
"Pergi lah, mas. Aku nggak mau melihat kamu lagi. Biarkan Aku bahagia".
......~part sebelumnya~......
Kenan saat ini terduduk lemas di masjid milik pesantren. Setelah menunaikan sholat isya', para santri sudah kembali. Namun tidak dengan Kenan. Ia masih duduk menunduk dengan menengadahkan kedua tangannya.
Kenan bersimpuh, ingatannya kembali berputar saat kejadian siang tadi ia dan Anjani di pertemukan. Penolakan Anjani, entah mengapa menjadi ranjau yang begitu mengerikan bagi Kenan.
Ucapan demi ucapan Anjani, membuat hati Kenan begitu hancur. Setelah sekian lama Ken menahan hasrat kerinduan pada Anjani, kini saat bertemu, Ken hanya di suguhkan penolakan. Miris, sungguh miris.
Andai waktu mampu berputar kembali, tidak akan ia sia-siakan Anjani.
Dulu....
Sebelum ia dan Anjani melalui malam laknat itu, Kenan terbiasa bebas melampiaskan hasrat kelelakiannya pada wanita yang ia kencani. Tidak harus memanggil wanita, bahkan banyak wanita yang rela mengantri untuk dikencaninya.
Tidak tanggung-tanggung. Bahkan wanita-wanita itu rela menghabiskan malam panjang bersama Kenan. Banyak dari mereka yang rela mengobral tubuh mereka demi bisa menikmati tubuh indah dan wajah rupawan Kenan.
Tapi kini.....
Hasrat Kenan pada wanita-wanita liar itu, sudah tak lagi berkobar seperti dulu. Kenan seolah mati rasa. Yang tubuhnya inginkan, hanyalah Anjani seorang. Ia merindukan saat-saat Anjani ada di sampingnya, berbicara lembut dan menawarkan berbagai masakan yang Anjani mahir membuatnya.
Tak lama, seorang tukang kebun pesantren datang menghampiri Kenan, Pak Karno namanya.
"Assalamualaikum, den. Anu.... Aden di panggil pak kyai Arsyad di rumah pak kyai, sekarang. Ayo, Aden kesana dulu. Semua. orang sudah menunggu".
"Semua? Siapa saja pak?".
"Ya.... semua. Ada nyai Galuh, orang tua Aden dan itu, mbak Anjani yang hamil itu. Yang menempati kamar kosong dekat kantin". jawab pak Karno tanpa tau permasalahan antara Ken dan Anja.
Kenan terpaku. Mungkinkah, ia akan di sidang oleh sang paman? Oh ya tuhan. Ken kembali gamang. Ia tak sanggup jika harus mendengar lagi penolakan Anjani.
"Ya sudah pak. Saya akan kesana", sahut Kenan dengan senyum tipisnya.
__ADS_1
Setelah merapikan sajadah, Ken pun bergegas berjalan menuju rumah kyai Arsyad. Entah mengapa, Langkan Ken terasa berat.
Setelah Ken sampai, ia pun masuk dan mengucap salam. sontak semua mata tertuju pada Kenan.
Di sana sudah ada Fandy, Nawal, Galuh, Anjani dan kyai Arsyad. Ken terpaku dan perasaannya berkecamuk. Antara takut dan khawatir.
Bukan karna Ken takut untuk di sidang dan di pojokkan hingga sedemikian rupa. Ken tidak akan masalah jika semua orang mencaci maki dan menghujatnya. Ken sudah sangat siap dengan resiko itu.
Tapi, hal yang menjadi sangat menakutkan adalah, saat Anjani akan menolak lagi ajakannya untuk menikah. Sungguh, Kenan tidak sanggup meski hanya sekedar membayangkannya saja.
"Assalamualaikum". Ucap Ken lirih.
"Wa'alaikum salam" jawab semua orang serentak.
"Duduk lah dulu Le. Ada yang mau kami bicarakan". Ucap kyai Arsyad lembut. Ken bersyukur, dirinya masih di perlakukan dengan baik di sini. Ken pun duduk di sofa tunggal sebelah sofa yang di tempati Anjani.
"Kamu kenapa kok lama sekali?".
"Papa sengaja manggil kamu dan kesini, semata untuk menegaskan hubungan kalian yang akan di resmikan. Dan Anjani.....
Saya nggak mau dengar kamu menolak pinangan Kenan. Kami sekeluarga berjanji akan selalu menjagamu dan menyayangimu sebagai bagian dari keluarga Mahardhika", Fandy mengatakan itu dengan tenang, Namun terasa tegas dalam menyampaikan kalimatnya.
