
Didalam benak Sandi, dia merasa semua pilihan yang diberikan Lisa bukanlah solusi yang tepat secara keseluruhan.
"Sayang, solusi itu hanya akan memberatkan kita kalau kita terburu-buru memilih salah satunya," kata Sandi.
"Lalu seperti apa jalan keluar yang terbaik sayang?," tanya Lisa.
"Aku rasa untuk sekarang jalan terbaiknya adalah lebih baik kita menjalani hubungan ini secara diam-diam tanpa diketahui siapapun," kata Sandi.
Lisa terdiam. Ia memikirkan jalan keluar yang diberikan Sandi untuk masalah hubungan mereka.
"Ia sudah sayang, aku setuju. aku rasa itu jalan yang terbaik untuk saat ini," kata Lisa.
"Terima kasih ya sayang untuk perhatiannya. Aku akan berusaha melakukan yang terbaik kedepannya. Aku betul-betul menyayangi kamu," kata Sandi memeluk Lisa.
"Iya sayang, sama seperti halnya kamu menyayangiku, aku juga sangat menyayangimu sayang," kata Lisa.
Tiara kembali ke balkon kamarnya usai sarapan pagi. Ia duduk disana dengan menikmati segelas teh dan angin sepoi-sepoi yang berhembus pelan. Ia melihat ke arah ponselnya. Kini sudah pukul 10:00 pagi tapi tidak ada tanda-tanda Sandi pulang.
Tiara tersenyum. Dia merasa aneh dengan pagi ini dimana ia merasa seperti sendiri. Padahal dia baru saja menikah dengan Sandi. Dia sudah biasa sebenarnya sendiri dirumahnya tanpa seorang laki-laki.
Sebenarnya Tiara berniat ingin menghubungi Sandi. Namun, ia mengurungkan niatnya karena ini masih terlalu cepat menanyakan kabar Sandi.
Disisi lain, Sandi dan Lisa kini sedang asyik berada dibalkon kamar Lisa. Lisa menyuguhkan secangkir kopi untuk Sandi. Mereka bercanda tawa ria. Berbalik dengan Tiara yang sedang bersedih hati.
"Sayang," kata Lisa.
"Iya, ada apa sayang?," tanya Sandi.
"Nyanyiin aku lagu donk. Lagu lama yang biasa kamu nyanyikan untukku," kata Lisa.
"Ok sayang. Kamu ambilkan gitar donk," kata Sandi.
"Baik sayang. Tunggu sebentar ya," kata Lisa.
Lisa mengambilkan gitar ke kamarnya. Lisa memberikan gitar itu ke tangan Sandi. Sandi mulai menyetel kunci gitar tersebut dan mulai memainkannya. Sandi menyanyikan lagu yang romantis untuk Lisa. Lisa nampak begitu sangat sumringah mendengar suara nyanyian Sandi.
Pak Airlangga sedang bingung diruang kerjanya yang berada dikamar sekarang. Hal itu terjadi karena ia baru saja menghubungi seluruh pimpinan cabang. Seluruh pimpinan cabang tersebut mengatakan bahwa tidak ada masalah pada setiap proyek yang sedang
dikerjakan. Semua berjalan dengan baik.
Pak Airlangga berfikir begitu keras kenapa Sandi pergi pada malam pertama pernikahannya. Pak Airlangga yakin ada sesuatu yang janggal dengan hal itu. Dalam keheningannya dalam berfikir, tiba-tiba muncul dalam benak pak Airlangga bahwa Sandi kemungkinan besar sedang bersama Lisa saat ini.
__ADS_1
Pak Airlangga berniat ingin menghubungi Hardi, orang kepercayaannya. Sebelum pak Airlangga menghubungi Hardi, Sandi kemudian menghubunginya. Pak Airlangga kaget. Ia mengangkat panggilan tersebut.
"Halo pah," kata Sandi.
"Halo San," kata pak Airlangga.
"Iya pah, papah lagi dimana sekarang?," tanya Sandi.
"Dirumah nak, ada apa rupanya?," tanya pak Airlangga.
"Begini pah, Sandi mau bilang kalau Sandi akan pulang nanti sore. Jadi, papah tidak perlu risau mencari Sandi. Sandi yakin, papah sangat kaget karena meninggalkan Tiara pada malam pernikahan kami," kata Sandi.
"Keyakinan kamu memang betul San. Papah sangat kaget ketika kamu meninggalkan Tiara sendiri pada malam pertama pernikahan kalian. Sekarang papah ingin bertanya kepadamu. Apa alasan kamu meninggalkan Tiara sendiri?," tanya pak Airlangga.
