
Setelah meninggalkan toko buku, mereka melanjutkan perjalanan ke restauran. Perut Sandi nampaknya sudah mulai lapar.
Sandi memilih restauran yang ia suka, yang ia lihat menarik. Sandi dan Tiara memilih makanan yang mereka sukai.
Dilain sisi, bu Sari terlihat bingung. Ia masih terpikirkan oleh perkataan bu Asta tadi malam.
Ia jadi merasa sangat bersalah kepada Lia.
Jika saja sebelumnya bu Asta memberitahu tentang perasaan Lia kepada Sandi dan Sandi belum menikahi Tiara, dirinya pasti akan menjodohkan Sandi dan Lia.
Meskipun itu bertentangan dengan wasiat mendiang bu Anita, ibu Lia. Dirinya tidak akan tertekan. Dia yakin jika dia menikahkan Sandi dan Lia, dia akan menjaga Lia seperti putrinya sendiri.
Mencintai Lia sebagai menantu dan bagian dari keluarga besar Airlangga. Namun semuanya sekarang sudah terlambat karena Sandi sudah menikahi Tiara. Tiara juga memiliki sifat dan sikap yang sama seperti Lia.
Jadi tidak ada alasan bagi bu Asta untuk memisahkan Tiara dan Sandi. Sekarang, dirinya hanya bisa mencoba melakukan yang terbaik untuk menjodohkan Lia dan Farhan. Terlebih dari itu, yang terpenting adalah bagaimana dia bisa tetap menjadi ibu kedua bagi Lia?.
Bu Sari menghela nafas panjang.
Setelah makan siang, Sandi bertanya sesuatu kepada Tiara.
"Tir? masa liburan kita di Bali kan Sudah berakhir. Apa kamu sudah merasa puas dengan liburan kita ini?," tanya Sandi.
__ADS_1
"Aku sudah merasa puas mas, tapu belum sangat puas, hehehe," kata Tiara.
"Kenapa begitu? apa karena kamu sakit kemarin?," tanya Sandi.
"Ia mas, karena itu. Tapi bukan karena itu sepenuhnya sih. Maksud Tiara, kalau namanya liburan memangnya ada puasnya mas? pasti tidak ada, hehehe. Tapi Tiara sudah sangat bahagia bisa kesini. Aku bahagia berada disini dengan mas Sandi," kata Tiara.
Sandi terenyuh dengan ucapan istrinya itu.
"Baiklah, aku senang kalau kamu memang merasa sangat bahagia bersamaku disini. Kalau begitu aku akan pesan tiket pesawat untuk penerbangan kita besok," kata Sandi.
"Boleh mas," kata Tiara.
"Ya kalau bisa sih pagi mas, soalnya supaya siang kita bisa istirahat," kata Tiara.
"Betul juga, kalau begitu aku akan pesan sekarang," kata Sandi.
Sandi memesan tiket eksekutif untuk pemberangkatannya besok.
"Aku sudah selesai memesannya. Mudah-mudahan kita bisa fly besok pagi tanpa ada hambatan," kata Sandi.
"Iya mas, mudah-mudahan," kata Tiara.
__ADS_1
"Kalau begitu, lebih baik kita pulang sekarang supaya kita bisa istirahat dan tubuh kita besok fit," kata Sandi.
"Iya mas," kata Tiara.
Mereka berdiri bersama-sama dari kursi tempat duduk mereka, kemudian meninggalkan meja restauran.
Farhan dan Fira duduk berdua berdekatan di coffee shop milik Farhan. Mereka berdua akan membahas masalah lomba karya ilmiah kemarin.
Jika dilihat, Fira dan Farhan memiliki kecocokan. Namun sayang, Farhan tidak memiliki rasa suka pada Fira.
Mereka mulai membuat karangan sesuai dengan gagasan dan ide yang ada di kepala mereka berdua.
Jari jemari mereka seakan-akan seperti berlomba dalam mengetik tombol-tombol yang terdapat pada laptop.
Sandi dan Tiara sudah berada dihotel saat ini. Sandi menyarankan supaya sebaiknya segera istirahat. Tiara pun menurut.
Sandi memainkan ponselnya melihat beberapa email dari asistennya. Ternyata, sudah banyak pekerjaan yang menanti dirinya.
Sandi menghela nafas panjang dan mengusap wajahnya.
"Banyak sekali pekerjaan yang menungguku," gumam Sandi.
__ADS_1