Pernikahan Yang Dipaksakan

Pernikahan Yang Dipaksakan
Bab 16


__ADS_3

Seminggu berlalu, pernikahan Sandi dan Tiara akan dilangsungkan dirumah Sandi. Hal ini sudah diputuskan melalui keputusan kedua pihak. Tiara nampak gugup dikamarnya. Tiara nampak cantik dengan riasan pengantin. Ia menggunakan gaun pengantin berwarna putih, seperti pada umumnya.


Senada dengan putrinya, bu Lilis juga memakai kebaya putih dan balutan selendang dibahunya. Sedangkan pak Arifin menggunakan pakaian dengan stelan jas yang lengkap. Doni, anak bungsu dikeluarga Tiara menggunakan pakaian batik dan celana dasar.


Bu Lilis menghampiri putrinya ke kamar. Bu Lilis takjub melihat kecantikan putrinya yang begitu terlihat bersinar.


"Kamu cantik sekali nak," kata bu Lilis sembari memegang wajah Tiara.


"Terima kasih ya bu," kata Tiara.


"Nak, apa yang kamu rasakan sekarang ini?," tanya bu Lilis.


"Campur aduk bu," kata Tiara.


"Apa kamu bahagia nak dengan pernikahanmu yang akan diadakan sebentar lagi?," tanya bu Lilis.


"Aku sebenarnya merasa sudah biasa dan menerima perjodohan ini bu. Semenjak aku melakukan pre-wedding itu, aku merasa memiliki kecocokan dengan mas Sandi bu," kata Tiara.


"Benarkah?, kamu serius kan?," kata bu Lilis.


"Serius bu. Itu karenanya, Tiara tidak memiliki raut wajah kesedihan," kata Tiara.


Bu Lilis terenyuh mendengar perkataan Tiara itu.


"Ibu sangat senang mendengar apa yang kamu katakan nak. Akhirnya ibu merasa lega, karena kamu sudah bisa menerima perjodohan ini," kata bu Lilis.


"Iya Bu," kata Tiara.


"Bu!," suara pak Arifin memanggil dari luar kamar.


"Iya pak," kata bu Lilis.


"Bagaimana dengan Tiara?, apa sudah siap berdandannya?," kata pak Arifin dari luar kamar.


"Ia sudah selesai pak," kata bu Lilis.


"Ya sudah kalau begitu. Ayo kita berangkat!. Mobil suruhan pak Airlangga sudah datang menjemput. Jam 10:00 nanti sudah dimulai acara ijab qobul bu," kata pak Arifin.


"Iya pak, kami akan keluar," kata bu Lilis.


Doni dan pak Arifin sudah menunggu diruang tamu.

__ADS_1


"Cantik sekali anak gadis bapak," kata pak Arifin.


"Terima kasih pak," kata Tiara.


"Mbak Tiara cantik sekali. Seperti putri-putri kerajaan Jawa," kata Doni.


"Kamu bisa saja adikku, terima kasih atas pujiannya ya sayang," kata Tiara.


"Ia kak, sama-sama," kata Doni.


"Ayo kita keluar," kata pak Arifin.


Mereka keluar bersamaan dari rumah. Orang suruhan pak Airlangga membukakan pintu mobil serentak. Tiara dan dan keluarganya naik ke mobil. Mobil berjalan menuju rumah Sandi.


Sandi merasa grogi berat. Jantungnya tidak mau berhenti berdegup. Pak Airlangga dan Bu Sari sibuk menyambut tamu diluar. Bu Sari terpikirkan sejenak oleh putranya. Bu Sari meninggalkan pak Airlangga yang sedang sibuk menyambut tamu.


Bu Sari berjalan menuju kamar Sandi. Ia mengetuk pintu. Sandi mempersilahkan masuk meskipun ia belum tahu siapa yang mengetuk pintu kamar miliknya.


"Lho mah," kata Sandi.


"Hai San. Mama perhatikan kamu kok nampaknya sedang melamun sayang," kata bu Sari memegang wajah putra bungsunya itu.


"Tidak kok mah. Sandi hanya merasa sedikit grogi saja," kata Sandi.


"Iya mah," kata Sandi.


"Apa yang kamu rasakan saat ini?," tanya bu Sari.


"Aku merasa seperti asing mah hari ini. Sandi ngerasa pernikahan ini seperti sesuatu yang tidak cocok dengan Sandi," kata Sandi.


"Kamu belum bisa move on dari Lisa ya," kata bu Sari.


