
Dua hari berlalu setelah kejadian Kania yang minta pindah kuliah ke luar negri. Hari ini pertama kali Kania bersedia keluar rumah setelah kejadian itu.
Tepat saat Kania turun ke lantai bawah, ia melihat Niko tengah berbincang dengan Fandy di ruang tamu. Penampilan Niko berantakan dan terlihat kantung matanya menghitam. Jelas sekali bahwa Niko kurang tidur. saat Kania tiba di lantai bawah, Niko refleks berdiri dan menatap Kania dengan tatapan sendu.
Fandy tersenyum kecil saat Kania melewati mereka begitu saja. Jangan tanya sebesar apa keinginan Niko untuk memeluk Kania saat ini. Dua hari tanpa bertukar kabar dan tak mendapat perhatian receh Kania, membuat Niko kacau balau luar dalam.
"Kania.... sini nak", Fandy melambai sekali pada Kania. Namun Kania memilih menolak dan tetap berlalu.
"Kalau papa ada penting papa telepon aja. Aku ada urusan di luar dan mau membeli persiapan untuk berangkat kuliah lusa". Jawab Kania tanpa menoleh papanya, berlalu begitu saja.
Bukan karna ia tak sopan pada orang tua, Namun ia hanya tak ingin bersitatap dengan Niko, itu saja. Kejadian dua hari lalu masihlah membekas di ingatannya. Sakit itu selalu membayanginya.
Setelah kepergian Kania, Niko kembali duduk dan menundukkan pandangannya.
"Jadi, kenapa sebenarnya, Niko? Apa yang sebenarnya terjadi?". Tanya Fandy dengan tenang.
"Dia hari lalu, ayah mau pulang kembali ke kampung halaman om setelah lima hari ini mengunjungi saya. Saya..... saya sengaja menyewa jasa seorang teman untuk membuat Kania cemburu. Tapi sayang, kania bukan hanya cemburu, namun juga menghindari saya".
"Loh, bukannya itu bagus? Kania sudah tidak akan mengganggumu, bukan?" Tanya Fandy keheranan.
Bukankah ini yang Niko inginkan? Lantas mengapa sekarang Niko seperti orang gila saat Kania menghindarinya? Fandy keheranan.
"Saya baru sadar saya mencintai putri om setelah dia menghindari sa.......".
pyarrrr.........
Nawal yang berniat membawakan minum untuk Niko merasa syok mendengar pernyataan Niko. Sontak Fandy dan Niko mengalihkan pandangannya pada Nawal.
"Mama?" Fandy menggumam.
__ADS_1
Niko segera beranjak dan menghampiri Nawal. Ia bersimpuh di depan Nawal.
"Maafkan Niko, Tante. Niko tau Niko nggak pantes untuk Kania. Saat dari awal Kania mengejar Niko, Niko merasa nggak percaya diri dan nggak pantes untuk kania. Niko tau diri, Niko sadar darimana Niko berasal. Niko cuma orang miskin, itulah sebabnya Niko mundur alon-alon dem......".
"Niko cukup!. Sepicik itukah kamu menilai keluarga om Fandy?", Ucap Nawal dengan nada meninggi.
"Maafkan Niko Tante, Niko salah. Niko mohon Tante. Cegah Kania untuk keluar negri. Dua hari tanpa Kania membuat Niko.......".
"Ayo berdiri, Niko". Ajak Nawal cepat, "Ayo duduk di sofa. Maaf, tadi Tante terlalu syok".
"Bibi..... tolong bereskan pecahan gelas ini sama tolong buatkan minuman untuk Niko", Pinta Nawal pada seorang pembantu yang kebetulan tak jauh darinya.
"Injeh, nyonya".
Kini, Fandy Nawal dan Niko tengah duduk di sofa. Kecanggungan mendadak kian terasa.
Niko merasa takut luar bisa. Namun, ia pasrah. Apapun yang akan di lakukan Fandy padanya, akan ia terima. Asal ia bisa bertemu dengan Kania.
