
"Baik, bawa kan nasi bungkus 1 ya untuk kakak," kata Arief kepada Asta.
"Ok kak," kata Asta.
Asta dan Sari pergi ke kantin rumah sakit dan hanya Arief dan Anita berdua yang berada dikamar rawat tersebut.
"Mas, aku punya permintaan untuk kamu," kata Anita.
"Apa Nit?,"
"Aku tadi malam bermimpi bertemu dengan almarhum papah mas dan papah ingin mengajakku ke suatu tempat yang jauh," kata Nita.
"Lalu,apa yang salah dengan mimpi itu," tanya Arief.
"Menurut beberapa tafsir mimpi yang aku baca itu berarti hidupku tidak akan lama lagi mas," kata Nita.
"Hust, jangan berbicara seperti itu Nit, sangat tidak baik untuk didengar," kata Arief menyela istrinya itu.
"Maafin aku mas, aku terlalu berfikir berlebihan karena keadaanku yang semakin lemah," kata Anita.
__ADS_1
"Dokter bilang kamu akan segera membaik asal kamu istirahat yang cukup, tidak stress dan minum obat secara teratur," kata Arief memberikan semangat.
Anita tersenyum.
"Terima kasih ya mas selama pernikahan kita kamu sudah mencintai dan menyayangiku dengan tulus," kata Anita.
"Iya Nit, kamu tidak perlu mengucapkan itu," kata Arief.
Tidak lama setelah Anita mengucapkan terima kasihnya kepada Arief dia mengalami sesak nafas. Arief yang sangat khawatir segera memanggil dokter untuk memeriksa istrinya.
Dia berlari mencari dokter yang menangani istrinya dan mereka bertemu. Arief segera menuntun sang dokter ke kamar rawat. Sesampainya disana, Arief harus menerima kepahitan dan duka yang mendalam.
Karena istri sekaligus ibu dari anaknya sudah tidak bernyawa. Dokter pun minta maaf karena tidak bisa menolong istrinya. Teriak tangis Arief memenuhi ruangan tersebut.
Mereka pun mempercepat langkah kaki mereka menuju kamar rawat Anita. Mereka memasuki kamar tersebut dengan menerobos kerumunan.
Asta dan Sari kaget melihat Arief yang menangis histeris.
"Kakak kenapa menangis begini?," tanya Asta yang juga mulai menitikkan air matanya.
__ADS_1
"Kak Anita sudah pergi meninggalkan kita untuk selamanya As," kata Arief dengan isak tangis yang tiada henti.
"Apa kak?," Asta pun menangis dengan histeris setelah mengetahui bahwa kakak iparnya sudah tidak bernyawa lagi.
Sari pun ikut menangis dengan histeris setelah mendengar kematian sahabat dekatnya tersebut.
Mereka mengeluarkan banyak penyesalan dan kata-kata perpisahan untuk Anita.
Berita kematian Anita segera sampai ke telinga Faris dan Rika. Mereka berdua segera pergi melayat ke kediaman pribadi Anita dan suaminya.
Disana, Rika juga ikut menangis dengan histeris dan Faris juga beberapa kali menitikkan air mata.
Faris dan Rika juga mengantarkan Anita sampai ke peristirahatan terakhirnya. Mereka juga menaburkan bunga diatas makam Anita.
Setelah satu bulan kematian Anita kesehatan mental Arief menunjukkan penurunan yang sangat drastis. Ia juga berhenti bekerja diperusahaan keluarga.
Faris meminta Asta untuk mengelola perusahaan keluarga mereka. Asta pun menurut.
Asta juga yang sekarang bertanggung jawab untuk merawat Lia, ditengah kesehatan mental kakaknya yang belum sehat dan masih sering mengurung diri bahkan kurang memperhatikan Lia.
__ADS_1
Asta kemudian mencarikan seorang pengasuh bayi untuk Lia. Untuk memulihkan kesehatan mental kakaknya, Asta melakukan berbagai upaya, mulai dari ahli agama, psikolog, dan obat-obatan yang disarankan untuk memulihkan kondisi psikologi seseorang.
Namun semuanya terasa sia-sia, kesehatan mental kakaknya tidak menunjukkan perubahan yang positif, yang ada semakin buruk.