
__ADS_1
Bu Sari melangkahkan kakinya menuju ruang tamu. Ia menemui Sandi. Melihat ibu mertuanya, Sandi kemudian segera berdiri dari kursinya dan mencium kedua punggung tangan ibu mertuanya tersebut.
"Maaf ya bu, baru sempat sekarang kesininya," kata Sandi.
"Tidak apa-apa nak, ibu maklum akan kesibukan kamu," kata bu Lilis.
"Terima kasih bu," kata Sandi.
"Iya nak, tidak apa-apa," kata bu Lilis.
"Bapak dimana bu? kenapa Sandi dari tadi belum melihatnya," tanya Sandi.
"Bapak sepertinya belum pulang kerja nak," kata bu Lilis.
"Sepertinya yang ibu bilang itu benar. Sebelum pernikahanku dengan Tiara dilaksanakan, papah sudah memutuskan untuk mengangkat bapak untuk menduduki posisi kepala cabang bu. Oleh karena itu, pekerjaan bapak semakin banyak dan tanggung jawabnya tentu lebih besar dari sebelumnya. Jadi, Sandi rasa jam kerja bapak lebih panjang dari biasanya. Tapi ibu jangan khawatir, itu hanya untuk sementara. Lama-kelamaan waktu kerja bapak akan berkurang seiring berjalannya waktu," kata Sandi menjelaskan panjang lebar.
"Iya nak, ibu mengerti. Ibu berterima kasih untuk pengangkatan bapak," kata bu Lilis.
__ADS_1
"Bapak wajar menerima itu bu. Kita kesampingkan saja masalah kekeluargaan kita sekarang bu. Kita bisa melihat kinerja bapak selama ini, itu yang menjadi pertimbangan yang paling mendasar bu," kata Sandi.
"Iya nak. Ibu senang sekali mendengar bapak bekerja dengan baik," kata bu Lilis. Sandi tersenyum manis.