
"Apa bukti yang kuat untuk mendukung perkataanmu itu Tir?," tanya Fira meminta keyakinan.
"Baiklah jika kau memaksa," kata Tiara. Tiara membuka tasnya dan mengambil ponsel.
"Untuk apa ponsel itu?," tanya Fira.
"Kau membutuhkan keyakinan kan?," kata Tiara.
"Ia memang aku membutuhkan keyakinan, tapi kenapa kau mengeluarkan ponsel genggam milikmu?," tanya Fira.
"Bukti dari perkataaanku ada diponsel ini," kata Tiara. Fira bingung.
Tiara membuka galeri foto pada ponselnya. Dia mencari foto pernikahannya dengan Sandi. Ia ingin menunjukkan itu kepada Fira agar tidak ada kesalah pahaman antara dia dengan Fira.
Tiara menemukan foto pernikahannya dengan Sandi, ia kemudian menunjukkan foto itu kepada Fira. Usai melihat foto tersebut, mata Fira terbelalak, jantungnya serasa hampir copot.
"Apa ini?, ini seriusan kamu?," tanya Fira.
"Ia Fir, siapa lagi?," kata Tiara.
"Tidak mungkin," kata Fira. Ia mengambil ponsel Tiara dari tangannya. Fira kemudian melihat dengan seksama foto itu. Berulang kali dengan tatapan serius Fira memandangi foto itu.
Fira menemukan jawaban, itu memang benar-benar sahabatnya, Tiara. Akan tetapi ada hal yang membuat Fira bertanya-tanya. Pasalnya, laki-laki yang ada difoto pernikahan itu sangat asing. Fira tidak pernah mengenal sosok itu sebelumnya.
"Kapan kamu menikah Tir?," tanya Fira menanti jawaban Tiara.
"Aku menikah pada hari sabtu kemarin Fir," kata Tiara.
"Oh, jadi itu alasan kenapa kamu tidak masuk kuliah beberapa hari ini?," tanya Fira.
"Ia Fir, kamu benar," kata Tiara.
"Jadi, kamu berbohong donk saat kamu bilang kamu ada urusan keluarga ke luar kota," kata Fira. Tiara hanya tersenyum tanda memberi jawaban.
"Sebentar, siapa laki-laki yang menikah dengan kamu ini Tir? sepertinya sangat asing. Dia juga nampaknya lebih dewasa dari kita," kata Fira.
"Namanya mas Sandi," kata Tiara.
"Sandi? anak mana?," tanya Fira.
"Mas Sandi orang Jakarta sini juga Fir," kata Tiara.
"Anak konglomerat pastinya," kata Fira.
"Konglomerat atau tidaknya, aku rasa aku tidak perlu memberi jawaban," kata Tiara tersenyum diselingi tawa kecil.
"Melihat ekspresi wajahmu, nampaknya betul kalau suamimu itu seorang konglomerat," kata Fira.
"Ya begitulah," kata Tiara
__ADS_1
"Jadi, apakah itu alasan kenapa kau mau menikah dengannya?," tanya Fira. Pertanyaan itu malah membuat Tiara merasa sedikit kesal.
"Tentu tidak! bukan itu alasannya. Aku bukan perempuan matre," kata Tiara dengan ekspresi raut wajah masam.
"Maaf, aku hanya bergurau," kata Fira.
"Baiklah, aku paham," kata Tiara.
"Jadi apa alasan kau menikah dengan laki-laki itu?," tanya Fira kembali.
"Aku dijodohkan oleh orang tuaku dengannya. Ayahnya dan ayahku sudah lama bersahabat. Jadi, untuk memperkuat persahabatan itu, mereka menjodohkan kami. Dengan begitu mereka akan menjadi besan, artinya mereka keluarga kan," kata Tiara.
"Kenapa kamu menerima begitu saja? memangnya kamu sudah mengenal dia sebelumnya?," tanya Fira.
"Aku belum pernah mengenalnya sebelumnya," kata Tiara.
"Lalu kenapa kamu memutuskan untuk mengiyakan?," tanya Fira.
"Aku dipaksa ayahku. Aku tidak bisa menolak. Keinginan ayahku sudah sangat besar akan hal itu," kata Tiara.
"Aku sedih mendengar apa yang kamu alami Tir," kata Fira memegang kedua tangan sahabatnya itu.
"Terima kasih Fir. Tapi sebenarnya, sejauh ini aku merasa nyaman dengan suamiku ini," kata Tiara.
"Benarkah? mengapa begitu?," tanya Fira.
