Pernikahan Yang Dipaksakan

Pernikahan Yang Dipaksakan
Bab 128


__ADS_3

Tiara bangun pagi-pagi betul. Alarm yang ia stel tadi malam bekerja dengan sangat baik. Alarm tersebut berbunyi tepat pada waktunya.


Tiara membereskan semua keperluannya dan memasukkan semuanya tanpa tertinggal satu pun.


Mulai dari pakaian, sepatu, tas yang ia beli saat dipusat perbelanjaan kemarin bersama Sandi. Sampai dengan buku-buku yang ia beli ditoko pun tidak lupa ia masukkan.


Tiara kemudian membangunkan Sandi.


"Mas, bangun," kata Tiara menepuk-nepuk wajah Sandi dengan pelan.


Sandi masih belum tersadar dari tidurnya itu karena dia masih menikmati tidurnya yang lelap.


Tiara terus berusaha membangunkan suaminya tersebut. Sandi akhirnya terbangun dari tidurnya. Tiara sudah memesan segelas kopi hangat untuk suaminya tersebut.


"Mas susah sekali sih bangun tidurnya," kata Tiara mengeluh.


"Tudurku nyenyak sekali malam ini, jadi aku susah sekali untuk bangun," kata Sandi.


"Pasti karena tadi malam aku pijatin sih, hehehe," kata Tiara.


"Iya kamu benar, sepertinya memang karena itu," kata Sandi.


Tiara tersenyum.


"Oh iya mas, kopi mas sudah ada dimeja," kata Tiara.

__ADS_1


"Iya, terima kasih," kata Sandi.


Tiara tersenyum.


Tiara kemudian memilih membersihkan diri sedangkan Sandi menikmati kopi hangat yang ada didepannya.


Setelah selesai membersihkan dirinya, Tiara mendekati Sandi dan duduk disampingnya.


"Mas mau mandi sekarang atau nanti?," tanya Tiara.


"Nanti sajalah, kalau aku sudah selesai menghabiskan kopi ini," kata Sandi.


"Baik mas," kata Tiara.


"Kamu kenapa masih pakai handuk kimono? kenapa tidak langsung pakai baju yang akan kamu pakai untuk ke bandara nanti?," tanya Sandi.


"Pakaian kamu itu kan tipis dan menerawang. Aku takut aku terpancing," kata Sandi.


Tiara merinding mendengar perkataan suaminya tersebut. Ia tidak ingin melakukan hal itu pagi ini. Dia segera beranjak dari kursi dan pergi ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya.


Sandi tersenyum melihat tindakan istrinya itu. Dia kembali memainkan ponselnya.


"Kenapa mas Sandi bilang begitu sih? aku kan jadi salah tingkah seperti tadi," kata Tiara menghela nafas panjang.


Dia keluar dari ruang ganti. Ia menggunakan pakaian yang sangat tertutup. Ia menggunakan celana panjang yang longgar namun tidak begitu longgar.

__ADS_1


Ia menggunakan kemeja yang memiliki ukuran sedang ditubuhnya sehingga tidak menunjukkan lekukan tubuh Tiara.


"Kalau kamu menggunakan pakaian seperti itu kan lebih enak dilihat," kata Sandi memberi sindiran.


"Hehehe, iya mas. Mas sebaiknya mandi sekarang. Soalnya sudah pukul 08:00, kita kan berangkat nanti pukul 09:00 ke bandaranya," kata Tiara.


"Kamu kenapa tadi bahas mandi? apa tubuhku ini menimbulkan bau tidak sedap?," tanya Sandi menatap Tiara.


Tiara segera mendekat kepada Sandi dan memegang tangannya.


"Bukan begitu mas, aku hanya ingin kita tidak terburu-buru nanti," kata Tiara.


"Begitu? aku kira kamu merasa tidak nyaman. Baiklah aku akan mandi," kata Sandi.


"Baik mas, aku akan siapkan pakaian untuk mas pakai," kata Tiara.


"Baik, letakkan saja nanti diruang ganti ya," kata Sandi.


"Baik mas, aku akan meletakkannya diruang ganti," kata Tiara.


Sandi tersenyum. Ia memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Hm, ada-ada saja mas Sandi ini kalau bicara," kata Tiara menghela nafas panjang.


Tiara beranjak dari kursinya untuk meletakkan pakaian Sandi yang ada dilemari ke ruang ganti.

__ADS_1


Setelah meletakkan pakaian tersebut ia kemudian memainkan ponselnya dikursi. Ia melihat ada beberapa balasan pesan dari temannya.


__ADS_2