
Hari ini, Niko dan Kania hendak memeriksakan kandungan Kania ke dokter spesialis obgyn. Di rumah, ayah dan bunda tengah beristirahat karena telah menempuh perjalanan jauh dari kampung halaman.
Sepanjang perjalanan, Kania hanya diam saja. Entahlah, Niko heran sendiri karena Kania tidak seperti ini biasanya.
Niko merasa tidak nyaman dengan diamnya Kania. Justru sikap barbar dan banyak tanya Kania lah yang membuat Niko terbiasa dan merasa nyaman.
Sesekali Niko melirik istrinya yang tengah mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil, pohon-pohon yang berjajar di pinggir jalan, seakan tengah berkomunikasi tanpa kata dengan Kania.
"Sayang.....
Kenapa sih dari tadi diem aja? Nggak biasanya gini. Apa ada yang sakit?". Tanya Niko tenang meski ia sedikit khawatir.
Kania mengalihkan tatapannya pada sang suami dan tersenyum lembut.
"Aku nggak apa-apa kok mas. Aku cuma kepikiran".
"Mikirin apa sih?".
"Semalam aku mimpi, Aku pas jalan sama kamu tapi nggak lama, ada seorang perempuan yang narik-narik tangan kamu gitu aja. Aku takut deh mas. Ini kayak firasat nggak baik, gitu.", Ucap Kania. Matanya seperti tengah menerawang kejadian dalam mimpinya semalam.
"Ah... kamu. Itu cuma mimpi aja kali ah. Jangan terlalu di pikirin. Entar kasian bayi kita ikut stress entar ah.".
"Masalahnya, aku nggak cuma sekali aja mas mimpi kayak gini. Perasaan aku tiba-tiba aja nggak tenang."
"Ya udah, Nanti sepulang dari dokter, kita mampir ke resto pusat yah. Ada berkas yang perlu aku ambil di papa. Semalam papa udah telpon.", Ajak Niko. Kania berubah lebih ceria saat mendengar papanya di sebut Niko.
"Siap pak bos".
...............
Kania tengah berbaring di ranjang dengan dokter memeriksa kondisi kandungannya dengan alat USG.
Di sampingnya, Niko dengan wajah tegang memandangi layar monitor penunjuk kondisi dan aktifitas bayi dalam rahim.
Dahi Niko sesekali mengernyit dan pelipisnya nampak mengeluarkan bintik-bintik keringat. Kania bukannya melihat monitor yang menampakkan bayi mereka, justru lebih suka menatap ekspresi Niko yang menggemaskan di mata Kania.
"Ini bayinya ya Bu, pak. Kondisinya sehat, detak jantungnya juga normal. Posisi bayi dan plasenta juga sesuai. Semua baik-baik saja dan semoga lancar saat lahiran nanti".
Niko tersenyum dan mendesah lega.
__ADS_1
Melihat bayinya dari layar monitor, membuat jantung Niko berdetak tak karuan.
Rasa cemas dan bahagia berbaur menjadi satu. Niko bangga, sebentar lagi, ia akan menjadi ayah.
Setelah selesai mengambil gambar saat USG, dokter meminta Niko dan Kania untuk duduk ke tempat semula.
Entah dapat keberanian dari mana, Kania tiba-tiba bertanya.
"Emmm dokter, boleh nanya nggak ya?", Tanya Kania.
"Iya silahkan Bu, mau nanya apa?".
"Saat hamil delapan bulan seperti saya, boleh nggak sering-sering berhubungan badan sama suami? Kata orang, nggak baik ya kalau tiap malem gitu-gituan pas hamil tua? Ada juga yang bilang katanya harus sering-sering gitu-gituan biar lancar pas lahiran. Yang mana yang bener ya dokter?", Tanya Kania malu-malu.
Niko pun melotot tanda protes ke arah sang istri. Wajahnya memerah karna malu. Sungguh, Niko saja tidak berani bertanya, justru Kania yang jelas berani bertanya secara gamblang tanpa sensor sama sekali.
Dokter yang melihat tingkah Mereka berdua pun tersenyum.
"Ada kalanya, hubungan intim justru membantu proses persalinan. wanita yang sedang hamil tua, akan lebih cepat mendapat kepuasan seksual. Sebab, aliran darah di sekitar ****** meningkat akibat peningkatan hormon estrogen.
