Pernikahan Yang Dipaksakan

Pernikahan Yang Dipaksakan
Bab 07


__ADS_3

"Kamu hanya akan menyusahkan diri kamu sayang!, aku tidak ingin kamu melawan papah kamu," kata Lisa.


"Lalu bagaimana sayang dengan hubungan kita?, aku tidak mau berpisah denganmu sayang, aku sangat mencintaimu," kata Sandi. Ia memeluk erat tubuh Lisa.


Lisa tersenyum kecut, dia senang melihat tanggapan Sandi.


Bagus Sandi, sekarang kamu sudah terikat denganku, kamu sudah tidak bisa menjauh dariku, kamu sudah tergila-gila olehku sayang. Batin Lisa senang.


"Iya sayang, aku juga sangat mencintaimu," kata Lisa.


"Kamu sabar ya sayang, aku akan berjuang untuk kamu," kata Sandi melepas pelukan.


"Iya sayang, aku akan menunggu sabar untuk perjuangan kamu," kata Tiara.


"Terima kasih ya sayang, aku sangat beruntung memiliki kamu,"


"Sama-sama sayang," jawab Lisa tersenyum.


Sekarang semuanya semakin rumit, aku akan menikah dengan Tiara dua minggu lagi. Lalu sekarang, Lisa meminta aku juga segera menikahinya. Semuanya betul-betul membuat pikiranku tidak tenang. Apa yang akan Lisa Lakukan kalau ia sampai tahu kalau aku nanti menikahi Tiara. Hah, benar-benar menyusahkan keadaan ini. Gumam Sandi dalam batinnya.


Tak lama kemudian, nada dering ponsel milik Sandi berbunyi!, pertanda ada panggilan masuk. Sandi melihat panggilan masuk diponse miliknya, ternyata, papahnya yang menelepon.


"Siapa yang terbaik sayang?," tanya Lisa.


"Papah sayang," jawab Sandi.


Sandi mengangkat telepon.


"Halo pah," kata Sandi.


"Halo san, kamu dimana sekarang?," tanya pak Airlangga.


"Aku sedang makan pah bersama rekan kerjaku diluar," jawab Sandi berbohong.


"Ya sudah, kamu cepat makannya, cepat pulang!, papah sama mamah mau bicara penting. Jadi segeralah pulang!," kata pak Airlangga.


"Iya pah, aku akan segera pulang," kata Sandi.


"Iya nak, papah tunggu," kata pak Airlangga.


"Iya pah," kata Sandi.


Pak Airlangga menutup teleponnya. Sandi memberi tahu Lisa bahwa dia harus segera pulang.


"Sayang, papah tadi bilang dalam telpon bahwa aku harus pulang segera, ada yang ingin papah bicarakan sayang," kata Sandi.

__ADS_1


"Oh, tidak apa-apa sayang, kamu boleh pulang duluan," kata Lisa memaklumi.


"Kenapa aku harus pulang duluan sayang?, lebih kita pulang bersama-sama, biar aku yang mengantarkan kamu pulang ke rumah," kata Sandi.


"Ti, Tidak usah sayang, aku, aku, Maksudnya, rumah kita bersebrangan sayang, sedangkan kamu harus pulang cepat karena harus bertemu papah kamu. Aku tidak apa-apa pulang sendiri, nanti aku minta supir pribadi aku untuk jemput kesini sayang," kata Lisa.


"Oh ya sudah kalau begitu sayang, terima kasih untuk perhatiannya, kamu hati-hati ya sayang disini," kata Sandi.


"Ia sayang, kamu juga hati-hati ya dijalan," kata Lisa.


"Iya sayang, aku jalan dulu ya, bye," kata Sandi.


"Bye sayang," kata Lisa.


Sandi meninggalkan restauran dan manaiki mobil miliknya. Ia menjalankan mobilnya dan pulang kerumah.


Untung saja Sandi tidak jadi mengantarkan aku, kalau sempat ia mengantarkan aku, dia bisa-bisa bertemu dengan pak Irwan. Batin Lisa.


Lisa memang kembali membuat janji kencan dengan pak Irwan malam ini. Pak Irwan akan menunggu Lisa dirumah pribadi Lisa.


Sandi kini sudah sampai dirumahnya. Papah dan mamanya sudah menunggu Sandi. Sandi memasuki ruang tamu, bertemu dengan papah dan mamahnya. Ia melihat ekspresi raut wajah orang tuanya sedikit kecut. Sandi bertanya-tanya dalam hatinya.


"Kamu sudah pulang Dan?," tanya pak Airlangga.


"Silahkan duduk San," kata pak Airlangga.


