
Malam ini, Kenan baru pulang dari mencari Anjani. Menyusuri jalanan tanpa henti, berharap Anjani segera ia temukan. Entah mengapa, Ken merasa tidak tenang. Fikirannya terus tertuju pada Anjani. Meski tidak setiap hari Ken mencari Anjani, tapi Ken selalu meluangkan waktunya untuk mengorek informasi kesana kemari untuk mengetahui keberadaan Anjani.
Bayangan Anjani seakan melekat kuat dalam pikirannya. Menghabiskan waktu selama Lima bulan tanpa Anjani, membuat kenan dilanda rindu yang begitu besar yang naasnya, baru Kenan sadari setelah Anjani pergi.
Menyesal? Sangat. Namun, semua sudah terjadi. Nasi sudah menjadi bubur. Tidak mungkin Ken bisa memutar waktu.
Ken tiba di rumah dan segera memarkirkan mobilnya di halaman. Sayup-sayaung, telinga Kenan menangkap suara berisik dari dalam rumah. Di ruang tengah, Kenan berjumpa dengan Kania, adiknya yang menyiapkan camilan untuk bekal mama papanya. Memindahkan kue kering dari toples besar, ke toples kecil.
"Ini ada apa sih dek?, kok suara mama kayaknya heboh banget?" Ken menghampiri adiknya,mendekat untuk meminta jawaban.
"Mama mau kerumah bibi Galuh di Pati", jawab Kania ketus. Semenjak kepergian Anjani dan mengetahui bahwa kakaknya lah penyebabnya, Kania bersikap dingin pada kenan.
Kenan bukan tak paham maksud adiknya yang bersikap sedingin itu, Kenan tau. Hanya saja.... Kenan tetap bersikap biasa saja.
Ken berjalan menaiki anak tangga dan menuju kamar sang mama.
"Ma, mama mau kemana?". Nawal melirik sekilas putranya dan menjawab dengan nada dingin.
"Jangan banyak tanya Ken. Cepet bawa baju ganti sepotong aja. Kita ke Pati sekarang!"
Kenan heran dengan mama nya yang tiba-tiba memerintah dadakan. Malam malam begini, harus berangkat ke Pati. Bukankah itu akan sangat melelahkan?
"Kenapa harus malem sih ma? Bukankah kalau besok juga bisa?" Kenan tak habis fikir dengan tingkah mamanya yang antusias untuk berangkat ke Pati sekarang. "Apa ke rumah bibi Galuh?", tanya Ken lagi.
"Iya", jawab Nawal singkat.
"Papa mana?".
"Di kamar mandi". Kenan mendesah lelah. Pasalnya, bukan lelah karna baru pulang dari perjalanan mencari Anjani, melainkan lelah karna seluruh keluarganya membencinya dan seperti tidak menganggapnya lagi.
Semua orang yang tinggal di rumah ini seperti tengah memperoloknya atas kepergian Anjani. Kenan sadar, ia bersalah. Andai saat ini ia di pertemukan dengan Anjani, Ken pastikan, ia akan bersujud saat itu juga di kaki Anjani.
__ADS_1
Namun sial, Nasib sial telah menimpa Kenan lagi dan lagi.
Kenan segera berbalik dan pergi menuju kamarnya. Ia mengambil tas kecil dan menyiapkan bajunya sendiri dan beberapa keperluannya selama di perjalanan. Saat ia mengemasi peralatan mandinya, Kenan tiba-tiba mengingat Anjani yang pernah menata barang-barangnya saat di villa dulu. Kejadian itu kembali berputar dalam otaknya.
Dari pertama ia datang, dan Anjani yang melayaninya, hingga ia memperlakukan Anjani dengan sangat kasar. Seperti kepingan puzzle yang kembali terpasang berurutan, ingatan Kenan semakin jelas dan ia seperti sulit menerima kenyataan.
Jika ia merasa terbebani dengan kenyataan ini, lalu? Bagaimana dengan Anjani saat ini? Pasti Anjani lebih kesulitan dari dirinya, Apalagi, Anjani sekarang tidak seorang diri. Ia pergi membawa calon anak Kenan juga, bagaimana kabar Anjani sekarang?
Apakah Anjani sehat?
Apakah bayi mereka juga baik-baik saja?
Apakah Anjani mampu menghadapi kesulitan seorang diri?
Apakah Anjani mengalami yang namanya mual dan ngidam?
Berbagai tanya, melintasi pikirannya, menggerogoti kepercayaan diri Kenan. Tanpa Ken sadari, sudut matanya menjatuhkan buliran bening yang jatuh begitu saja membasahi pipinya.
"Mas... Papa dan Mama udah siap di mobil. Di tunggu, cepetan". Suara Kania membangunkan lamunan Kenan. Secepat kilat, Kenan menghapus air matanya dan menoleh ke arah Kania yang berbalik pergi.
