PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Episode 10


__ADS_3

Anjani turun dengan tergesa-gesa. Setibanya di tangga terakhir, Anjani berpapasan dengan Kania. Anjani terus melangkah dan mengabaikan Kania yang kebingungan.


"Lo kenapa, nja? Kok kayak panik, takut gitu?".


"Ndak apa-apa non".


"Nggak apa-apa ok panik gitu? habis ketemu siapa?", Sambil berlalu, Anjani menjawab.


"Ehm.... ehm itu non, habis lihat emmm liat hantu, eh setan eh.... aduh besok saja cerita non. Saya terburu-buru", Kelihatan sekali bahwa Anjani tengah menyembunyikan sesuatu. Kania melanjutkan langkahnya dan berniat memanggil Ken untuk makan malam.


"Aneh banget sih", ucap Kania yang tak mau ambil pusing dan segera menyeret langkahnya menuju kamar kakaknya.


"Mas..", panggil Kania pada kakaknya, mengetuk pintu pelan.


"Apa?" jawab Ken setelah pintu terbuka dari dalam.


"Disuruh turun sama mama. Katanya masak sup kesukaanmu tuh".


"Iya, bentar lagi gue turun. Lo turun duluan gih sono", usir ken. Kania mengerucutkan bibirnya sebal.


"Aneh semua deh". Kania hanya bisa menggerutu sembari menuruni anak tangga, menghentak-hentakkan kakinya.


..........


"Ma, Aku besok sore mau ke villa papa". Kenan mengawali pembicaraan kali ini di sela-sela makan nya. Fandy dan Nawal mengerutkan keningnya merasa aneh. Pasalnya Kenan sangatlah jarang pergi bermain ke villa jika tidak bersama keluarga.


"Sama siapa, Ken?", Fandy bertanya pada putra sulungnya. Sedangkan Nawal hanya menyimak saja.


"Sama Rio sama Niko". Fandy mengangguk saja.


"Tumben kamu mau main ke villa?", tanya Nawal.


"Belakangan ini aku banyak tugas kampus mah, jadi ya pengen liburan gitu. Apa nggak boleh?",


"Boleh kok. Kan mama cuma tanya. Apa adek mu juga ikut?", belum sempat Ken menjawab, Kania sudah menyela.

__ADS_1


"Nggak ah. Males. Mas Ken Nyebelin". Ken tersenyum tipis menanggapi ocehan adiknya.


"Oh ya mah, pah, Aku juga punya rencana mau ngajak Anjani ikut serta. Bukan apa-apa, pasti aku nanti butuh Anjani buat nyiapin makan sama beres-beres kamar", Semua mata menatap heran pada Kenan.


"Apa harus? Mama khawatir kalau Anjani ikut", kali ini, Nawal bersuara.


"Iya lah, ma. Apa mama mau bi Tarsih aja yang ikut aku?", Kania yang mendengar jawaban kakaknya sontak terbahak hingga semua mata menoleh ke arahnya.


"Ha ha ha ha ha.... kakak mau bi Tarsih jadi baby sitter kalian bertiga? Wah lucu kayaknya. Tapi, tapi kalau bibi ikut, Giman sama kerjaan rumahnya?",


"Lo aja lah dek yang ngerjain. Sekalian latihan jadi ibu rumah tangga. Lo kan perempuan, jadi udah kewajiban Lo ngerjain tugas rumah".


"Mas keeeeen!!", Kania memberengut sebal karna sang kakak s lalu menggodanya.


"Berapa lama kamu di sana?", tanya Fandy. Dalam keluarga Mahardhika, Fandy lah yang selalu posessive terhadap anak-anak mereka meski kesannya disini, Fandy lah yang sering memanjakan anak-anak. Rasa sayang dan perhatian yang begitu besar membuat Fandy enggan berpisah jauh dari anak-anaknya, apalagi itu dalam jangka waktu lama.


"Mungkin Minggu, malemnya aku pulang, lagian Ken hari Senin ada mata kuliah jam 10 kok pah", Fandy mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Ya udah kalau kamu mau kesana sama Anjani. Tapi ingat, kamu harus menjaga Anjani dan nggak boleh ngapa-ngapain dia. Kamu ngerti?", Senyum manis terbit dari bibir Ken.


Entah mengapa, Nawal merasa tidak beres dengan putranya kali ini. Namun, Nawal berusaha tetap berfikir positif saja. Nawal percaya, Ken anak yang baik, meski kadang kebengalannya sering kali membuat Nawal dan Fandy pusing sendiri.


