Pernikahan Yang Dipaksakan

Pernikahan Yang Dipaksakan
Bab 168


__ADS_3

"Kalau tujuan Sandi ingin mengecek sejauh mana persiapan pembangunan hotel sih itu hal yang bagus mah," kata pak Airlangga.


"Iya pah, dan ada kemungkinan juga jika Sandi ingin punya waktu khusus bersama Tiara," kata bu Sari.


"Kalau itu sudah pasti mah, seperti kita waktu muda dulu," pak Airlangga tertawa kecil.


"Hehehe, iya pah," kata bu Sari.


Setelah Tiara dan Sandi makan malam, Sandi mengeluarkan kotak perhiasan berisi anting-anting.


Dia pun memakaikan anting-anting tersebut kepada Tiara. Dia memasangkan anting-anting tersebut pada daun telinga Tiara.


Tiara pun merasa sangat senang karena anting-anting perhiasan tersebut memiliki warna yang indah dan menarik.


Ia pun tersenyum menatap Sandi. Sandi pun tersenyum balik ke Tiara. Setelah memberikan anting-anting tersebut Sandi dan Tiara pun menikmati udara malam dan pemandangan disekitar.


Sudah satu jam lebih menikmati udara segar diluar Sandi pun menggendong istrinya tersebut ke dalam kamar.


Sandi dan Tiara memasuki kamar hotel. Kamar tersebut memang sengaja dipesan Sandi untuk mereka berdua. Kamar itu sangat besar dan mampu menjaga privasi penghuninya.


Sandi menidurkan Tiara diatas ranjang dan ia mulai ''mengerjainya". Mereka pun melakukan hal itu, kamar pun menjadi panas.

__ADS_1


Setelah lelah, mereka memutuskan untuk tidur. Keesokan paginya, Tiara terbangun dari tidurnya, ia terbangun sekitar pukul 06:00 pagi.


Karena hari ini ia libur dari aktivitas perkuliahannya, Tiara bisa bersantai. Ia membersihkan dirinya didalam kamar mandi.


Setelah membersihkan diri, ia keluar dari dalam kamar mandi. Ia duduk disofa hotel. Ia menatap Sandi yang masih tertidur pulas.


Tiara terlihat bingung, karena pemberian anting-anting yang diberikan Sandi tadi malam.


Ia berfikir, bukankah seharusnya Sandi memberikan dirinya cincin? sesuai dengan penjelasan sahabatnya, Fira.


Ia yakin, Fira tidak berbohong. Namun disisi lain, ia pun percaya bahwa suaminya tidak berbohong. Ia berada dalam posisi yang sulit untuk menentukan.


Lalu kepada siapa mas Sandi memberikan cincin tersebut?. Batin Tiara bertanya-tanya.


Tiara memilih menyetel televisi untuk mengalihkan pemikirannya. Ia memilih tayangan cartoon.


Selang beberapa waktu, Sandi pun terbangun daru tidurnya. Ia yang melihat istrinya tersenyum-senyum sendiri berinisiatif memeluknya dari belakang.


Tiara kaget, ia pun menoreh ke arah belakang. Ternyata Sandi yang memeluknya. Tiara tersenyum.


"Kamu wangi sekali sayang," kata Sandi.

__ADS_1


"Aku sudah selesai mandi mas," kata Tiara.


"Pantas saja, kamu sangat wangi," kata Sandi melepaskan pelukannya.


"Mas, mau mandi?," tanya Tiara.


"Ia nih, semua terasa lengket," kata Sandi.


"Tapi mas tidak memiliki baju ganti," kata Tiara.


"Kamu tidak perlu khawatir. Aku sudah meminta seseorang untuk menyiapkan pakaian gantiku. Kamu bisa mengambilnya didalam lemari sana," Sandi menunjuk ke arah sebuah lemari.


"Baik mas, Tiara mengerti," kata Tiara.


Sandi pun beranjak dari tempat duduknya. Tiara pun begitu, ia harus menyiapkan pakaian Sandi.


Waktu kepulangan Lia dari Amerika akan dijadwalkan terbang besok. Lia sepertinya tidak sabar untuk kembali pulang ke Indonesia, ke tanah kelahirannya.


Ia juga tidak sabar bertemu Sandi. Ia bahkan sudah lupa bagaimana bentuk wajah Sandi?.


"Tan, kira-kira kita akan berangkat pukul berapa besok?," tanya Lia.

__ADS_1


"Sekitar pukul 06 pagi Lia," kata bu Asta.


__ADS_2