PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 3. 19


__ADS_3

"Sebenarnya kita mau kemana, wa? Astaga. Ini juga sudah larut malam. Jangan katakan kamu mau menculik aku." Vanya bertanya sambil matanya terus mengedar kesana kemari. Wilayah yang ia dan Dewa lewati sudah terlihat asing baginya, jalanan yang tak pernah Vanya lewati.


Dewa terkekeh di tempatnya. Vanya tidak pernah berubah. Sejak dulu selalu menggemaskan dan juga selalu panik jika sesuatu terjadi. Berbeda dengan Anika yang dulu sempat tersesat saat Dewa membawanya mendaki gunung, Anika bahkan selalu tenang dan suka berpetualang.


Sejenak, tawa renyah Dewa terhenti saat ia mengingat tawa Anika kala itu. Harusnya Dewa sudah pulang dan ia berjanji untuk tak lama. Nyatanya, Mungkin Dewa berencana menginap di suatu tempat bersama Vanya.


"Jawab, wa. Ini mau kemana?" Vanya terus saja mendesak Dewa untuk menjawab. Hanya saja, Dewa mengerling Nakal pada Vanya yang luar biasa panik. "Aku mau pulang kalau kamu nggak mau jawab, wa. Kamu tau aku bakal nekat dan bahkan pergi karena kamu mengkhianati aku."


"Kita akan ke suatu tempat. Nanti, aku akan mengantar kami pulang sebelum fajar tiba." Dewa dengan entengnya mengatakan.


Jalanan yang Vanya dan Dewa lalui cukup sempit, beruntung saat ini masuk waktu nyaris tengah malam, jadi tak ada satu kendaraan pun yang lewat. Suasana sepi melanda, ketika mobil yang Dewa bawa memasuki areal persawahan. Sebuah bangunan yang berdiri tegak, berada di pinggir jalan dengan sawah yang mengitari. Tak ada bangunan lain, karena Dewa memang membeli rumah itu untuk singgah sewaktu-waktu saat lelah dan stress melanda.


Sejak dulu, Dewa memang suka hening dan kedamaian bersama tanaman hijau yang baginya menyegarkan mata.


"Itu rumah kita, lantai dua dan tidak terlalu besar. Tak masalah, kan?"


Vanya hanya bisa mengerjapkan matanya beberapa kali. Apa kata Dewa tadi, rumah kita? "Lelucon macam apa ini, wa? Rumah kita? Tapi kita nggak mungkin menikah. Kamu tau sendiri gimana keras kepalanya papa yang sampai kapan pun nggak akan ngasih restunya ke kita, kalau kamu masih suami sepupu aku."


"Bukan tidak merestui, tapi belum. Om Kenan hanya perlu waktu sebelum ia melihat pembuktian cinta kita. Ayo kita kembali menjalin kasih, Vanya. Jangan egois. Menjauh dari aku bukan hanya hati kamu yang sakit menahan sesaknya rindu, tapi aku juga merasakan hal serupa yang tak kalah sakitnya."


"Kamu gila Dewa. Kita nggak mungkin bersatu Tania restu papa dan mamaku."


"Oh ya? Kita lihat saja nanti."

__ADS_1


"Aku mau pulang, wa. Antar aku pulang."


"Nanti, setelah aku melepas rindu ke kamu."


Vanya menatap tak percaya pada Dewa.


"Ayo turun." Dewa lantas mengajak Vanya untuk turun.


"Terus, ini gimana?"


"Kita masuk dan kita istirahat sejenak. Malam ini kita rehat setengah malam. Jangan khawatir, setiap hari rumah ini selalu dibersihkan sama seseorang yang sudah aku bayar. Jadi tetap bersih meski aku nggak tidak hari datang."


Vanya hanya bisa mengekor di belakang Dewa, saat Dewa telah mengunci mobilnya dan menutup pagarnya. Dapat Dewa lihat, Vanya mendadak gugup dan ia pasti bingung hendak melakukan apa.


Sebuah kamar yang tertata rapi, rupanya di cat dan dihiasi dengan berbagai perabotan berwarna ungu muda. Vanya takjub, itu yang membuat Dewa tersenyum menang.


"Rumah yang aku persiapkan buat kamu memang kecil, tapi sewaktu-waktu kamu bosan, Kita beli yang lebih besar." Tutur Dewa lembut sambil duduk ditepi ranjang.


"Kamu udah mempersiapkan sejauh itu?"


"Ya, sejak aku melihat kamu pertama kali di kantor."


Vanya menatap foto lawas dirinya bersama Dewa empat tahun lalu. Foto berukuran besar itu terpajang di dinding, membuat Vanya mengingat kebersamaan mereka bertahun-tahun, namun harus terhenti akibat Dewa yang menikahi Anika secara tiba-tiba.

__ADS_1


"Aku kangen saat-saat itu, wa. Kamu bahkan nggak tau gimana gilanya aku saat itu. Aku bahkan nyaris bunuh diri setelahnya."


"Karna patah hati?"


"Ya."


"Dan aku berjanji aku akan menebusnya. Apa pun caranya." Dewa memeluk Vanya dari belakang secara tiba-tiba, menghisap aroma wangi mawar dari rambut Vanya. Wangi inilah yang selalu Sewa rindukan. Bahkan bau keringat Vanya pun, Dewa menyukainya. Bukan hanya suka, bahwa bisa dikatakan Dewa terobsesi penuh pada Vanya.


"Wa, ini nggak boleh." Suara Vanya lirih, kakinya terasa lemas tak bertulang. "Kita........" Ya Tuhan, Dewa. Hentikan.


"Mari kita melakukannya, Vanya. Aku berjanji akan melakukannya dengan lembut. Kita bermain singkat saja."


Vanya tak lagi menolak, ketika nafsu dan cinta buta nya telah mengalahkan akal sehatnya. Bahkan ia tak memikirkan nasib keluarganya di masa depan.


Mereka berdua, menikmati malam hingga melakukan penyatuan beberapa kali dalam setengah malam. Bahkan yang lebih mencengangkan, mereka begitu menikmati selayaknya seorang suami istri yang tengah melakukan gerak tarian alam penyatuan tubuh. Mereka menikmati dimensi yang mereka ciptakan sendiri.


Entah bagaimana setelah ini, mereka tak lagi memikirkan risiko dari kenekatan mereka berdua. Bahkan yang paling menderita bukanlah cinta Dewa dan Vanya lagi, melainkan Anika yang penuh tulus.


Sebuah pengorbanan terkadang selalu berakhir sia-sia. Siapa yang menyangka, bahwa pada akhirnya, Anika kalah dengan sendirinya meski ia wanita baik-baik yang Dewa lupakan begitu saja.


Malam ini......


**

__ADS_1


__ADS_2