PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 3. 31


__ADS_3

Dalam keheningan malam, sepasang suami istri paruh baya tengah berbincang di dalam kamar. Baru saja si istri menutup pintu serta gorden jendela dan pintu balkon, si suami justru tak memiliki keinginan untuk merebahkan tubuhnya.


Duka menyelimuti. Anjani dan Kenan kini tengah duduk berdua di sofa yang ada di pojok ruangan kamar. resah melanda keduanya saat ini, akibat dari kebodohan dan cinta buta putri sulung mereka.


Wajah Anjani yang semula cantik anggun menawan, kini sembab dan tampak kacau. Istri Ken itu biasanya selalu memperhatikan detail dari penampilannya. Tapi lihatlah sekarang, rambutnya bahkan sedikit berantakan dengan gaun tidur yang dipakai asal.


"Mas, aku nggak bisa tidur." Ungkap Anjani dengan wajah lesu. Tubuhnya lemas karena ia tak makan sama sekali sejak tragedi video Vanya dan Dewa sedang kelimpungan menutup badan karena kepergok Kania sedang berhubungan badan.


"Aku juga nggak bisa tidur ini, Nja. Gimana sekarang, aku nggak tau harus gimana . . . "


Kenan berusaha untuk tegar. Hanya saja, ia tetaplah orang tua yang kecewa.


"Aku nggak nyangka Vanya bisa sebodoh ini, mas. Gimana kalau misalnya nanti, keluarga Sinatra menyalahkan Vanya?"


"Dewa juga bersalah. Keduanya terlibat, mereka nggak bisa mengalahkan Vanya secara sepihak."


"Apa mas lupa, kalau Perselingkuhan, orang-orang akan melimpahkan keseluruhan pada pihak si perebut? Disinilah Vanya yang akan menjadi bulan-bulanan keluarga Kania dan Sinatra. Apa yang harus aku lakukan, mas, supaya Vanya bisa mendapatkan maaf dari Kania dan Niko?" Lirih Anjani. Wanita yang lembut nan satun itu, benar-benar tidak tahu harus menyalahkan siapa.


"Ya udah. Mau nggak mau, mereka harus menerima risiko dan segala konsekuensinya. Mereka sama-sama dewasa, sebelum melakukan hubungan terlarang itu, mereka sama-sama tahu kalau itu salah. Mungkin, ini karma untukku. Dulu aku merusak kamu, Nja. Tapi haru ini, kita mau nggak mau harus menerima kenyataan kalau Vanya dan masa depannya, harus hancur di tangan laki-laki yang ia cintai."


Kenan membuang pandangannya ke langit-langit kamar. Kedua telapak tangannya ia takutkan di belakang kepalanya yang merebah di atas sandaran kursi.


"Iya. Aku baru sadar." Lagi dan lagi, wanita yang santun, tapi juga cengeng itu kembali menangis dalam diam.


Suasana kamar kembali hening, mereka sama-sama diam dan larut dalam pemikiran masing-masing. Beruntung esok hari libur, Kenan tidak akan pergi bekerja dan lebih memilih untuk terjaga sepanjang malam.

__ADS_1


"Mas, gimana sama ucapan terakhir Niko sebelum kita pulang?" Anjani merasa resah saat melihat betapa marahnya Niko, padahal Niko adalah pribadi yang sabar dan juga lembut, berbanding terbalik dengan Kania yang barbar.


"Apa yang dibilang Niko ada benarnya juga. Besok siang kita akan menikahkan mereka. Dan buruknya, aku nggak bisa jadi wali untuk Zhivanya." Kenan benar-benar putus asa.


"Ya Tuhan, aku nggak siap dengan situasi kayak gini. Pantas saja Vanya nggak mau diajak pulang, rupanya dia nggak mau menyerah dan masih ingin sama-sama Dewa."


"Biarin aja, Nja. Ini adalah pilihannya. Kita hanya tinggal melihat, bagaimana keduanya ke depan nanti. Aku nggak akan lagi mikirin Vanya meski Vanya darah dagingku. Bagaimana pun juga, Anika adalah keponakanku. Kedudukannya sama dengan Vanya di hatiku. Dia pasti terpukul meski ia menyimpannya sendiri. Kamu tahu sendiri, Anika yang biasanya manja, mendadak garang saat tadi dia marah ke Dewa."


"Aku juga gitu, mas." Anjani menimpali seadanya. Memangnya harus bagaimana lagi? Toh memang kenyataannya Vanya lah yang menjadi penjahatnya.


