PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 3. 41


__ADS_3

"Duduk dulu, Wa, Vanya." Ucap Kania dengan nada biasa saja. Tak ada jejak kebencian, juga tak ada jejak kemarahan yang tercetak jelas pada wajahnya seperti tempo hari.


"Vanya mau minta maaf, Tante." Ungkap Vanya dengan mata berkaca-kaca, meski bibirnya tersenyum.


"Maaf udah, bikin Vio jauh dari ayahnya, bikin Vanya kehilangan Dewa." Imbuhnya lagi.


Dewa hanya diam di tempatnya. Ia tak tahu lagi harus bicara apa. Vio pun masih berada dalam pangkuannya. Pandangan mata Dewa menyiratkan penyesalan yang dalam.


"Udah terjadi. Maaf juga karena sikap sarkas Anika tadi. Tante pribadi, sebenarnya belum bisa menerima semua keadaan yang menimpa anak Tante. Cuman ya mau gimana lagi, Van. Semua udh telanjur. Mungkin emang takdirnya harus begini. Sekarang, baik Tante, Anika dan lainnya sedang berada dalam situasi mencoba untuk memaafkan. Tinggal kamunya aja yang harus minta maaf sama tuhan." Ungkap Kania.


"Jangan terlalu lelah. Kamu harus banyak istirahat. Oh ya, berapa usia kandungan kamu?" Tanya Kania kemudian. Meski sejujurnya Kania masih sakit hati pada keponakannya itu, namun Kania berpikir, marah dan membalas Vanya pun, tak akan membuat rumah tangga putrinya utuh.


"Jalan empat bulan, Tante. Maafin Vanya. Mohon doakan Vanya yang baik-baik biar proses lahiran Vanya nanti, lancar." Pinta Vanya sambil mengusap sudut matanya yang berair.


"Pasti. Jangan khawatir. Sebesar apa pun keslaahn kamu, Tante akan maafkan karena kamu keponakan Tante. Tapi, lain kali kamu jangan mengulangi ini, ya? Ingat baik-baik, jadikan ini pelajaran. Lain waktu jika ingin melakukan sesuatu, kamu harus mikir dulu risiko dan konsekuensinya." Ucap Kania menasihati.


"Iya, Tante. Makasih banyak. Makasih karena Tante mencoba untuk mengerti Vanya, meski Vanya udah merusak kebahagiaan keluarga ini." Vanya menatap lekat Kania.

__ADS_1


Dewa hanya diam, sambil berusaha tersenyum meski terlihat kaku. Mereka berbincang, tanpa sadar bahwa perlahan Vio berlari ke arah pintu.


Balita yang sudah mulai pandai mengoceh itu, berlari ke arah pintu, karena ada Rama yang lewat di sana, untuk mengantar barang belanjaan Anika tadi.


"Pap papa ... pa pa." Ucap Vio yang masih sangat cadel.


Sontak saja semua mata terfokus pada Rama. Dan lihat apa yang terjadi? Vio mengulurkan tangan sebagai isyarat meminta Gending iada Rama.


Rama yang memang sudah sangat dekat dengan Vio, karena bertemu setiap hari, membawa vio ke dalam gendongannya, seraya membawa barang belanjaan Anika yang tertunggak padanya.


"Maaf, bu. Ini belanjaan mbak Anika ketinggalan tadi." Ujar Rama sambil tersenyum.


"Nggak apa-apa, Bu Kania. Saya memang suka anak kecil, kok." Ujarnya kemudian.


Vanya dan Dewa saling kandang. Dew sendiri tak habis pikir, sedekat itukah Anika dan Rama dalam waktu dekat ini?


"Anika, ada hubungan sama Rama?" tanya Dewa sambil menatap Kania.

__ADS_1


"Iya. Hubungan yang sebatas majikan dan sopir. Tapi andai Anika dan Rama sama-sama saling cocok, kenapa enggak? Mereka berhak lebih dekat dan lagi, masih sama-sama muda. Cuman ya mungkin nunggu sampai masa Iddah Anika selesai." Jawab Kania logis.


"Semoga yang terbaik aja, Tante. Vanya yang jahat ini, cuman bisa doakan Anika biar dapat kebahagiaan." Tukas Vanya.


"Jangan ngomong gitu, Vanya. Kamu nggak jahat, Tante percaya kamu orang baik. Hanya saja, saat itu kamu gelap mata. Secara pribadi, Tante akan coba ikhlas maafin kamu." Jawab Kania kemudian.


Sejujurnya, Kania orang baik, yang dimana ia selalu menghadapi orang yang kerap kali melakukan kesalahan padanya.


"Ya udah, ma. Dewa pamit dulu." Ucap Dewa sambil mengajak istrinya pulang.


"Ya udah hati-hati di jalan. Titip Vanya ya, Wa. Jaga dia baik-baik." Pinta Kania kemudian.


"Iya, ma." Dewa berlalu dan Vanya mengekor di belakangnya.


Maaf, baru saja dewa dan Vanya tiba di teras depan, tepatnya di anak tangga menuju garasi, Vanya terpeleset hingga tubuhnya terpelanting.


"Akkkhhh . . . ."

__ADS_1


Vanya tergeletak di lantai, Disusul dengan jeritan Kania dan Dewa secara bersamaan.


**


__ADS_2