"Ia pah," kata Sandi sembari menduduki sofa.


"San, papah mau menyampaikan sesuatu kepada kamu," kata pak Airlangga.


"Apa itu pah," kata Sandi.


"San, papah baru saja ditelepon oleh pak Arifin, calon mertua kamu, mereka sudah tahu kalau kamu ternyata berpacaran dengan Lisa," kata pak Airlangga.


"Apa?, bagaimana bisa pah?," tanya Sandi terkejut.


"Tiara membaca sebuah media berita artikel online yang membeberkan hubungan kalian, bahkan artikel itu memuat informasi lengkap hubungan kalian," kata pak Airlangga.


"Haduh," kata Sandi bingung.


" Hal itu wajar nak, Lisa kan seorang aktris. Jadi, media selalu tertarik dengan kehidupan pribadinya," kata bu Sari.


"Ia mah, yang mamah bilang itu benar, Sandi menyadarinya," kata Sandi.


"Itulah San, kenapa papah minta kamu segera pulang, supaya kita bisa membahas hal ini dengan baik dan mencari solusinya nak," kata pak Airlangga.

__ADS_1


"Maksudnya papah gimana?, Sandi tidak mengerti," kata Sandi.


Pak Airlangga melirik istrinya bu Sari.


"San, pak Arifin menjadi ragu karena hal ini, mereka berfikir papah tidak serius dengan pernikahanmu dan putrinya," kata pak Airlangga.


Sandi terdiam.


"Perjodohan kalian tidak boleh batal nak, perjodohan kalian harus terlaksana, karena hanya Tiara yang akan papah terima jadi menantu dikeluarga kita ini. Oleh karenanya, kamu harus bisa meyakinkan mereka bahwa papah memang betul-betul berteguh hati untuk tujuan ini," kata pak Airlangga.


"Apa yang harus Sandi lakukan pah?," tanya Sandi.


"Lakukan jumpa pers, dan sampaikan bahwa kamu sudah memutuskan Lisa sebagai kekasihmu!," kata pak Airlangga.


Telinga Sandi serasa berdengung kencang mendengar perintah papahnya itu.


"Aku tidak bisa pah, aku belum bisa melakukannya. Papah sudah memerintahkan aku untuk menikahi Tiara, Putri pak Arifin, aku menurutinya dan papah tidak perlu takut!, aku akan melaksanakan perintah papah. Tapi untuk yang satu ini, maafkan Sandi pah, Sandi menolak dengan tugas," kata Sandi.


Pak Airlangga menghela nafas.


"Tapi San, bagaimana mereka bisa mengentaskan keraguan dalam hatinya jika pertanyaan mereka belum terjawab pah," kata Airlangga.


"Pah, Sandi belum bisa melakukannya pah, Sandi belum siap. Aku masih begitu mencintai Lisa, aku terpukul pah. Jangan tekan aku lagi pah, aku mohon pah, aku mohon pada papah," kata Sandi memohon.


Sandi menangis tersedu-sedu, membuat para asisten dan pekerja dirumahnya menjadi kaget, tetapi mereka diam saja.


Pak Airlangga merasa sedih melihat ekspresi anak laki-lakinya. Sedangkan bu Sari hanya terdiam sedih melihat Sandi menangis.


Maafkan papah nak, papah melakukan ini semata-mata demi kamu. Lisa bukanlah orang baik San, dia hanya ingin hartamu, bukan cintamu. Ternyata perempuan itu sudah berhasil membuatmu tergila-gila padanya. Papah tidak akan membiarkan dia menguasaimu lebih dalam. Papah akan membebaskan kamu dari perempuan itu.


Batin pak Airlangga.


Pak Airlangga beranjak dari tempat duduknya, ia mendekati Sandi dan menepuk bahunya.


"Baiklah san, papah tidak akan memaksamu memutuskan Lisa dengan cara seperti itu. Tapi ketika kamu memulai rumah tangga dengan Tiara, kamu harus secara perlahan melupakan dia dari hidupmu," kata pak Airlangga.


"Maafkan papah nak, kalau kamu menjadi tertekan dengan permintaan papah mengenai perjodohan ini, papah sekali lagi minta maaf," pinta pak Airlangga.


"Iya pah, tidak apa-apa," kata Sandi Sandi menyudahi tangisnya.


"Pah, mah, Sandi merasa lelah, Sandi tidur dulu ya," kata Sandi.


"Ia nak, kamu boleh pergi ke kamar," kata pak Airlangga.


Sandi meninggalkan papah dan mamahnya di ruang tamu.

__ADS_1


__ADS_2