
Kenan tengah mengerjapkan matanya beberapa kali pagi ini. Bau obat bercampur desinfektan mendominasi ruangan yang di tempatinya. Tak jauh darinya, Anjani tengah membuka-buka rantang yang di bawakan oleh Kania, adik iparnya.
Senyum terbit di bibir Kenan yang sedikit merona di banding hari kemarin yang nampak sangat pucat.
Bahagia menyeruak ketika membuka mata, yang pertama kali terlihat adalah istrinya yang berjalan agak lambat karena sedang hamil tua.
Tak ada kebahagiaan yang lebih membuatnya senang ini. Kenan sangat bahagia.
"Nja".
Panggilnya dengan suara serak, membuat Anjani menoleh dan tersenyum ke arahnya. Kemudian dengan pelan, Anja menghampirinya.
"Sudah bangun, mas? Gimana hari ini? Sudah lebih baik?"
"He'em".
"Kania masakin kamu, tuh. Mau sarapan dulu, atau seka dulu?". Ken baru sadar, adik kesayangannya itu tak terlihat semenjak dirinya siuman.
Lalu, kemana si cerewet yang ngangenin itu?
Ah, andai Kania tau bahwa Ken menyebutnya ngangenin, tentu saja ibu muda itu akan semakin besar kepala.
"Seka aja dulu."
Anja mengangguk lantas mulai menyeka suaminya.
**
"Jadi, informasi apa yang Lo dapet?"
Kania bertanya tidak sabaran terhadap sosok perempuan dengan penampilan tomboy itu. Sila namanya, kawan Kania sejak masa-masa mereka sama-sama SMA.
"Ayu Wandira. Seorang janda. Pernah menikah, namun pernikahannya berakhir gagal akibat suaminya sering bermain wanita. Dan yang lebih mengejutkan, adiknya sendiri lah yang saat ini menjadi istri mantan suaminya. Memiliki prestasi di bidang pendidikan yang cukup bagus, tapi sayang, ambisinya untuk menjadi nomor satu, membuatnya seringkali melukai siapapun yang berusaha menandinginya."
"Latar belakangnya?"
Tanya Kania lagi, sorot matanya menunjukkan ketertarikan terhadap informasi yang Sila sampaikan.
"Emak bapaknye udah meninggal. Dia tinggal seorang diri dan terpisah dari adiknya yang udah merebut mantan suaminya. Latar belakangnya, dulunya keluarga baik-baik, sih. Tapi enggak lagi semenjak dia berusaha menjebak Abang Lo".
Sila bergidik ngeri membayangkan, wanita secantik dan sebohay Dira, kini harus medekam di balik jeruji besi akibat kebodohannya sendiri.
__ADS_1
Kania yang mendengar penuturan Sila, mengerjapkan matanya beberapa kali, merasa semakin tertarik mengorek lebih dalam lagi masa lalu wanita sialan itu.
"Gue minta tolong sekali lagi, Lo bisa bantu gue?".
Tanya Kania mantap. Kali ini, ia sudah bertekad.
"Apapun buat Lo, yang notabenenya anak orang kaya. Asal, bayaran aja harus sepadan".
Jawab Sila dengan raut wajah kemenangan.
"Masalah duit aja Lo, peka."
"Eits.... jangan salah. Kinerja gue nggak pernah mengecewakan siapapun yang nyewa jasa gue".
"Gue transfer sepulang dari sini. Yang jelas, jangan sampai ada yang tau, termasuk keluarga gue.
Gue nggak mau ya, nanti malah merambah kemana-mana masalah ini.
Gue cuma mau buat dia jera, itu aja".
"Kenapa nggak Lo labrak aja? Bukan karna apa, gue percaya sama tenaga Lo yang super kuat buat berantem".
Sila menatap Kania serius. Ia tak habis pikir, Kania memiliki sisi lain yang buruk dan sangat kejam.
Ungkap Kania santai. Sila yang membayangkan kehidupan yang Kania ceritakan untuk Dira nanti, bergidik ngeri setengah mati. Bahkan bila di gambarkan, justru lebih menyakitkan di banding berada di dalam jeruji besi.
