
"Baru saja sayang," kata Sandi.
"Ini mas kopinya!," Tiara meletakkan kopi panas tersebut diatas meja.
Sandi terbangun dari tidurnya. Sambil menunggu kopi dingin, Sandi membersihkan dirinya sedangkan Tiara menyiapkan pakaian Sandi yang akan dikenakannya ke kantor.
Sandi keluar dari kamar mandi. Ia melanjutkan langkah kakinya ke ruang ganti. Tiara duduk dikursi sambil memainkan ponselnya.
Sandi keluar dari ruang ganti dan duduk disamping Tiara.
"Sayang, aku minta maaf ya," kata Sandi.
Tiara kaget mendengar Sandi mengucapkan permintaan maaf kepada dirinya.
"Kenapa mas minta maaf kepadaku? mas kan tidak ada salah," kata Tiara.
"Aku minta maaf untuk kejadian tadi malam. Aku tahu kamu pasti sangat khawatir karena aku terlambat pulang. Terlebih lagi, telepon kamu tidak ku angkat," kata Sandi.
"Tidak apa-apa mas, santai saja. Tapi kalau Tiara boleh tahu, kenapa telepon Tiara tidak mas angkat?," tanya Tiara.
"Aku sedang berbincang-bincang dengan rekan kerjaku. Kami berbincang-bincang tentang perihal masalah bisnis. Aku takut jika mengangkat telepon darimu akan membuat pembahasan kami terpotong," Sandi membuat alasan untuk meyakini Tiara.
"Kalau itu alasannya, tidak apa-apa mas," kata Tiara tanpa memberikan sanggahan.
"Iya sayang, terima kasih ya untuk pengertiannya," Sandi mengelus rambut Tiara.
__ADS_1
"Iya mas," Tiara mengangguk tersenyum.
Selanjutnya, mereka sarapan pagi bersama dengan pak Airlangga dan bu Sari.
Kali Ini, Tiara meminta supaya diantar oleh supir pribadi. Soalnya Fira mengirim pesan bahwa sepeda motornya sedang dipakai oleh kakak sepupunya bekerja.
Oleh karenanya, Firs meminta bantuan kepada Tiara untuk bersedia menjemputnya ke rumah. Fira ingin berangkat ke kampus bersama Tiara pagi ini.
Sandi pun mengiyakan permintaan istri tercintanya itu.
Tiara sudah berada dalam perjalanan.
"Non? kita langsung ke kampus atau ada tempat lain yang akan dikunjungi?," supir bertanya.
"Saya harus menjemput salah satu teman kuliah saya mas," kata Tiara.
"Saya akan mengarahkan mas," kata Tiara.
"Baik non," kata supir.
Sandi saat ini berada dikantor. Dia bekerja seperti biasa. Sekretaris pribadi Sandi masuk ke kantor. Ia mengantarkan beberapa berkas penting yang harus ditanda tangani oleh Sandi.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, sekretaris Sandi kembali ke tempatnya.
Sandi kemudian mengambil ponselnya dari saku celana. Ia ingin menghubungi Tiara. Ia ingin meminta Tiara untuk datang ke kantornya sepulang ngampus.
__ADS_1
"Halo sayang," kata Sandi.
"Iya mas," kata Tiara.
"Kamu sudah sampai kampus?," tanya Sandi.
"Belum mas, aku sedang berada dirumah temanku yang aku ceritakan ke mas tadi pagi," kata Tiara.
"Oh begitu ya," kata Sandi.
"Iya mas, memangnya ada apa mas?," tanya Tiara.
''Aku cuma mau bilang supaya kamu datang ke kantor mas kalau kamu sudah selesai kuliahnya," kata Sandi.
"Tumben mas ajak aku ke kantor mas," kata Tiara yang merasa bingung.
"Kamu tinggal datang saja sayang, kamu akan tahu nanti kebenarannya kalau kamu sudah disini," kata Sandi.
"Baik mas, nanti aku akan langsung kesana," kata Tiara.
"Ok sayang, aku tunggu ya," kata Sandi.
"Iya mas," kata Tiara.
"Mas Sandi mau ajak aku ngapain ya dikantor? apa mungkin mas Sandi mau melakukan hal itu dikantor?," gumam Tiara merasa geli.
__ADS_1
Fira pun keluar dari rumah. Tiara segera membukakan pintu untuknya. Fira pun memasuki mobil.
"Kenapa kamu tidak membolehkan aku masuk ke rumah kamu?," Tiara merasa kesal karena Fira menghalangi dirinya masuk tadi.