"Mas, gimana nanti kalau keluarga Sinatra tahu?" Anjani kepikiran dengan yang satu itu.


"Udah aku bilang jangan pikirin hal itu. Itu akan menjadi konsekuensi Vanya dan Dewa yang udah berani bermain api." Jawab Kenan kemudian.


Hingga pagi menjelang, Anjani dan juga Kenan tetap terjaga, membiarkan berjuta sakit membersamai hari mereka karena ulah Vanya.


Niat kebaikan untuk menghindari masalah, rupanya berakhir permusuhan antara dirinya dan juga keluarga bibinya, Kania.


Pintu di ketuk dari luar. Bik Sri terlihat prihatin dengan kondisi majukan mudanya itu.


"Non, itu . . . ibu minta saya panggil non Vanya. Katanya disuruh turun untuk sarapan." Bik Sri berbicara pelan. Wanita itulah yang menjadi salah satu saksi kehancuran hati Vanya saat Dewa bersanding dengan Anika di pelaminan.


"Vanya nggak lapar, bik."


"Sarapan lah barang sesuap dua siap, non. Sebesar apa pun masalahnya, tolong jangan biarkan non nggak makan. Nanti sakit." Bik Sri tak berhenti membujuk.

__ADS_1


Vanya yang merasa sendiri Tania mama papanya lagi yang mengerti kegundahannya, kini segera berhambur ke dalam pelukan bik Sri. "Bik, apa bubuk nggak jijik kalau dengar Vanya jadi selingkuhan mas Dewa? Semua orang tahu kalau Vanya ini menjijikkan dan juga . . . ."


"Bibik indah mendengar meski ngga secara langsung. Maaf kalau bibik sempat nggak sengaja mendengar ibu bercakap sama bapak kemarin."


"Vanya nggak kuat, bik. Bahkan mama dan papa benar-benar marah sama Vanya. Hukum Vanya, Vanya nggak akan marah, bik. Cuman Vanya minta, tolong jangan biarkan Vanya sendiri."


Buk Sri melerai pelukannya. "Non, tadi bibik sempat dengar bapak ngomong, kalau siang nanti non mau dinikahkan dengan Pak Dewa."


"Apa?" Vanya tidak menyangka, papanya akan mengambil langkah sejauh ini.


"Bibik serius, non." Bik Sri tampak berbisik lirih di telinga Vanya. "Ibu bahkan minta bibik dan pembantu lain untuk masak dadakan. Bik Minah juga bagi baru datang dari pasar, belanjaannya banyak banget untuk tasyakuran nanti."


Vanya menjadi semakin panik. "Enggak, bik. Nggak mungkin. Nggak mungkin Vanya menikah sama mas Dewa. Gimana sama Anika? Ya ampun bik."


"Jalani saja, non. Apa yang pak kena bilang banyak benarnya. Daripada non dan pak Dewa melakukan dosa, sudah cukup, lebih baik sudahi saja dan kalian harus saling memahami. Toh ini adalah bagian dari risiko hubungan non Vanya dan Pak Dewa. Udah, semua udah terlanjur. Bibik harap, non mau menikah sama pak Dewa tanpa menentang bapak. Bapak nanti murka."


"Tapi, bik, bibik tahu sendiri, Anika masih istrinya mas Dewa."


"Nggak apa-apa, non. Non harus tetap sabar dan tabah. Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja. Dijalani saja kemana arus akan membawa non Vanya. Toh nanti juga hanya menikah dibawah tangan. Jadi jangan cemas."


"Bik......" Vanya semakin bingung dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. "Kenapa jalan takdir Vanya harus begini, bik?" Tangisnya pecah lagi.


"Bukan jalan takdir yang membawa non Vanya ke sebuah penderita. Semua berawal dari non Vanya yang bersedia menjadi simpanan pak Dewa. Nggak ada gunanya menyesali semuanya, toh udah terjadi. Yang penting sekarang, jalani saja. Tetap bersikap baik dan tulus meminta maaf sama non Anika dan keluarganya, karna buat gimana pun, non Vanya yang salah. Tetap bijak dan non Vanya harus kuat."


Pedih, itulah yang bik Sri rasakan terhadap majikan mudanya. Tetapi mau bagaimana lagi? Semua sudah telanjur, kan?

__ADS_1


Dengan berat dan terasa kaku, Vanya mengangguk dan mencoba menerima apa yang akan terjadi padanya.


**


__ADS_2