Pernikahan Yang Dipaksakan

Pernikahan Yang Dipaksakan
Bab 15


__ADS_3

Kini sandi sudah setengah jalan menuju rumah Tiara. Dia melaju dengan kecepatan sedang. Ketika ia fokus menyetir, tiba-tiba saja muncul mobil sedan hitam berhenti tepat didepannya. Sandi memijak rem mobilnya dan secara terkejut menghentikan laju mobilnya.


Ia turun dari mobilnya dengan perasaan sedikit kaget. Terus melangkah mendekati mobil itu. Melangkah sedikit demi sedikit ke arah pintu setir. Tiba-tiba, mobil itu dengan cepat menarik tancap gasnya meninggalkan Sandi. Hal itu lantas membuat Sandi kaget.


Siapa orang itu?, kenapa dia berhenti didepanku?. Tapi lebih aneh lagi, dia malah pergi dengan cepat ketika hendak ku hampiri. Ah, mungkin saja dia orang iseng. Batin Sandi.


Sandi kembali masuk mobilnya. Kembali melaju. Sandi tidak menyadari, bahwa salah satu dari orang didalam mobil sedan hitam itu telah menebar paku dari sisi samping pintu sebelah kiri. Ya, tepat saja, ban mobil Sandi pastinya mengenai paku itu. Setelah beberapa saat, Sandi menyadari ada yang aneh dengan mobilnya. Sandi pun bergegas terus untuk memeriksa mobilnya.


Sandi terkurai lemas melihat bahwa kedua ban mobilnya bocor secara bersamaan.


Astaga, kenapa jadi begini?. Tiara pasti sudah menunggu. Batin Sandi kebingungan.


Disisi lain, Lisa mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Itu adalah obat tidur. Dia ingin menggunakan obat itu untuk menjebak Sandi.


Dia ingin membuat Sandi terlihat seperti "menidurinya''. Setelahnya, Lisa akan meminta Sandi untuk bertanggung jawab dan menikahinya.


Lisa menjadi gelisah karena Sandi belum menjemputnya juga. Padahal sudah lewat dari waktu yang dijanjikan oleh Sandi.


Sandi yang sedang kebingungan tiba-tiba didatangi oleh seseorang. Dia adalah Hardi, orang yang menabur paku dijalan yang dilewati oleh Sandi. Namun Sandi tidak mengetahuinya.


"Kenapa tuan muda?", tanya Hardi.


"Lho mas Hardi. Ini mas bocor ban," kata Sandi.


"Oh, bagaimana kalau saya panggilkan tukang tambal ban tuan?," kata Hardi.


"Memangnya mas Hardi tahu tukang tambal ban sekitaran sini?," tanya Sandi.


"Saya tahu kok mas, soalnya saya punya kenalan disini," kata Hardi.


"Baguslah mas, tolong panggilkan saja," kata Sandi.


"Baik tuan, akan saya telpon," kata Hardi.


Dalam percakapan telepon, teman Hardi akan segera datang untuk memperbaiki ban mobil Sandi. Namun, pada saat sebelum ditelpon oleh Hardi, teman Hardi tersebut diminta oleh Hardi agar datang terlambat.


"Gimana mas?, apa kata teman mas?," tanya Sandi.


"Akan segera datang mas," kata Hardi. Sandi tersenyum memberi balasan.


Lama sudah menunggu, Sandi mulai gelisah karena montir suruhan Hardi tidak kunjung datang.


"Mas, sudah lama sekali ini," kata Sandi sembari melihat ke arah jam tangannya.


"Haduh, saya juga tidak tahu tuan kenapa bisa selama ini?,'' kata Hardi.


"Coba mas hubungi lagi!," kata Sandi.


"Baik tuan, akan saya coba hubungi," kata Hardi.


Hardi memerintahkan kepada temannya agar segera datang. Karena sudah waktunya.

__ADS_1


"Sebentar lagi tuan, dia sedang dijalan menuju kemari," kata Hardi.


"Ya sudah," kata Sandi menghela nafas.


Disisi lain, Lisa semakin gelisah. Sebab, Sandi tidak kunjung datang. Lisa berniat mencoba menelpon Sandi. Panggilan Lisa tidak diangkat oleh Sandi, sebab ponsel Sandi tertinggal didalam mobil.


"Kenapa tidak diangkat sih," kata Lisa menggerutu.


Tidak lama kemudian, montir suruhan Hardi pun datang. Jam sudah menunjukkan pukul 20:00 malam.


"Kenapa lama sekali mas datangnya?," tanya Sandi menggerutu.


"Maaf mas, saya terjebak macat tadi di jalan," kata teman Hardi.


