
Sandi juga ingin berfikir logis, bahwa Tiara juga korban dalam perjodohan mereka. Kini matahari telah menyingsing dari barat, menandakan sore hari tiba. Sandi berniat ingin pulang.
''Sayang, sudah sore nih, aku pulang ya? supaya orang rumah tidak kecarian,'' kata Sandi.
"Ya sudah tidak apa-apa sayang. Memang sebaiknya kamu harus pulang sekarang supaya mereka tidak curiga sama kamu," kata Tiara.
"Ok sayang. Terima kasih ya sayang untuk perhatian dan pengertian kamu," kata Sandi sembari memegang tangan Lisa.
"Iya sayang sama-sama. Sudah seharusnya aku mengerti kamu dan tidak menjadi seseorang yang egois,'' kata Lisa. Sandi tersenyum dan kemudian memeluk Lisa dengan erat. Lisa pun membalas pelukan hangat itu.
Sandi meninggalkan rumah Lisa. Lisa mengantarkan Sandi sampai mobilnya. Sampai Lisa melihat Sandi meninggalkan rumahnya.
Diruang tamu rumah Tiara bu Lilis nampak gelisah karena memikirkan Tiara. Sepertinya bu Lilis belum terbiasa dengan ketidak beradaan Tiara disampingnya. Bu Lilis bukan hanya ingin tahu kabar putri sulungnya itu, tetapi ia juga ingin tahu bagaimana Tiara melewati malam pertama pernikahannya dengan Sandi.
Bu Lilis mencari ponselnya. Akan tetapi ia lupa dimana meletakkan ponsel itu. Bu Lilis terus mencari hingga ia menemukannya. Ponsel itu ditemukan bu Lilis diatas meja kamar tidur.
Bu Lilis menekan tombol panggilan. Namun sayang panggilan itu tidak diangkat oleh Tiara.
Hal itu membuat bu Lilis sedikit kesal.
Tiara sedang nampak sibuk didapur bersama asisten rumah tangga yang membantunya. Itulah alasan kenapa dia tidak mengangkat panggilan dari ibunya. Tiara meninggalkan ponselnya dikamar dalam keadaan sedang terhubung dengan charger.
Tiara sangat bersemangat. Ia nampak fokus dan berhati-hati dalam memasak makanan yang akan dihidangkan untuk suaminya. Tiara ingin masakan itu memiliki cita rasa yang nikmat dilidah Sandi nantinya.
Masakan Tiara tinggal menunggu hingga matang. Tiara berniat ingin membersihkan diri dulu sebelum kedatangan Sandi.
"Mbak, tolong diperhatikan ya masakannya. Soalnya tidak lama lagi masakan itu akan matang mbak. Saya mau kembali ke kamar dulu, saya ingin membersihkan diri," kata Tiara memberikan pesan kepada asisten rumah tangga.
"Baik nona muda, kami akan memperhatikan masakannya," kata asisten rumah tangga. Tiara tersenyum. Tiara meninggalkan dapur dan berjalan menuju kamar.
"Mau kemana mah,pah?," tanya Tiara saat berpapasan dengan mertuanya diruang tengah yang nampak menggunakan pakaian formal.
"Oh, kami mau ada urusan ke tempat rekan bisnis papahmu," kata bu Sari.
__ADS_1
"Oh, iya deh mah," kata Tiara.
"Iya sayang, kami kemungkinan akan pulang agak sedikit larut malam nanti. Jadi kamu dengan Sandi tidak perlu menunggu kami ya nak," kata bu Sari.
"Iya mah, hati-hati dijalan ya mah,pah," kata Tiara.
"Iya nak, kami pergi dulu ya," kata bu Sari. Bu Sari dan pak Airlangga meninggalkan Tiara. Tiara kembali berjalan menuju kamarnya.
Sebelum Tiara pergi berbasuh diri dikamar mandi, ia terlebih dahulu mengecek ponselnya.
Ia sedikit kaget karena ada panggilan masuk yang tidak ia jawab. Panggilan itu adalah panggilan dari ibunya, bu Lilis.
Haduh, panggilan dari ibu lagi. Ibu mau bilang apa ya? apa ibu mau tanya tentang aktivitasku dengan mas Sandi ya? ah, aku tidak boleh berfikir terlalu berlebihan begitu. Mungkin saja ibu hanya mau tanya kabar atau mungkin tanya-tanya soal bagaimana adaptasiku disini. Batin Tiara.
