PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 3. 17


__ADS_3

Entah berapa lama Vanya sesekali mengusap air matanya yang tiba-tiba keluar dari sudut matanya. dewa yang lebih fokus menyetir di jalanan yang masih saja ramai di waktu yang telah malam begini, tidak menyadari bahwa Vanya mengeluarkan air mata sesekali.


Bukan karena Vanya tak mau mengenal dewa lagi, bukan. Tetapi semua itu di dasari atas rasa bersalah Vanya terhadap Anika. tak hanya itu, Vanya bahkan sama sekali tak tau bagaimana rupa putri dewa bersama Anika.


"Mas, bagaimana jika Anika tahu?" Vanya berbisik lirih, namun Dewa masih tetap bisa mendengarnya dengan baik. Entahlah, rasanya ini sungguh menyakitkan untuk Vanya.


Vanya dekat sekali dengan lelaki yang dicintainya, namun Vanya sama sekali tak bisa menggapainya, apa lagi memilikinya. Jika sedikit saja Vanya memberi Dewa celah harapan, maka mungkin diantara mereka memiliki hubungan perselingkuhan.


"Nika nggak akan tahu jika kamu diam dan nggak ngasih tahu dia. Diamlah dulu, Vanya. Jangan banyak bicara yang bisa membuatmu nanti justru kehilangan arah. Aku sudah menemukan biang masalah kita di masa lalu. Setelah itu, aku harap kau mengerti." ungkapan dewa cukup membuat Vanya tersentak.


"Ap... apa maksudnya?"


"Kita saling mencintai, Vanya. Apa lagi? Jangan menanyakan sesuatu yang cukup menyakitkan lagi. Aku udah menemukan kamu setelah dua tahun berlalu. Jadi aku mohon, Tolong mengerti aku. Selama ini kamu juga sudah mengerti dan memberi kesempatan Anika untuk bahagia bersamaku, bisakah kau egois sekali ini saja demi hubungan kita? Nggak ada yang salah dari cinta kita."


"Cinta kita emang nggak salah, Dewa. Tapi kamu milik orang lain. Itu yang salah. Dan lagi, Anika itu sepupu aku. Andai jelas-jelas dia yang merebut kamu dari aku, aku dengan senang hati kembali menjalin cinta sama kamu. Tapi nyatanya Anika justru nggak tau apa-apa dan dia itu korban pelampiasan kamu. Tolong jaga perasaan Anika."

__ADS_1


"Kalau kita nggak memulai, kita akan selamanya kalah, Vanya, sementara kita sudah saling mencintai satu sama lain. Oh ayolah, kita punya cinta sebagai alasan kita nggak terpisahkan."


*Kamu benar-benar serakah, Dewa. Aku nggak bisa kalau harus melukai Anika."


Dewa diam, tak lagi mendebat Vanya. Lelaki itu lantas menepikan mobilnya di sebuah rumah kecil yang terlihat sepi. Dewa lantas turun, membawa Vanya yang celingukan setengah takut.


"Ayo cepat, Tasya di dalam."


Setibanya di dalam, alangkah terkejutnya Vanya saat mendapati Tasya dengan mata sembabnya. Siapa yang menyangka, Tasya akan berubah menjadi wanita yang lusuh dan kacau.


"Tasya?"


"Maafin aku, Vanya. Maafin aku yang sudah fitnah kamu karena aku juga mencintai Dewa." Kalimat Tasya, berhasil membuat Vanya mengerjapkan matanya beberapa kali. Vanya mencoba mencerna kalimat yang pertama kali Tasya utarakan.


"Bangunlah, Tasya. Apa yang terjadi?"

__ADS_1


Vanya yang setengah marah itu, tetap tak tega pada Tasya yang kacau dan seolah tak berdaya.


"Aku.... aku udah salah. Maafin aku. Aku pikir, setelah kamu putus dadi Dewa, Aku bisa dengan mudah mendekatinya, tapi Yang ada justru Dewa menikahi sepupu kamu. Bagaimana mungkin aku nggak gila?"


Tasya pingsan. Anton yang membawa Tasya datang ke ibukota, segera saja membawa Tasya ke tempat tidur sembari mengikat kedua tangan Tasya.


"Tasya depresi. Nggak apa-apa. Aku akan bantu untuk mengurus pengobatannya. Yang penting, kamu udah tau semuanya. Dia begini karena nggak bisa mendapatkan cintanya."


Vanya yang masih syok tentu saja limbung, segera saja jatuh ke dalam pelukan Dewa. Maklum saja, Vanya tak jauh berbeda dengan Anjani yang lembut.


"Sebaiknya kalian pergi, sebelum Tasya kumat lagi." Anton menyuruh Dewa segera berlalu pergi dari sana, hingga kemudian datang dua wanita yang memakai seragam perawat. Mungkin itu adalah perawat untuk Tasya.


"Kita mau kemana, wa?"


"Ke suatu tempat. Persiapkan diri kamu."

__ADS_1


Entah kemana Dewa akan membawa Vanya. Yang jelas, lelaki itu ingin memiliki Vanya seutuhnya dengan jalan apapun. Dewa hanya tak tau saja, ketika ia memutuskan untuk menyakiti Anika, maka musuhnya bukanlah Anika, melainkan Kania.


**


__ADS_2