Pernikahan Yang Dipaksakan

Pernikahan Yang Dipaksakan
Bab 126


__ADS_3

Tidak ingin terus memikirkan pekerjaannya yang menumpuk, Sandi memutuskan untuk tidur. Ia tidur disamping Tiara.


Farhan dan Fira masih sibuk dengan tugas mereka. Mereka saling bertukar pikiran untuk menghasilkan gagasan yang baik.


Sore pun tiba, Sandi dan Tiara yang sudah terbangun dari tidurnya nampak sedang bersiap-siap.


Mereka akan pergi ke pantai yang untuk menghabiskan waktu liburan bulan madu mereka disana.


Itu adalah keinginan Sandi. Ia ingin menikmati pemandangan pantai disore hari. Ia juga ingin melihat matahari yang akan terbenam disana.


Mereka sudah keluar dari pintu kamar dan akan turun ke bawah. Mobil yang menjemput mereka juga sudah menunggu.


Sesampainya dipantai, Sandi segera mengajak Tiara untuk bermain air dipinggiran pantai. Sesekali mereka juga menyirami air laut tersebut satu sama lain.


Sandi mengajak Tiara untuk keluar dari dalam air. Dia ingin Tiara dan dirinya memainkan bola voly pantai.


"Kamu bisa tidak bermain bola voly pantai ini?," tanya Sandi.


"Dibilang bisa sebenarnya sih tidak mas. Tapi aku akan coba untuk bermain bola voly ini," kata Tiara.


"Baiklah, ayo kita mainkan!," kata Sandi.


"Ayo mas!," kata Tiara.

__ADS_1


Mereka memainkan permainan bola voly itu. Nampak seru melihatnya karena Tiara beberapa kali tidak bisa memainkan permainan bola voly tersebut.


Beberapa kali bola voly tersebut mengenai wajah dan badannya tapu ia tidak merasa kesakitan karena menang Sandi memukul bola tersebut dengan pelan.


Permainan itu membuat kedekatan Tiara dan Sandi semakin melekat. Mereka menunjukkan kemesraan beberapa kali.


Setelah melihat Tiara seperti sudah mulai kelelahan, Sandi menghentikan permainan bola voly tersebut. Ia takut istrinya menjadi drop karena kelelahan.


Sandi mengajak Tiara untuk melukis diatas pasir.


"Ketika aku kecil dulu, aku sangat pandai melukis diatas pasir," kata Sandi.


"Serius mas? aku jadi pingin lihat hasilnya," kata Tiara.


"Baiklah, aku akan melukis wajah kita saja. Bagaimana?," kata Sandi.


"Pasti," kata Sandi.


Ia mulai melukis wajah Tiara terlebih dahulu. Ia memperhatikan wajah Tiara dengan seksama. Mulai dari mata, hidung, dan bibir.


Kemudian ia melukis dirinya dengan ingatan. Ia mengingat dengan keras bagaimana bentuk wajahnya, mulai dari hidung, mata dan bibir.


Sandi hanya membutuhkan waktu dua puluh menit untuk membuat lukisan wajahnya dan Tiara.

__ADS_1


Hasilnya cukup mengejutkan, walau tidak begitu mirip tapi lukisan tangan Sandi yang berada diatas pasir betul-betul indah untuk dipandang.


Tiara sampai-sampai merasa terkesan.


"Bagaimana hasilnya Tir? bagus tidak?," tanya Sandi.


"Bagus sekali mas, betul-betul indah untuk dipandang dan dilihat," kata Tiara.


"Walaupun tidak mirip dengan aslinya, tapi paling tidak lukisan yang ku buat ini indah dan bagus untuk dipandang," kata Sandi mengakui kekurangan.


"Hehehe, tidak apa-apa mas, ini sudah sangat bagus. Aku terkesan dengan lukisan yang mas buat ini," kata Tiara.


"Benarkah? baguslah kalau begitu. Tidak sia-sia aku mencurahkan kreativitasku," kata Sandi membuat gurauan.


"Mas, bisa saja," kata Tiara.


"Hehehe," kata Sandi.


Tiara berdiri seperti hendak mengambil sesuatu.


"Kamu mau kemana?," tanya Sandi.


"Aku mau mengambil ponsel mas. Aku ingin memotret karya mas ini dan kemudian mengunggahnya diakun sosial media milikku," kata Tiara.

__ADS_1


"Oh begitu, baiklah. Terserah kamu saja!," kata Sandi.


Tiara melanjutkan langkahnya.


__ADS_2