Anjani mendongak, matanya yang sembab kembali berkaca-kaca.
"Saya ingin sendiri, tuan. Maaf. Beberapa bulan terakhir ini, saya menjalani hari saya dengan bahagia. Tolong jangan hancurkan kebahagiaan saya kali ini saja".
Kenan menunduk dan memejamkan matanya agar air matanya tidak jatuh kembali.
"Kamu yakin, kamu bahagia?". tanya Fandy lagi.
"Saya yakin". jawab Anjani mantap.
"Bagaimana dengan pendidikan dan masa depan anak kamu setelah ini?". Anjani menatap nanar ke arah Fandy yang masih terlihat tenang.
__ADS_1
"Saya bisa menghidupi anak saya sendiri. Saya akan bekerja sekuat tenaga untuk mencukupi kebutuhan anak saya. Saya bisa menjadi ibu sekaligus ayah yang baik untuk anak saya kelak". Entah keberanian dari mana, Anjani berani menjawab Fandy kali ini.
"Ya. Saya percaya kamu ibu yang pekerja keras. Saya percaya dengan segenap keyakinan yang saya miliki, cucu saya akan baik-baik saja dalam asuhan kamu. Tapi ingat lah hukum di Indonesia di berlakukan, anjani?!
Anak kamu tidak akan bersekolah karna tidak memiliki identitas secara legal. Mau menikah lagi dengan pria selain Kenan? Apakah ada pria yang mampu menjadi ayah untuk anakmu kelak? Mungkin kah pria itu bersedia menerimamu? Jika iya, lalu apakah suamimu kelak akan bersedia juga menerima anak kamu?". Ya Fandy benar. Harusnya Anjani memperhitungkan hal itu.
Kalimat Fandy yang tenang, nyatanya memukul kesadaran Anjani secara telak. Wajah Anjani berubah pias. Ia tak mampu lagi mendebat Fandy. Anjani tergugu.
"Nak, Ken sudah memintamu untuk menerima pinangannya, tapi kamu menolak. Hari ini, aku mohon, Aku dan suamiku sebagai orang tua Ken memintamu untuk menikah dengan anak kami", Nawal mendekat dan menghampiri Anjani. Menekuk kedua kakinya dan mengatupkan kedua tangannya untuk memohon pada Anjani. "Kami mohon dari hati yang paling dalam. Maafkan lah kesalahan putraku".
Ken tidak tahan lagi. Melihat mamanya bersimpuh di hadapan Anjani, membuat Ken merasakan kehancuran yang begitu dalam.
Ken menghampiri dan menarik ibunya pelan agar berdiri, begitu juga Anjani yang juga berusaha untuk membuat Nawal bangkit.
Tanpa sengaja, tangan Ken menyentuh kedua punggung tangan Anjani. Anjani dan Kenan merasakan kembali getaran-getaran yang dulu sempat mereka rasakan. Spontan Anjani pun menarik kedua tangannya.
"Nyonya, berdirilah. Nyonya nggak pantas seperti ini. Saya.... saya......", Air mata Anjani kembali tumpah saat itu juga.
"Ma, jangan gini. Ayo duduk dulu. Ken akan berusaha semampu Ken untuk meyakinkan Anjani, ma. Tapi Ken mohon, mama jangan gini".
Nawal kembali duduk dengan Isak tangis, Galuh pun segera menghampiri dan memeluk pundak Anjani.
Sedang Fandy, masih setia dengan menatap lekat pada Anjani. Fandy berusaha menelisik aura Anjani, Fandy merasa, Anjani masih lah sangat mencintai Kenan. Namun egonya terlalu tinggi dan itu juga karna perlakuan Kenan dulu yang membuatnya enggan untuk kembali.
Setelah Nawal sedikit tenang. Fandy kembali berkata, "Dek Arsyad, coba jelaskan, apa hukumnya pria menikahi wanita yang sedang dalam keadaan mengandung?". Tanya Fandy dengan serius.
"Pendapat Imam Hambali, boleh dinikahi setelah wanita melahirkan, namun pendapat Imam Syafii menyebutkan hamil di luar nikah boleh dinikahkan dalam keadaan hamil tidak harus menunggu kelahiran, baik dinikahkan oleh lelaki yang menghamili atau oleh lelaki lain,”
"Jadi, Bagaimana Anjani? Apa kamu masih mau menolak niat baik saya sekeluarga?". suara Fandy kembali.
"Sa-saya.... Saya bersedia ,Tuan" Jawab Anjani dengan suara bergetar.
🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1