"Dia sangat baik padaku dan juga bersikap lembut," kata Tiara.
"Mudah-mudahan saja dia bersikap seperti itu terus kepadaku," kata Tiara.
"Amin, mudah-mudahan ya Tir," kata Fira.
"Bagaimana Fir? apa kamu sekarang sudah merasa lega?," tanya Tiara.
"Soal apa?," tanya Fira.
"Soal Farhan," kata Tiara.
"Iya, aku percaya sama kamu Tir. Aku minta maaf ya karena sempat tidak percaya kepadamu," kata Fira.
"Iya, tidak apa-apa," kata Tiara. Mereka berdua kemudian berpelukan hangat.
"Jam kedua sepertinya akan dimulai. Ayo kita masuk kelas!," kata Tiara sembari melihat jam tangannya.
Sandi kini duduk dikursi kerja miliknya. Ia sudah mulai bekerja dengan memeriksa beberapa berkas penting.
Tidak lama sekretarisnya yang bernama Nanda datang membawa sesuatu. Sebelum masuk, Nanda mengetuk pintu terlebih dahulu hingga Sandi mempersilahkan.
"Ada apa Nan?," tanya Sandi.
__ADS_1
"Ini pak, saya disuruh pak Airlangga untuk menyerahkan ini," kata Nanda menyerahkan berkas yang dititipkan oleh pak Airlangga.
"Apa isinya?," tanya Sandi.
"Maaf pak, saya tidak tahu. Saya tidak berani membukanya," kata Nanda.
"Baiklah. Kamu boleh kembali bekerja,'' kata Sandi.
"Baik pak," kata Nanda. Nanda kembali bekerja dan meninggalkan Sandi diruang kerjanya sendiri.
Sandi membuka amplop berwarna coklat yang diberikan oleh Nanda tadi. Ia kemudian melihat isinya. Ternyata itu adalah daftar tempat untuk berbulan madu dan lengkap dengan browsur serta penyedia layanan jasa akomodasi.
Sandi lalu berfikir. Sudah pasti itu diberikan oleh papahnya untuk dirinya dan Tiara. Sandi tidak mau ambil pusing dengan hal itu, ia akan melaksanakan bulan madu itu sesuai yang diharapkan oleh papahnya. Namun untuk tempat dan waktu, dia harus berdiskusi dahulu dengan Tiara agar menemukan waktu yang terbaik tanpa harus mengganggu jadwal masing-masing.
Aku akan mendiskusikan hal ini dengan Tiara nanti dirumah saja. Batin Sandi.
Sandi melanjutkan kembali aktifitas kerjanya dikantor.
Jadwal kuliah Tiara untuk hari ini sudah selesai. Tiara melihat ke arah jam tangannya, jarum jam menunjukkan pukul 12:00 siang. Dia kemudian berinisiatif untuk pulang ke rumah. Dia ingin melepaskan rindu dengan ayah dan ibunya serta adik laki-lakinya.
"Kamu habis ini mau kemana Tir,?" tanya Farhan.
"Aku mau keluar nih sama Fira untuk urusan sesuatu," kata Tiara menatap wajah Fira dengan kedipan mata.
"Iya, iya Han, kami ada urusan diluar. Biasa, masalah kewanitaan," kata Fira.
"Oh begitu, baiklah. Aku kira kamu mau pulang Tir. Kalau mau pulang, aku mau antar kamu, gitu maksudnya," kata Farhan.
''Terima kasih sebelumnya Han," kata Tiara. Farhan tersenyum manis.
Mereka bertiga kemudian berjalan ke parkiran bersama-sama. Tidak lama, seorang laki-laki seumuran mereka datang menghampiri. Namanya Amran, dia adalah sahabat Farhan yang kini bekerja dicoffee shop milik Farhan. Amran juga kuliah di universitas yang sama dengan Farhan, hanya beda jurusan saja.
"Jam kuliah kalian ternyata sudah selesai juga," kata Amran.
"Ia nih Ran," kata Tiara.
"Jadi kalian berdua langsung mau balik," tanya Amran kepada Tiara dan Fira.
"Gak kok Ran, kami masih ada urusan sebentar keluar," kata Tiara.
"Iya Ran," kata Fira.
"Baiklah, aku dengan Farhan mau langsung ke coffee shop. Soalnya aku harus kerja," kata Amran.
"Iya Ran, hati-hati dijalan ya!," kata Tiara.
"Baik Tir," kata Amran.
"Kami duluan ya, bye-bye," kata Farhan.
__ADS_1
"Bye-bye," kata Tiara dan Fira.