"Tentu belum mah. Lisa saja tidak tahu kalau aku akan menikah hari ini dengan perempuan lain. Aku sudah menghianati Lisa mah. Entah apa yang harus Sandi katakan kepada Lisa nantinya jikalau Sandi sudah menikahi perempuan lain," kata Sandi.


"Sayang, kamu harus bisa melupakan Lisa perlahan. Dia sepertinya tidak ditakdirkan bersama denganmu dalam tali pernikahan," kata bu Sari.


Sandi tidak menjawab Ibunya. Ia menangis. Bu Sari memeluknya. Sandi membalas pelukan Ibunya dengan erat dan menangis dalam pelukan hangat ibunya itu. Bu Sari merasa terenyuh.


Kini Tiara dan keluarganya sudah sampai dirumah Sandi. Orang suruhan pak Airlangga menuntun mereka kedalam.


"Tuan, pengantin perempuan dan keluarganya sudah sampai," kata salah satu karyawan rumah pak Airlangga.

__ADS_1


"Nyonya kemana ya kira-kira?," kata pak Airlangga bertanya-tanya.


"Tadi nampaknya nyonya pergi kamar tuan muda tuan," kata salah satu asisten rumah tangga.


"Kalau begitu, tolong kamu panggilkan ya," kata pak Airlangga.


"Baik tuan," kata asisten rumah tangga.


Sandi bersedih dalam pelukan ibunya. Bu Sari berusaha menenangkan Sandi. Tidak lama, terdengar ketukan pintu dari luar kamar Sandi.


"Ia,silahkan masuk!," kata bu Sari. Sandi melepaskan pelukannya. Asisten rumah tangga memasuki kamar mandi.


"Lho kamu mbak, kenapa?," tanya bu Sari.


"Pengantin perempuan dan keluarganya sudah sampai nyonya. Tuan Airlangga meminta agar nyonya dan tuan muda turun ke bawah untuk sama-sama menyambut kedatangan pengantin dan keluarganya," kata Asisten rumah tangga.


" Baik mbak, kami akan segera turun," kata bu Sari.


"Baik nyonya, saya permisi dulu nyonya," kata asisten rumah tangga.


"Ia," kata bu Sari.


"Ayo San kita turun. Kita sambut calon istrimu dan keluarganya," kata bu Sari. Bu Sari mengelap air mata Sandi.


"Kamu tidak boleh nampak sedih dihari pernikahanmu sayang," kata bu Sari.


"Iya mah, Sandi tidak akan terlihat sedih. Sandi tidak akan mengecewakan papa dan mama hari ini," kata Sandi.


Sandi dan bu Sari turun bersamaan. Pak Airlangga melihat mereka tersenyum.


"Kamu sangat tampan San," kata pak Airlangga.


"Papah bisa saja," kata Sandi.


"Ayo kita keluar!," kata pak Airlangga.


Sandi dan keluarganya menyambut Tiara dan keluarganya. Mereka saling salam, senyum dan sapa. Sandi yang melihat kecantikan Tiara merasa sangat kagum. Dia memandangi wajah Tiara dengan tersenyum manis kepadanya. Tiara juga membalas dengan senyuman.


Sesudahnya, mereka berjalan ke salah satu ruangan yang sudah dipersiapkan untuk pengucapan ijab qobul. Penghulu sudah berada disini. Pengucapan ijab qobul dimulai. Sandi melafalkannya dengan baik hingga semua saksi mengatakan kata "sah", tanda bahwa Sandi dan Tiara sudah sah menjadi pasangan suami istri. Semua tamu undangan berdoa untuk kebaikan pernikahan Sandi dan Tiara.


Disisi lain, Hardi sudah mempersiapkan diri untuk melaksanakan tugas yang diberikan pak Airlangga untuk mempublikasikan pernikahan Sandi ke media. Hardi mengundang beberapa wartawan dari media terpercaya. Dia diminta pak Airlangga untuk membatasi banyaknya wartawan karena takut mengganggu keberlangsungan pernikahan putranya. Setelah ijab kabul selesai, dengan itulah berita itu dipublikasikan.

__ADS_1


Lisa saat ini sedang menuju perjalanan ke rumah Sandi. Dia ingin mencoba mencari muka dihadapan keluarga Sandi. Namun sangat disayangkan, Lisa tidak tahu kalau Sandi sudah menikahi perempuan lain. Kini, impiannya untuk menjadi menantu dikeluarga besar Sandi sudah lenyap. Saat Lisa fokus menyetir, Ponselnya berbunyi. Ada pesan what's app masuk.


__ADS_2