PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Episode 11


__ADS_3

Di sebuah ruang kamar yang terbilang luas, Anjani tengah menata seluruh barang bawaannya. Di balik pintu yang tak sepenuhnya tertutup, Ken memperhatikan Anjani yang dengan cekatan mengerjakan pekerjaannya.


Malam tadi, Anjani merasa ragu untuk membuktikan keseriusannya di hadapan Kenan. Tapi, entah mengapa, Di sini Ken sendiri lah yang merasa gamang akan niatnya.


Dalam benaknya, Mungkin kah ini keputusan yang tepat? Bagaimana pun, jika Anjani mencintainya, itu bukan sepenuhnya kesalahan Anjani. Kenan sadar itu.


Namun, harus bagaimana lagi? Kenan sudah terlanjur membuat kesepakatan taruhan sialan itu dengan teman-temannya. Untuk mundur pun, itu tak mungkin lagi.


Ego dan ambisi seorang Kenan sangatlah tinggi. Ia tidak mungkin merendahkan harga dirinya dengan mundur begitu saja dari kesepakatan dangkal yang ia buat sendiri. Itu sama saja dengan melukai egonya.


Ken menatap Anjani lama, hingga Anjani telah usai menata barang-barangnya. Ken berdehem membuat Anjani seketika menoleh dan terkejut.


"Mas... Ken?",


"Tolong rapikan juga barang-barang ku. Kita akan menginap disini dua malam dan aku..... Akan tidur di sini", ucap Ken datar. Anjani sudah tidak terkejut lagi. Bukankah dari awal sebelum mereka pergi kemari, Anjani sudah tau maksud dan tujuan Kenan membawanya kemari? Anjani mengangguk pasrah.


Dengan cepat, Anjani pun membongkar bawang bawaan Kenan dan menatanya dalam lemari. Ken hanya duduk di kursi tunggal menghadap ke jendela. Di sebelah jendela, ada meja rias. Kamar ini berukuran luas.


Sebenarnya, villa ini bukan berisi dua kamar, melainkan tiga. Namun, Anjani tidak mengetahui persis isi dalam villa ini sebelumnya.


Setelah selesai menata barang bawaan, Anjani duduk di kursi kecil depan meja rias. Ken melirik sebentar kemudian membuang kembali tatapannya keluar jendela yang terbuka.


Udara yang begitu sejuk, serta pemandangan yang begitu asri, membuat Ken betah berlama-lama di sana. Banyak kerlap KerLiP cahaya lampu yang jauh dari villa Kenan, menambah indah pemandangan malam di area villa ini.


"Mas, sudah", Kenan melihat Anjani dengan wajah datar. Dalam hati, Kenan benar-benar ragu dengan keputusannya kali ini. Waktu semakin larut, jam menunjukkan pukul 20.42. Bukannya Ken merasa senang karna nafsu nya akan terlampiaskan, justru Ken malah dilanda keraguan yang berkecamuk di hatinya.

__ADS_1


"Ayo makan, setelah itu kita ngobrol-ngobrol sebentar. Aku udah laper", ucap Ken masih dengan wajah datarnya. Anjani mengangguk.


"Mas Kenan kenapa? Apa mas Ken sakit?", tanya Anjani dengan hati-hati. Ken berbalik badan dan tersenyum ke arah Anjani.


"Aku nggak apa-apa kok. Tenang aja". Anjani mengangguk dan balas tersenyum.


Makan malam berlangsung lancar. Sesekali Rio dan Niko bersenda gurau, saling menggoda satu sama lain. Setelah makan malam usai, mereka kembali ke kamar masing-masing.


Setelah sampai di kamar, Anjani segera ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan membersihkan wajahnya. Sedang Ken lebih memilih rebahan disisi kanan ranjang sambil menghidupkan laptop dalam pangkuannya, Membuka situs dewasa yang memancing gairah untuk bercinta.


Tak lama, pintu kamar mandi terbuka, Anjani keluar kamar mandi dengan menundukkan kepalanya. Anjani bingung dan benar-benar malu. Ken melirik sembari tersenyum simpul. Belum lama kenan melihat video yang menayangkan adegan dewasa, nafsunya sudah mulai naik.


