
Setelah malam-malam sebelumnya Asta dan suaminya Andre selalu batal untuk berkunjung ke rumah bu Sari, akhirnya mereka menunaikan janji mereka malam ini untuk berkunjung ke rumah bu Sari.
Suara deruman mobil terdengar samar-samar digerbang. Pihak keamanan rumah Sandi terlebih dahulu bertanya ke majikannya apakah mereka boleh mempersilahkan tamu yang datang ini masuk?.
"Pak, ada tamu. Katanya sih mereka teman bu Sari. Mereka juga sudah membuat janji terlebih dahulu dengan ibu sebelum kesini," kata pihak keamanan kepada pak Airlangga melalui sambungan telepon.
"Tamu? tunggu saya tanya ibu sebentar," kata pak Airlangga.
"Baik pak," kata pihak keamanan.
"Mah, kata security kita, mamah kedatangan tamu digerbang. Apa benar?," tanya pak Airlangga.
"Oh iya pah, benar," kata bu Sari.
"Asta dan suaminya, Andre," kata bu Sari menjelaskan.
"Begitu ya, baiklah. Biar papah minta ke pihak keamanan supaya mereka memberikan izin masuk kepada tamu mamah itu," kata pak Airlangga.
Bu Sari tersenyum dengan anggukan.
''Persilahkan saja mereka masuk. Soalnya mereka itu memang tamu ibu," kata pak Airlangga menjelaskan.
__ADS_1
"Baik pak," kata pihak keamanan.
Pihak security akhirnya membukakan pintu gerbang dan mempersilahkan bu Asta dan suaminya masuk. Mereka menggunakan supir pribadi juga.
Bu Sari meminta kepada suaminya, pak Airlangga supaya bersama-sama menyambut kedatangan bu Asta dan pak Andre ke depan rumah.
Pak Airlangga menurut saja dengan permintaan istrinya itu. Mereka berjalan bersamaan berdua dengan menunjukkan keakraban.
Bu Asta dan bu Sari berpelukan. Bu Asta memperkenalkan suaminya Andre kepada pak Airlangga dan bu Sari.
Sebenarnya mereka sudah pernah bertemu tapu sudah lama sekali. Jadi bu Asta sengaja memperkenalkan pak Andre lagi supaya pak Airlangga dan bu Sari tidak lebih merasa dekat.
"Iya mas, aku yang datang. Memang sudah sangat lama sekali aku tidak berkunjung dan bersilaturahmi kesini sama mas Andre. Jadi wajar sudah lumayan lupa dengan sosok mas Andre," kata bu Asta.
"Tidak apa-apa, hal itu wajar karena kita memiliki kesibukan masing-masing yang tidak bisa ditinggalkan," kata pak Airlangga.
"Iya mas, terima kasih atas pengertiannya," kata bu Asta.
"Ayo kita masuk!, masa bicara diluar begini," kata pak Airlangga.
Mereka semua pun masuk. Bu Sari langsung menuntun kedua tamunya tersebut ke meja makan agar menikmati santapan malam yang ia sediakan.
__ADS_1
"Banyak sekali makanannya mbak? ini mbak semua yang masak?," tanya bu Asta.
"Ini mbak masakin khusus buat kamu As dan Andre juga. Ya tidak donk, mbak minta dibantu sama asisten rumah tangga untuk memasak makanan ini," kata bu Sari.
"Dari wanginya, sepertinya masakan mbak ini sangat enak," kata bu Asta.
"Pasti donk. Ya sudah, ayo kita makan. Sendok sendiri ya nasinya," kata bu Sari.
"Iya mbak," bu Asta.
Mereka berempat mulai menikmati makanan tersedia diatas meja makan. Sendok mereka saling beradu untuk mengambil nasi yang diatas piring.
Masakan bu Sari memanglah sangat sedap untuk dilahap. Dia tidak pernah kehilangan kecerdasan memasaknya dari sejak ia muda.
"Mbak, masakan mbak ini sangat enak," kata bu Asta.
"Iya donk," kata bu Sari.
Setelah mereka selesai makan malam bu Sari membawa bu Asta dan pak Andre ke ruang tamu. Bu Sari menjamu mereka dengan berbagai jenis makanan kecil.
"Betul-betul
__ADS_1