"Aku sedang memulai proyek kecil-kecilan pah bersama temanku," kata Sandi.
"Proyek kecil-kecilan?," tanya pak Airlangga sedikit bingung.
"Ia pah, proyek kecil-kecilan ini merupakan usaha iseng-iseng yang aku ingin rintis bersama temanku," kata Sandi.
"Nak, papah rasa kamu tidak perlu memulai proyek diluar perusahaan kita untuk saat ini. Kamu sebaiknya menghabiskan waktu, pikiran, dan tenagamu untuk proyek kita ini," kata pak Airlangga.
"Iya pah, ini cuma kecil-kecilan kok pah. Sandi yakin tidak akan mengganggu kesibukan Sandi dalam mengelola usaha keluarga kita pah," kata Sandi.
"Ia pah, terima kasih ya pah atas dukungan papah," kata Sandi.
"Ia nak, sama-sama," kata Sandi.
"Ok pah, Sandi tutup ya teleponnya," kata Sandi.
"Iya nak," kata pak Airlangga.
Kini pikiran pak Airlangga sedikit tenang setelah mendengar penjelasan langsung dari Sandi. Ia tidak lagi mencoba memperdalam kebenaran sebenarnya.
"Untung saja kamu langsung menelpon papah kamu sayang. Jadi papah kamu tidak akan curiga dengan keberadaanmu yang sedang bersamaku saat ini," kata Lisa.
"Iya sayang, kamu benar. Terima kasih untuk solusi yang kamu berikan," kata Sandi.
"Sama-sama sayang," kata Lisa tersenyum.
Tiara sedang membaca beberapa buku kuliah untuk mengisi kekosongan waktunya. Tiara menyadari kini sudah siang hari. Namun belum ada tanda-tanda kedatangan Sandi. Tiara kemudian mencoba untuk untuk menghubungi Sandi.
__ADS_1
"Panggilan dari Tiara sayang," kata Sandi.
"Angkat saja sayang!," kata Tiara.
"Kamu tidak apa-apa?," tanya Sandi.
"Tidak apa-apa kok sayang, angkat saja!," kata Lisa.
"Halo," kata Sandi.
"Halo mas, mas gimana keadaannya?," tanya Tiara.
"Aku baik-baik saja," kata Sandi dengan nada datar. Sandi memperhatikan betul nada bicara dan setiap kata yang ia ucapkan karena Lisa memandang wajahnya begitu fokus tanpa henti.
"Syukurlah mas. Bagaimana dengan urusan pekerjaan mas? apakah sudah selesai?," tanya Tiara.
"Sudah Tir. Sekarang semuanya sudah membaik," kata Sandi.
"Baguslah mas, Tiara sangat senang mendengarnya," kata Tiara.
"Iya Tir," kata Sandi.
"Jadi mas akan pulang ke rumah kapan?," tanya Tiara.
"Sore ini kemungkinan besar aku akan pulang kalau tidak ada halangan," kata Sandi.
"Benarkah mas? aku senang mas akan pulang sore ini," kata Tiara.
"Begitulah, urusanku cepat untuk diselesaikan," kata Sandi.
"Kan mas pulang sore ini, mas mau dimasakin apa untuk makan malam?," tanya Tiara.
Mendengar pertanyaan Tiara tersebut, Sandi menoreh ke arah Lisa. Nampak wajah Lisa menjadi cemberut. Sandi menjadi terdiam sesaat kebingungan.
"Tidak usah repot-repot. Aku akan makan apa yang disediakan oleh bagian rumah tangga," kata Sandi. Tiara sedikit bersedih, padahal dia ingin sekali memberikan perhatian kepada Sandi dan Sandi merasakan perhatian itu.
"Ya sudah mas. Tidak apa-apa. Hati-hati dijalan ya mas kalau pulang nanti sore," kata Tiara.
"Iya, tunggu aku dirumah!," kata Sandi.
"Baik mas," kata Tiara.
__ADS_1
Komunikasi berakhir. Lisa memandang Sandi. Namun ketika mematikan sambungan teleponnya dengan Tiara Sandi sempat menuliskan pesan bernada "Masakan ayam goreng pedas untuk makan malamku nanti". Pesan itu ditulis Sandi untuk menghargai perhatian Tiara. Walaupun belum ada rasa cinta dalam dirinya, Sandi tidak mau menjadi acuh tak acuh kepada Tiara.