"Nja, ayo sini" Ucapnya pelan sembari menepuk-nepuk sisi kiri ranjang di sebelahnya. Dengan gugup, Anjani berjalan menuju ranjang dan duduk dengan kaku di sisi Kenan.


Setelah menonton hampir setengah jam, Kenan sudah tidak tahan lagi.


"Mas Ken, yakin?", bukannya menjawab, Anjani malah melontarkan tanya pada Kenan. Kenan tidak menjawab, Ia segera meraup bibir Anjani penuh gairah. Hati keduanya bergemuruh. Detak jantungnya semakin cepat tak beraturan. Darah mereka, berdesir hebat. Gelenyar aneh tengah menguasai mereka saat itu.


Setelah puas bermain bibir, Ken bangkit dan segera membuka kaos nya dan melemparnya ke sembarang arah. Kemudian dengan kasar, Ken menarik kaki Anjani untuk merebahkannya dan segera menyentuh Anjani dengan kasar.


Anjani benar-benar terkejut dengan perlakuan kasar Kenan padanya, Ia tidak menyangka, Ken akan bertindak seperti ini.


Kenan meneguk salivanya susah payah. Anjani hanya bisa pasrah dan mengalirkan air matanya.


Ken melupakan sesuatu, seharusnya, ia tidak mengeluarkan cairan miliknya nya ke dalam rahim Anjani. Namun naas, dalam keadaan ia di buru nafsu, Ken melupakan hal itu. Tak hanya sekali, Ken melakukannya berkali-kali hingga ia terkulai lemas dan berakhir hanyut ke dalam mimpi. Malam ini, Ken benar-benar merasa terpuaskan.

__ADS_1


'Ibu, maafin Anja Bu. Anja udah berdosa sama ibu. Ayah pasti menyesal pernah memiliki putri yang bodoh seperti anja' batin Anjani menjerit.


..............


Sinar mentari muncul menembus tirai kamar yang di tempati Anjani dan Kenan. Mata Kenan mengerjap beberapa kali, hingga kesadarannya sepenuhnya telah terkumpul. Ken menatap Anjani disampingnya yang sedang memunggunginya. Bahunya bergetar ia tengah menangis.


Ken bangun dan segara menyandarkan bahunya pada kepala ranjang.


"Kamu menyesal, Anja?" tanya Kenan lirih. Anjani tidak menjawab, tangisannya justru tumpah kembali begitu saja.


"Bangunlah, dan segera bersihkan dirimu sebelum sarapan", ucap Ken datar tanpa rasa bersalah. Ken pun segera masuk ke dalam kamar mandi guna membersihkan dirinya.


Bibir Ken meringis saat air shower mengguyur seluruh tubuhnya. Bagaimana tidak? Di bahu dan punggungnya, terdapat banyak bekas cakaran Anjani karna menahan sakit.


Setelah membersihkan diri, Ken mengganti pakaian di dalam kamar. Anjani masih setia dalam posisi yang sama, tidak berubah.


"Kalau kamu masih kelelahan dan enggan mandi, yaudah aku nggak maksa".


"Aku akan mandi, mas". Ucap Anjani akhirnya. Suaranya sangat parau. Sepertinya, Anjani menangis semalaman. Ken mengangguk kan kepala.


"Ya udah". Ken pun memandangi punggung Anjani yang berjalan tertatih ke kamar mandi. Hanya berlilitkan selimut, Anjani masuk ke dalam kamar mandi. Sekilas, Kenan melirik seprei yang terdapat bercak darah milik Anjani.


Entah mengapa, dalam sudut hati Kenan yang terdalam, Kenan seperti ingin menangis saja. Ia tak tega melihat Anjani kacau seperti ini. Rasa bersalah perlahan muncul di hati Ken.


Selain itu, ada perasaan asing yang Ken miliki. Sebuah perasaan yang tidak pernah Ken rasakan untuk lawan jenis. Hanya Anjani. Ya, hanya pada Anjani perasaan asing ini mulai hadir.

__ADS_1


Tidak, tidak. Ken menggeleng kepalanya untuk menepis segala perasaan tentang Anjani. Bagaimana pun juga, Ken tidak boleh jatuh cinta pada Anjani.


🌹🌹🌹🌹


__ADS_2