Setelah itu, tidak ada pembicaraan lain antara mereka.


Tak jauh dari meja makan, anjani mendengarkan perbincangan keluarga itu. Ada rasa bahagia sekaligus haru yang tengah menyelimuti hatinya. Pikirnya, tidak masalah jika ia harus kehilangan sesuatu yang sangat berharga bagi dirinya, asal ia bisa bersama Kenan.


.............


Setelah perdebatan alot antara Ken dan bi Tarsih yang bersikeras tidak mengizinkan Anjani pergi dengan berbagai macam alasan, Akhirnya, bi Tarsih mengizinkan Anjani untuk ikut serta.


Dalam hati, bi Tarsih sebenarnya memendam keraguan atas ajakan Kenan yang tiba-tiba dengan anjani.


Layaknya seorang ibu, bi Tarsih entah mengapa perasaannya mendadak tidak enak. Apalagi setelah perbincangan Kenan dan majikannya tempo hari. Namun, untuk menolak permintaan Kenan, bi Tarsih merasa sungkan sendiri.


Bagaimana tidak? Selama ini, yang membiayai sekolah Anjani, aadalah Fandyka, ayah Kenan. Terlebih lagi, Fandy telah mengizinkan Kenan untuk mengajak Anjani. jadi, tidak ada alasan lagi untuk bi Tarsih menolak.

__ADS_1


"Den, bibi titip Anja ya?, Kalau melakukan kesalahan, tolong di tegur. Anja kadang-kadang sering ceroboh anaknya", ucap bi Tarsih sebelum keberangkatan mereka. Anjani sudah masuk ke dalam mobil, sedang Ken masih di luar mobil untuk berpamitan.


"Iya, bi. Bibi tenang saja", sahut Ken meyakinkan. kemudian berlalu memasuki mobilnya setelah Rio dan Niko memasukkan barang bawaan mereka ke dalam bagasi.


Perjalanan dari kediaman keluarga Mahardhika, tidak lah lama. Hanya membutuhkan waktu sekitar tiga sampai empat jam saja jika jalanan tidak macet.


"Anja, kok dari tadi diem aja sih?" tanya Niko yang duduk di bangku belakang ditemani oleh Rio. Sedang Anjani, duduk di bangku sebelah kemudi, bersebelahan dengan Kenan.


"Iya, mas. Bingung mau ngomong apa", jawabnya di sertai senyum tipis. Melirik sekilas ke arah Niko, kemudian membuang pandangannya ke kaca samping mobil.


"Ken, setau gue, di villa keluarga Lo itu kamarnya dua ya?", tanya Rio.


"Iya, kenapa emang?",


"Gue sekamar sama Niko deh. Tapi, ranjangnya kan cuma muat buat dia orang. Nah, kalau kamar sebelah di tempati Anjani, Lo mau tidur dimana?", tanya Rio yang sengaja memancing keadaan.


"Gue ini anak pemilik villa. Jadi terserah gue mau tidur dimana", ucap Ken datar.


"Oh ya, setau gue, di villa itu, udaranya dingin ya, Ken?". tanya Niko menimpali.


"iya", Ken sebenarnya sebal dengan ulah bibir kedua sahabatnya ini yang terlalu banyak bertanya.


"Kalau Lo tidur sendirian nggak baik loh buat kesehatan. Kedinginan itu rawan flu. Kalau gue sama Niko aja deh peluk-pel.....".


"Dasar homo", sahut Ken cepat. Niko terkekeh karna mereka berhasil menggoda Ken. Apalagi Anjani yang sudah memerah wajahnya karna malu.


"Ahh, kamar sebelah pasti di pake Anjani kan ntar?",


"Iya, beg*", jawab Ken lagi yang tak bisa lagi menyembunyikan kekesalannya.


"Ya udah, Lo tidur di kamar Anjani aja deh entar. Biar pulang-pulang, Lo nggak sakit. Iya kan, Nja?", Anjani pun tersipylu malu. Jangan tanyakan wajahnya. Wajahnya kini sudah semerah jambu.


"Sekali lagi Lo banyak omong, abis idup Lo. Gue nggak suka ya sama temen yang banyak bacot kayak kalian", Seketika semua terdiam. Namun di bangku belakang, Rio dan Niko mati-matian untuk tidak memperlihatkan ekspresi bahagia mereka di depan Kenan.


🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2