
Kenan menatap beberapa bebek piaraan tetangga nya dengan perasaan nelangsa dan sedih tak terkira. Setelah bertahun-tahun dirinya tak berinteraksi dengan hewan menjengkelkan yang satu ini, kini pada akhirnya ia harus kembali berurusan dengan bebek atas permintaan istri nya.
Setelah ia meminta ijin untuk membeli bebek milik pak Gani, tetangga Fandy, pada akhirnya pak Gani mengijinkan Kenan mengambil salah satu bebeknya untuk di ambil dan di masak saja tanpa membeli. Terlebih karena yang ingin makan bebek goreng, adalah Anjani yang sedang mengidam.
"Ayo mas, ayo......Semangat. Bebeknya menanti mu".
Anjani bersorak menyemangati Kenan, layaknya cheerleaders yang menyemangati pemain basket.
Kenan melirik sekilas ke arah istrinya dengan tatapan mengeluh. Dirinya malas bila harus berurusan dengan hewan yang satu ini.
"Iya, nja". Ucapnya pelan. Kenan lantas berlari mengejar bebek secara random. Tak lama, kaki kiri Ken terpeleset dan Ken terjatuh tepat pada kubangan tempat bebek mandi.
"Sial!!".
Anjani tertegun sejenak, sebelum kemudian dirinya tertawa terpingkal melihat suaminya berdiri dari tempatnya, dengan hampir seluruh bagian tubuhnya basah oleh lumpur.
"Dosa apa aku di kerjain istri?".
Lirihnya dengan wajah menyedihkan.
~~
Kenan tengah mondar-mandir di depan bahan makanan mentah dengan tatapan bingung dan gelisah. Kenan yang biasanya tampak maskulin dan menawan itu, kini terlihat seperti pria dungu yang tidak tau apapun.
Nawal dan Fandy tertawa lirih tertahan melihat putranya sangat bucin terhadap Anjani. Dulu, Kenan bahkan sempat jijik berdekatan dengan anak seorang pembantu. Tapi sekarang, bahkan Ken rela berusaha melakukan apapun untuk Anjani.
Antara cinta dan benci, banyak orang mengatakan bahwa dua hal itu hanya beda tipis. Seseorang yang terlampau membenci, akan dengan sangat mudah memiliki ketergantungan keberadaan yang di benci. Namun yang terlampau mencinta, terkadang akan memunculkan kebencian saat yang di cinta, melakukan kesalahan berulang kali.
Begitu lah dunia. Semua mudah berubah.
"Kalau kamu lihat terus, kapan matengnya, Ken?".
Mama Nawal berkata dengan nada mengejek.
__ADS_1
"Kalau ada Kania, bisa habis kamu di ledekin adik kamu". Imbuhnya lagi.
"Aku nggak bisa masak, ma. Ini di Apain?"
Tanya Kenan lirih. ekor matanya melirik Anjani yang memasang wajah lolos dan tak berdosa.
Astaga..... beginilah rasanya menjelang jadi ayah u tuk yang ke dua kalinya?
Dan Kenan akan tetap menjalaninya dengan sabar, mengingat dulu, ketika Anja mengandung anak pertama mereka, Kenan tak ada bersama Anjani kala itu.
"Itu bebeknya potong aja, dulu. Kemudian buat bumbu ungkep." Nawal memberi arahan, kemudian berlalu dari sana sambil menuntun cucu pertamanya itu menuju ke lantai atas.
Kenan menatap bebek yang sudah di pisahkan dari organ dalamnya, dengan perasaan nelangsa.
Dengan tangan sedikit gemetar akibat tak nyaman ketika melihat bebek yang sudah di cabut bulu-bulu nya itu, Kenan lantas membawanya ke westafel, hendak memotong dan mencuci dengan bersih. Bayangan ketika dirinya berusia anak-anak dan di kejar-kejar bebek, kembali melintasi otaknya.
Sekali lagi, Kenan mendengus kasar.
Oh Tuhan, beri hamba kekuatan."
Ucapnya dalam hati demi menyemangati dirinya sendiri.
Sepotong demi sepotong, akhirnya bebek yang di potong Ken, kini telah selesai di potongi. Ya, meski bentuknya tak karuan dan cenderung hampir seperti daging cacah. Tak apa, Anjani tetap menghargai usaha suaminya.
"Bumbu ungkep nya gimana, Nja?"
Tanya Kenan sambil meletakkan bebek yang ia tiriskan usai di potong tadi, kemudian punggung tangannya mengusap dahinya yang berkeringat.
Sesuai arahan Anjani, Kenan meracik bumbu dan memasukkan nya ke dalam cobek. Anjani tak ingin memakai blender karna sengaja dirinya ingin mengerjai Ken habis-habisan. Sayangnya, ketika Ken berusaha mengulek bumbu, Beberapa potong bawang ada yang keluar dari cobek.
Anjani tertawa puas setelah mengerjai suaminya itu.
"Astaga, nja. Aku bener-bener ngga bisa".
__ADS_1
Keluh Ken dengan nada suara frustasi.
"Dari pada suruh nguleg bumbu, mending aku suruh ngurus distro Ama butik,deh. Berkutat dengan tabel angka dan menghitung laba rugi perusahaan".
Anjani makin terbahak mendengarnya.
"Ya udah deh, sini. Biar aku aja yang buat, mas. Nah, dari sini, mas tau kan betapa pekerjaan pembantu itu juga nggak ringan? Bahkan mas yang biasa tangguh aja, kenapa nyerah?"
Kalimat Anjani mengingatkan Ken pada masa lalu mereka. Bagaimana dulu Ken menganggap rendah posisi ibu Anjani yang notabene nya, adalah sebagai pembantu keluarga Mahardhika. Hati Ken mencelos sakit, mengingat momen dirinya dulu sempat menghina Anjani yang sebagai anak pembantu.
"Maaf, nja. Maaf dulu aku bahkan pernah merendahkan kamu".
Ken hanya menunduk dan tersenyum penuh kegetiran.
"Dan sekarang aku bener-bener nggak bisa jauh dari kamu. Bahkan hidupku, sekarang benar-benar ketergantungan sama kamu."
Menyadari bahwa suaminya kembali merasa bersalah, Anjani lantas menyesali perkataannya yang tanpa sengaja itu. Wanita muda yang hampir memiliki dua orang anak itu, lantas menghentikan aktifitasnya, kemudian memeluk erat Ken meski terhalang oleh buncitnya perut Anjani.
"Aku nggak maksud menyinggung perasaan kamu, mas. Maaf. Ya udah. Aku lanjut bikin bumbu aja. Kita masak bareng, ya?"
Kenan mengangguk dan melepas pelukan mereka. Anjani lantas mulai menghaluskan bumbu tadi dengan menggunakan blender. Kemudian memasukkan bumbu jadi ke dalam penggorengan untuk di tumis nya.
"Biar aku aja".
Ken merebut spatula yang Anja pakai, kemudian lanjut menumis bumbu. Tak lama, Ken menjerit-jerit tertahan akibat bumbu yang mulai meletus-letus pelan di tangannya.
"Astaga, Njaaaa...... Kenapa kamu pakai ngidam bebek segala, sih? Nasib tanganku gimana?".
Kenan merasa apes kali ini.
....
....
__ADS_1