Lebih baik aku hubungi balik ibu supaya lebih jelas kenapa ibu menghubungiku?.
"Halo Tir," kata bu Lilis mengangkat panggilan dari Tiara.
"Kenapa panggilan ibu tadi tidak kamu angkat nak?," tanya bu Lilis.
"Maaf bu, aku tadi sedang sibuk mempersiapkan makanan untuk makan malam nanti bu," kata Tiara.
"Oh, kamu yang memasak disana ya? setahu ibu dirumah bu Sari kan ada asisten rumah tangga nak, bahkan lebih dari satu orang," kata bu Lilis.
"Iya bu, memang aku yang memasak tetapi dibantu oleh asisten rumah tangga yang ada disini juga bu. Mamah mertuaku saja ikut ambil bagian juga dalam memasak biasanya bu," kata Tiara.
"Iya nak, ibu paham. Ibu menghubungi kamu karena ibu rindu sama kamu. Walaupun baru beberapa hari tapi rasanya sudah sangat lama. Mungkin karena ini pertama kalinya kamu jauh dari ibu," kata bu Lilis.
"Iya bu, Tiara paham. Aku juga merindukan ibu, bapak, dan adik," kata Tiara tersenyum.
"Bagaimana kamu disana Tiara? apakah kamu betah berada disana? apakah Sandi dan keluarganya memperlakukan kamu dengan baik?," tanya bu Lilis.
"Aku sangat betah berada disini bu. Suasananya sama seperti dirumah meskipun aku baru beberapa hari disini. Aku merasa nyaman disini bu. Perlakuan mas Sandi dan mertuaku sangat baik kepadaku bu. Ibu tidak perlu khawatir akan hal itu," kata Tiara.
__ADS_1
"Syukurlah, ibu sangat senang mendengarnya. Lalu, bagaimana dengan malam pergantian mu?," tanya bu Lilis tanpa sungkan.
"Apaan sih bu, kenapa ibu tanya sampai kesitu? Tiara tidak mau menjawabnya," kata Tiara sedikit menunjukkan kekesalannya.
"Iya deh, ibu minta maaf. Ibukan hanya sedikit penasaran. Ibu bertanya seperti ini karena sudah tidak sabar ingin menimang cucu. Jadi ibu minta cepat-cepat diusahakan," kata bu Lilis.
"Aku baru saja menikah bu. Ibu bicaranya sudah melantur kemana-mana," kata Tiara.
"Hmm, terserah deh. Mudah-mudahan kamu baik-baik ya nak disana. Hubungan rumah tanggamu dengan Sandi semakin baik. Selalulah bersikap baik kepada mertuamu," kata
bu Lilis.
"Amin bu. Tiara akan terus mengingat nasihat dan pesan ibu," kata Tiara.
"Iya nak, semoga kamu bisa menerapkan nasihat-nasihat ibu itu ya. Ya sudah ya Tiara, ibu mau tutup teleponnya, soalnya ibu mau masak untuk makan malam. Ibu juga baru pulang dari toko, belum sempat ngapa-ngapain," kata bu Lilis.
"Baik bu," kata Tiara. Usai menutup sambungan telepon dengan ibunya, Tiara kembali menghubungkan ponselnya ke charger dan pergi ke kamar mandi.
Suara deruman mobil kini terdengar jelas dihalaman rumah. Itu adalah suara deruman mobil milik Sandi yang kini sudah sampai rumah. Ia memasuki rumah, namun i tidak melihat Tiara dan orang tuanya diruang tengah.
"mbak, kemana papah,mamah dan nona muda?," tanya Sandi kepada salah satu asisten rumah tangga.
"Tuan Airlangga dan nyonya sedang ada urusan keluar tuan muda. Kemungkinan pulang agak sedikit larut malam tuan. Kalau nona muda sedang dikamar," kata asisten rumah tangga.
"Apa nona muda dari pagi dikamar terus?," tanya Sandi.
"Tidak kok tuan. Nona baru saja selesai menyiapkan makan malam bersama kami untuk tuan muda," kata asisten rumah tangga.
"Baiklah, mbak bisa kembali kerja," kata Sandi.
"Baik tuan," kata asisten rumah tangga.
Usai percakapannya dengan asisten rumah tangga, Sandi kemudian berjalan kearah kamar tidurnya dengan Tiara.
__ADS_1