Pernikahan Yang Dipaksakan

Pernikahan Yang Dipaksakan
Bab 107


__ADS_3

"Ia sudah, ibu akan kirimkan alamat klinik itu ke what's app kamu," kata bu Lilis.


"Baik bu, sekali lagi Sandi minta maaf," kata Sandi.


"Sebaiknya kamu minta maaf kepada istri kamu! sebab kamu lalai dalam menjaganya," kata bu Lilis.


"Baik bu," kata Sandi.


Bu Lilis menutup telepon dengan kasar. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun saat mengakhiri teleponnya.


"Ada apa sayang? kamu kenapa terlihat panik seperti itu?," tanya Lisa.


"Istriku pingsan tadi saat hendak membeli obat diapotek. Sekarang dia dirawat diklinik. Aku harus kesana sekarang. Ibu mertuaku sudah mengomeliku. Dia betul-betul sangat kesal," kata Sandi.


"Lalu bagaimana dengan rencana kita hari ini?," tanya Lisa.


Pertanyaan tersebut nampaknya memancing kemarahan Sandi.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? tentu kita batalkan! aku harus menemui istriku sekarang," kata Sandi.


"Tapi sayang, masa kamu meninggalkan aku sendiri?," kata Lisa.

__ADS_1


"Kamu bisa mengerti tidak sih? saat ini Tiara sedang dirawat diklinik. Kalau ibu mertuaku sampai mengadu pada mamah dan papahku, aku bisa dimarahi habis-habisan. Dan akhirnya, mereka pasti akan bertanya-tanya kenapa aku meninggalkan Tiara," kata Sandi dengan emosional.


Lisa hanya terdiam. Baru kali ini ia melihat Sandi marah.


"Aku pergi sekarang," kata Sandi pergi dengan perasaan acuh kepada Lisa.


Lisa merasa kesal dengan sikap Sandi tadi. Sudah dua tahun lebih mereka menjalani hubungan tapi baru tadi Sandi membentak dan marah-marah kepadanya.


"Baru kali ini Sandi marah-marah kepadaku, sebelumnya tidak pernah. Ini semua gara-gara istrinya itu. Sandi lebih memilih Tiara dari pada aku. Palingan istrinya itu cuma kelelahan saja makanya pingsan. Tunggu, jangan-jangan Sandi sudah mulai menyukai istrinya itu. Betul-betul kacau kalau memang itu kebenarannya," guman Tiara menerka-nerka.


Sandi memilih menaiki ojek agar cepat sampai diklinik tempat Tiara dirawat. Sandi meminta tukang ojek agar melaju dengan cepat.


Sekitar dua puluh menit mengendarai sepeda motor Sandi sampai diklinik. Ia segera membayar tukang ojek tersebut dengan pecahan uang seratus ribu.


Sandi memasuki klinik, bertanya kepada perawat.


"Mbak, saya mau tanya sesuatu," kata Sandi.


"Oh iya mas, silahkan!," kata perawat.


"Pasien bernama Astiara Steviana dirawat dikamar mana ya?," tanya perawat.

__ADS_1


"Oh itu pasien yang saya tanggung jawabi mas, saya juga akan melihat keadaan pasien yang bernama Astiara Steviana," kata perawat menjelaskan.


"Wah syukurlah mbak," kata Sandi.


"Mari mas!," kata perawat menuntun Sandi menuju kamar rawat Tiara.


Perawat dan Sandi berjalan bersama menuju kamar rawat Tiara. Kini mereka sudah sampai. Tiara belum siuman juga.


Sandi segera menghampiri Tiara diranjangnya. Ia melihat istrinya itu tidak berdaya tertidur diatas ranjang.


Dia memegang tangan Tiara dan mengusap wajah Tiara dengan lembut.


"Kenapa kamu bisa pingsan begini? apa yang terjadi sebenarnya dengan kamu?," gumam Sandi bertanya-tanya.


Perawat nampak memeriksa keadaan Tiara dan juga memeriksa selang impus yang terpasang dilengan Tiara. Apakah semuanya baik-baik saja?.


"Bagaimana keadaan istri saya mbak?," tanya Sandi.


"Oh mas suami dari pasien ternyata? untuk lebih jelasnya nanti saya akan segera panggilkan dokter Risma. Beliau yang tahu diagnosa pasien," kata perawat.


"Baik mbak, tolong segera panggilkan," kata Sandi.

__ADS_1


"Baik mas, saya akan panggilkan. Mohon mas sabar menunggu!," kata perawat


__ADS_2