"Kalau gue jadi Dira, mending gue milih berada di penjara untuk waktu yang lebih lama, di banding harus mejalani......".
Sila tak melanjutkan kalimatnya. Ia ngeri sendiri meski hanya sekedar membayangkan.
Kania yang duduk berhadapan dengan Sila, mengangkat bahunya acuh, merasa tak peduli pada dengan rencana yang sudah ia susun.
"Apapun yang akan terjadi ke depan, gue nggak peduli. gue nggak akan segila ini kalau aja waras gue, di dengerin dan di anggap sama dia.
Terkadang, menjadi gila lebih di butuhkan ketika waras sudah tidak lagi di hargai."
**
**
Anjani menatap wanita di hadapannya yang memandangnya takut-takut. Raut wajahnya terlihat nampak tertekan dan tak berdaya. Jujur saja, hati yang semula kuat dan kebencian terlanjur mencuat di hatinya, kini berubah menjadi rasa iba.
__ADS_1
Bagaimana pun, Anjani seorang wanita berhati lembut. Tetapi, keadilan harus tetap di tegakkan, bukan?
Beberapa menit berlalu tanpa ada pembicaraan yang berarti dari mereka. Hingga Anjani bersuara dengan suara datar.
"Apa kabar, ibu Dira?".
"Emm... beginilah, Bu Anja.....
Ss--saa.....saya.... saya minta maaf".
Dira menjawab dengan suara tergeragap. Sejujurnya, Dira merasa lebih baik menghadapi Kania yang kasar daripada menghadapi Anjani yang berhati lembut.
Siapa yang tau, kalau air yang nampak tenang, nyatanya menyimpan arus yang kuat di dasarnya, atau palung mungkin.
"Kenapa baru sekarang? Apa harus anda menerima akibat dari perbuatan anda dulu, barulah anda akan menyesalinya?".
"Saya... benar-benar menyesal, Bu. Maafkan saya".
"Apa maaf mu bisa mengubah semua yang sudah terjadi?"
"Setidaknya saya sudah mengakui kesalahan saya".
"Mengakui saja tidak cukup untuk membuat rasa sakit suami saya lepas begitu saja.
Dengar, Bu Dira. Sekalipun anda sudah menyesali segalanya dan bertekuk lutut di kaki saya dan suami saya, hukum tetap harus berjalan. Jadi anda mau tak mau, Sudi tak Sudi, suka tidak suka, di sini adalah tempat yang harus anda tempati untuk waktu yang masih belum bisa di tentukan. Pengacara keluarga Mahardhika akan mengurus semuanya dan menjatuhkan hukuman paling berat pada anda.
Seharusnya anda bersyukur anda masih bisa bernafas lega di penjara, daripada anda harus di jatuhi siksaan yang lebih menyakitkan dari penjara".
Wandira terkesiap seketika. Ia tak menyangka dirinya akan di tuntut seberat-beratnya saat ini. Sungguh, penyesalannya kini tidak lagi berarti apapun.
"Tap...tapi, Bu".
"Apa? Tapi apa? Sayang sekali. Anda bahkan lebih murah dari pelacur jalanan.
Dengarkan ini baik-baik sebelum saya benar-benar pergi dari sini. Pelacur jalanan bahkan tidak Sudi untuk ditiduri tanpa bayaran. Dan anda berusaha menjebak suamiku agar bisa tidur denganmu?
Berharap nanti anda hamil dan menuntut tanggung jawab suami saya? Bahkan saya adalah orang yang berdiri tegak paling depan untuk membunuh bayi anda bila sampai hal itu terjadi.
Jadi jangan pernah coba-coba untuk melewati batasanmu, ibu Dira yang murahan. Percayalah, sesuatu yang anda pikir tidak mampu saya lakukan, akan saya lakukan bila itu menyangkut dengan keselamatan orang yang saya cintai. Seharusnya bila anda ingin memikat seorang tuan Kenan Nayaka Mahardhika, anda harus meninggikan harga dirimu, bukan justru merendahkan nilai mu".
Dira tercekat, merasa tak mampu menimpali kalimat panjang Anjani yang menjatuhkan harga diri dan mengoyak mentalnya secara kejam.
__ADS_1
**
**