Ken pun segera berjalan menuju halaman, sedang Kania, masuk dan mengunci pintu. Kania harus segera tidur sekarang. Mengingat besok ada ulangan, Kania jadi harus cuek dengan masalah orang dewasa yang membuat nya ikutan pusing.
.................
Keluarga Fandy tiba di Pati pada waktu hampir sore hari. Perjalanan panjang yang begitu melelahkan, membuat tubuh Nawal merasa pegal-pegal sendiri.
Saat mobil tiba di Pati, Kenan yang mengambil alih kemudi. Sedangkan Nawal, memilih duduk di bangku belakang mobil dengan Fandy. Kenan merasa geli sendiri, orang tuanya ini, meski usianya tidak lagi muda, namun mereka enggan di pisahkan satu sama lain.
Mobil yang di kendarai Kenan tiba di pelataran rumah sederhana nan luas, Ukiran khas Jawa tengah nampak menghias indah setiap sudut bangunan rumah milik kyai Arsyad.
Fandy dan Nawal turun dari mobil, sedang Kenan masih enggan beranjak dari duduknya dengan tangan yang masih menggenggam kemudi mobil. Entah mengapa, jantung Kenan mendadak berdegup tak beraturan. Ia merasa ada desiran yang begitu bergejolak. Entah apa, Kenan tidak bisa memastikan apa yang terjadi pada dirinya.
__ADS_1
Saat Nawal dan Fandy turun, mereka di sambut hangat oleh sepupu Nawal, Galuh.
"Assalamualaikum, mbak yu, kang mas Fandy. Gimana kabarnya?". ucap Galuh dengan suara khas lembutnya. Fandy dan nawa tersenyum sambil sesekali melirik ke dalam rumah seperti orang yang tak sabaran.
"Alhamdulillah sehat, Diajeng. Kamu sekeluarga, apa baik-baik saja?".
"Alhamdulillah, sehat semua. Lho, ponakan ku yang cantik dan ganteng mana? kok Ndak ikut?", tanya Galuh yang nampak memperhatikan sekitar yang tak nampak siapapun selain Nawal dan Fandy.
Fandy dan Nawal pun saling melempar pandang dan Fandy segera berbalik menghampiri mobilnya untuk memanggil Kenan.
"Ken? Kamu nggak turun?", Tanya Fandy lembut. Kenan terlonjak kaget. Ya. Dalam keluarga Kenan, hanya sang ayah lah yang masih memperhatikan Kenan. Fandy adalah sosok yang paling mengerti Kenan. Bukan karena Fandy tidak bersikap tegas, Namun karna Fandy sangat menyayangi anak-anaknya hingga ia terkesan selalu memanjakan sang anak.
"Eh? Iya pah, ini Ken turun", Jawab Kenan.
Fandy dan Kenan pun berjalan beriringan menuju dua wanita yang menunggu mereka.
"Assalamualikum, Tante" ucap Kenan dengan menjabat kemudian mencium punggung tangan sepupu ibunya itu.
"Wa Alaikum salam. Waduh mbak yu, ponakan ku kok mendadak makin ganteng saja",
"Makasih, tan".
"Ayo masuk dulu, ada yang mau saya tanyakan dan mau saya sampaikan ini". Semua mengangguk dan segera masuk.
"Ayo duduk", Galuh mempersilhkan saudaranya duduk. Disana, sudah tersedia aneka makanan dan minuman. Sepertinya, kedatangan Nawal sudah sangat di tunggu oleh Galuh. mereka pun duduk dengan tenang di kursi ruang tamu. Tak lupa, kyai Arsyad juga hadir menyambut mereka.
"Kang mas, mbak yu.....", Galuh menjeda kalimatnya, "Saya minta maaf sebelumnya, Bukannya saya tidak mau mempersilahkan kalian istirahat dulu setelah perjalanan jauh, Tapi saya enggan menunda lagi semua ini".
Kenan memperhatikan tantenya dan nampaknya, di sana, Kenan lah yang paling tidak tau apa-apa.
"Anjani sudah menceritakan semua tragedi yang menimpanya di Banyuwangi. Aku sudah tau semua cerita lengkap nya meski aku belum dengar dari kalian", Kenan membelalakkan mata. Anjani? Jadi, apa Anjani ada di sini? Kenan tercekat dan lidahnya terasa kelu meski hanya untuk bertanya.
__ADS_1
Sedang Fandy dan Nawal, mereka sudah tak terkejut lagi karna dari awal, Fandy dan Nawal sudah mengetahui tentang ini.
"Saat ini, dia tengah terguncang atas kabar tentang meninggalnya ibunya. Sungguh, dia sebenarnya, meski terlihat kuat, nyatanya ia tak sekuat yang orang bayangkan. Anjani butuh sosok keluarga yang menyayanginya saat ini, mbak yu. Aku takut, nanti terjadi sesuatu dengan dia dan kandungannya. Keadaannya mendadak drop dari semalam. jadi bagaimana ini mbak yu?".