"Ya sudah, ayo mulailah perbaiki ban mobil tuan Sandi," kata Hardi.


"Baik-baik, saya akan mulai mengerjakannya," kata teman Hardi.


Sang montir mulai mengerjakan mobil Sandi.


Butuh waktu satu jam lebih bagi sanh montir mengerjakan ban mobil Sandi. Bannya sudah rusak parah. Terlebih, bukan hanya satu ban saja yang ia perbaiki, melainkan dua Ban.


Sandi lega, akhirnya ban mobilnya sudah diperbaiki. Ia memberikan sejumlah uang kepada montir sebagai tanda balas jasa.


"Saya pulang dulu ya mas, Har," kata teman Hardi.


"Iya mas, terima kasih. Hati-hati dijalan," kata Sandi.


"Mas Hardi gimana?, ada jalan mau pulang?," Tanya Sandi.


"Tenang tuan, saya sudah memesan ojek online," kata Hardi.


"Ok mas. Kalau begitu saya duluan ya mas," kata Sandi.


"Baik mas," kata Hardi.


Sandi memasuki mobilnya. Ia melihat ponsel layarnya hidup, tanda adanya pemberitahuan.


Betapa kagetnya Sandi melihat pemberitahuan diponselnya, bahwa ia telah mengabaikan belasan kali telepon dari Lisa.


Kini Sandi mencoba menelpon ulang kembali ponsel Lisa. Panggilan itu langsung dijawab.


"Kenapa kamu lama sekali sayang," kata Lisa.


"Maaf sayang, ban mobilku bocor," kata Sandi


"Kenapa tidak bilang?, aku kan bisa jemput kamu," kata Lisa.


"Maaf sayang, aku terlanjur panik. Jadi aku tidak fokus dengan apapun,", kata Sandi.


"Termasuk dengan panggilanku yang tidak kamu jawab belasan kali?," tanya Lisa.

__ADS_1


"Iya sayang. Lagi pula ponselku ku tinggal didalam mobil. Aku keluar mencari pertolongan sayang," kata Sandi.


"Ya sudah, asal kamu jujur aku maafin," kata Lisa.


"Iya sayang, aku jujur. Terima kasih banyak ya sayang atas pengertiannya," kata Sandi.


"Iya sayang, sama-sama," kata Lisa.


"Sayang, sepertinya malam sudah larut. Sekarang sudah pukul 21:30 malam," kata Sandi.


"Lalu kenapa dengan larut malam sayang?,'' tanya Lisa.


"Aku rasa kita tunda dulu ya ngedatenya," kata Sandi.


"Iya deh sayang, tidak apa-apa," kata Lisa. Lisa memilih mengalah. Selama ini Lisa menunjukkan kepribadian yang baik dihadapan Sandi, Hal itu bertujuan agar Sandi tidak terpengaruhi oleh perkataan ayahnya mengenai keburukan Lisa.


Sandi memilih kembali ke rumah. Melihat hal itu, Hardi tersenyum. Ia berhasil melaksanakan tugas dengan baik.


"Tuan Sandi gagal menemui nona Lisa pak," kata Hardi dalam pesan singkat.


Membaca pesan singkat dari Hardi, pak Airlangga merasa senang.


Diruang tv, pak Arifin nampak berbincang dengan Tiara.


"Tiara, bagaimana tadi pre-weddingmu dengan Sandi?," tanya pak Arifin.


"Berjalan dengan lancar kok pak," kata Tiara.


"Kamu ada fotonya nak?," tanya bu Lilis.


"Ada kok bu," kata Tiara. Tiara berjalan menuju ruang tamu tempat dimana ia menyimpan foto pre-weddingnya bersama Sandi. Ia membawanya ke hadapan ibunya dan menunjukkan foto itu.


Bu Lilis merasa kegirangan melihat foto itu.


Ia melihat foto itu sangat natural.


"Bagus sekali fotonya nak," kata bu Lilis.


"Iya bu, begitulah," kata Tiara.


"Kamu sepertinya tidak begitu canggung dengan Sandi," kata bu Lilis.


"ya begitulah bu," kata Tiara.


''Apa hanya satu foto ini saja yang kamu cetak," tanya bu Lilis.


"Ia bu, soalnya mas Sandi bawa satu. Lagi pula, album fotonya masih disana. Tadi secara tiba-tiba, mesin printer mereka error bu. Mas Sandi tidak mau terlalu lama menunggu," kata Tiara.


"Iya nak, ibu paham," kata bu Lilis. Pak Arifin tersenyum.


Sepertinya putriku sudah mulai menyukai nak Sandi. Batin pak Arifin.

__ADS_1


__ADS_2