Di samping itu, cairan ****** akan lebih banyak di hasilkan dan akhirnya akan membuat wanita mudah terangsang."
Namun entahlah, dokter merasa baru kali ini ada ibu-ibu hamil yang tingkat kepercayaan dirinya tinggi seperti Kania.
"Jadi, sering-sering berhubungan intim dengan suami saat hamil tua, boleh kan dokter?" Tanya Kania.
Niko yang duduk di samping Kania segera mengalihkan pandangannya ke samping. Ia malu setengah mati. Hal pribadi seperti ini di bahas tanpa sensor, membuat Niko menjadi..... entah lah, dia bingung sendiri menjabarkannya.
Dokter tersenyum.
"Tentu saja boleh, selama suami istri mengetahui beberapa batasan-batasan tertentu.
Beberapa orang mungkin menganggap bahwa berhubungan intim saat hamil tua itu tidak boleh. Sebab, menurut mereka hal itu akan melukai janin dan sang ibu yang mengandung.
Kenyataannya, kehamilan bukanlah suatu penghalang untuk melakukan hubungan suami istri, yang penting pelan dan lembut, dan di sarankan agar suami tidak melakukannya dengan kasar".
Kania begitu antusias menyimak penjelasan dari dokter. Kemudian bersorak kegirangan.
"Denger kan mas, harus sering asalkan pelan. Jadi, gitu-gituan tiap malem nggak di larang kok. Sah-sah aja." Katanya pelan seraya me-nyikut pelan perut Niko dengan sikutnya. Meski pelan, namun sang dokter masih mendengar apa yang Kania ucapkan.
__ADS_1
Wajah Niko sudah merah tak karuan. Malu nya seperti naik hingga ke ubun-ubun. Ia merutuki istrinya dalam hati. Bagaimana mungkin Kania tidak punya malu seperti ini?
"Iya dokter terima kasih sarannya. Ini berguna banget buat saya", ucap Kania.
Dalam ruangan, justru Kania lah yang banyak bicara. Niko hanya diam saja menyimak.
"Iya, sama-sama.
Tapi hendaknya, ibu memperhatikan kondisi ibu dan janin bila ibu dan bapak ingin melakukan hubungan intim. Kalau ibu dan bapak melakukannya dengan cara yang tidak aman, Justru akan membawa kondisi janin makin terancam".
Kania mengangguk paham.
Sempat tersirat dalam pikiran sang dokter, Kania lebih agresif di banding Niko. ah memikirkan pasangan suami istri ini, membuat dokter geleng-geleng kepala dan mudah berimajinasi liar.
"Iya dokter, saya paham", jawab Kania sumringah. Senyumnya pun kian lebar.
"Ada lagi yang mau di tanyakan, Bu, Bapak?", Tanya dokter. Kania menggelengkan kepalanya.
"Nggak ada dokter. Terima kasih banyak sarannya, kalau begitu kami permisi", pamit Kania kemudian. Dokter mengangguk kemudian memberi resep vitamin untuk di konsumsi Kania.
"Ini resep obatnya jangan lupa di tebus di apotik sebelah ya, Bu".
"Iya dokter. Saya pamit, permisi". Ucap Kania seraya berdiri dan melenggang pergi yang di ikuti Niko di belakangnya. Niko hanya tersenyum sekilas ke arah dokter kemudian pergi.
Setelah selesai menebus obat, Niko dan Kania menuju mobilnya dan hendak menjalankannya Namun, suara kania mengehentikan niatannya.
"Mas, Nanti malam, berani berapa ronde?", Refleks Niko menatap sang istri.
"Aku nggak mikirin itu Kania. Aku mau kerja".
"Kan aku tanya nya buat nanti malam bukan buat sekarang. Kamu nya aja yang baper an ih." Sahut Kania kemudian terkekeh karna berhasil menggoda sang suami.
"Sekali lagi Kamu tanya gitu, aku perk*sa kamu di dalam mobil ini.".
"Nggak apa-apa, aku siap aja. Hayuk, sekarang?"
"Gila kamu". Kania tertawa terbahak-bahak menyaksikan kekesalan suaminya.
Niko pun segera menancap gas menjalankan mobilnya. Melayani perdebatan dengan istrinya, jelas Niko tak akan menang.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