"Saya mohon, om. Izinkan saya bertemu dengan putri om. Bila memang Kania harus melanjutkan kuliah keluar negri, saya tidak keberatan. Tapi saya mohon, bantu saya untuk bisa berbicara dengan Kania. Saya mau minta maaf, om. Saya..... saya baru menyadari bahwa saya nggak bisa jauh dari Kania".
"Niko, apa kamu mencintai Kania? Apa yang kamu rasakan sekarang?" Tanya Nawal. Ia hanya ingin tau sedalam apa Niko mencintai putrinya.
Tanpa mereka sadari, Kania berdiri dan menguping di balik pintu masuk. Ia sengaja menghentikan tujuannya untuk berbelanja, Melihat wajah frustasi Niko membangkitkan rasa penasarannya untuk mendengar perbincangan mereka.
Hati Kania merasa berdebar-debar penuh. Benarkah Niko mencintainya? Kania hampir saja bersorak kegirangan saat mendengar kalimat Niko bahwa Niko tak bisa jauh dari Kania. Andai ia tak sedang sembunyi, pasti Kania sudah histeris saat itu juga.
"Saya mencintai Kania, Tante. Masihkah pantas pria miskin seperti Niko ini mendapatkan maaf Kania dan mengharapkan cinta darinya?", Niko tertunduk penuh sesal.
Andai ia tak sebodoh itu, harus menyewa wanita demi membuat Kania cemburu.
__ADS_1
Kania mematung tak bergerak di balik pintu. Air matanya menetes. Kebahagiaan ini begitu sangat menyentuh hatinya.
Yang dipikir Kania, Niko tak mencintainya, namun nyatanya kini, Niko sebenarnya merasakan apa yang di rasakan Kania. Tapi Kania tak mau gegabah, ia akan menguji sejauh mana Niko mencintainya. Untuk sementara waktu, Kania akan menghindari Niko untuk mencari tau seburuk apa Niko jika tanpa Kania.
"Apa jaminanmu bila seandainya saya menerimamu sebagai menantu keluarga Mahardhika?", Tanya Fandy tegas. Nawal melirik sang suami dengan pandangan mata penuh heran.
"Saya berjanji akan membahagiakan Kania sepanjang hidup saya, om", Niko bergetar saat mengatakannya.
"Saya akan menjaga Kania melebihi diri saya, Saya mungkin tidak memiliki harta ataupun kedudukan tinggi untuk membahagiakan putri om, tapi saya akan bekerja keras demi memenuhi kebutuhan putri om dan membahagiakannya dengan kehidupan penuh cinta di dalamnya".
Kaki Niko mendadak terasa lemas. Ia bergetar hebat. Air mata yang pantang ia keluarkan, nyatanya luruh juga saat ia berhadapan dengan Fandy, ayah dari wanita yang mulai menghuni ruang hatinya.
Fandy dan Nawal saling tatap di sertai senyum kecil.
"Baiklah, saya akan menerimamu bila kamu merasa bisa membahagiakan putri saya. Tapi semua itu, kembali lagi pada putri saya. Berusahalah untuk membuktikan pada Kania kalau kamu benar-benar mencintainya". ungkap Fandy tegas.
Niko mengangguk tanpa berani mendongakkan wajahnya.
"Sudahlah, Niko. Santai aja. Tante sama om bukan orang sombong yang membedakan status orang lain. Bagi kami, semua sama. Harta dan tahta bukan sebuah patokan untuk membedakan mana yang pantas atau nggak pantas buat Kania." sahut Nawal.
"Terima kasih, Tante." Jawab Niko dengan nafas lega.
Di saat yang bersamaan, Kania muncul dari pintu masuk dengan wajah datar-datar saja, meski hatinya tengah di penuhi bunga-bunga bermekaran.
Sontak semua mata tertuju pada Kania.
"Kania, sudah pulang sayang? Ayo duduk dulu nih mas Niko mau ngomong sama Kania", Panggil Nawal setengah berteriak.
"Aku nggak kenal".
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