
Cuaca malam ini begitu cerah. Langit dengan sinar rembulan yang lembut, membuat siapa pun enggan untuk berpaling. Hembusan angin juga terasa sangat sejuk.
Waktu nya telah tiba. Setelah Anjani bersiap untuk menemani sang anak majikan untuk pergi ke pesta, Anjani pun segera bergegas menuju mobil Ken setelah Ken memberi tahunya lewat pesan singkat di ponselnya tadi.
Ketika Anjani tiba di ruang tengah, Anjani berpapasan dengan Nawal, Fandy dan Kania yang duduk santai di sana. Anjani pun mendadak canggung saat itu.
"Nja, Lo mau pergi bareng mas Kenan ya? Wahh roman-romannya ada yang bakal jadian nih", ucap Kania santai yang langsung mendapatkan sentilan di dahinya.
"Ihhhh papa apaan sih? Sakit tau". Nawal yang menyaksikan itu pun mengulum senyum tipisnya.
"Masih kecil nggak boleh pacaran", ucap Fandy tegas.
"Lohh, kan adek bilangnya mas Kenan yang jadian?",
Anjani yang berdiri tak jauh dari keluarga sang majikan merasa bingung harus bagaimana. Anjani hanya dim dan tersenyum kaku.
"Anja, kalau kamu mau berangkat udah berangkat saja. Tidak usah dengerin Kania". ujar Nawal cepat. Anjani pun mengangguk dan berlalu pergi menuju mobil yang di kendarai Kenan. Sedangkan Ken yang duduk di belakang kemudi terkesima melihat pemandangan di depannya.
Anjani dengan mengenakan dress selutut dengan lengan pendek berwarna biru muda nampak terlihat cantik dan mempesona. Rambutnya di gerai indah dengan jepit berbentuk tiga mutiara nampak terselip indah di sisi kiri kepala. Tangannya menenteng tas pesta milik Kania yang sengaja dipinjamkan Tania untuknya.
Sungguh, penampilannya membuat Ken meneguk ludahnya kasar berkali-kali.
Hingga Anjani membuka pintu mobil dan duduk tepat di samping Kenan, Ken tersadar dari pikiran tentang imajinasi liarnya.
"Sudah mas",
"Oke kita berangkat", sahut Kenan dengan memalingkan wajahnya dan menggigit bibir bawahnya.
Sesampainya di sebuah resto tempat berlangsungnya acara pesta, Ken dan Anjani pun turun. Mereka memasuki resto yang sudah di boking oleh sang pemilik acara, teman kampus Kenan, Dian namanya.
Semua mata tertuju pada Ken dan Anjani yang baru saja tiba. Tak terkecuali Rio dan Niko yang melongo melihat interaksi Ken yang menggenggam telapak tangan Anjani.
Dian, sang pemilik acara pun menyambut tamu yang sedikit berbeda malam ini di mata para undangan yang hadir.
"Happy menetas ya di.... Semoga Lo sehat dan panjang umur. Oh iya, ini buat Lo". ucap Kenan dengan menyerahkan sebuah bingkisan kecil yang entah apa isinya. Dian pun menerimanya dengan senyum yang mengembang.
"Thank's ya", Ken mengangguk dan pandangan mata Dian beralih pada Anjani, "Siapa?"
"Kenalin, anjani"
__ADS_1
"Dian".
"Anjani".
"Gebetan baru?".
Ken tersenyum, tidak menjawab iya atau bukan. Hanya menjawab dalam hati,
'Mainan baru tentunya'
Batinnya.
Dian pun hanya menggeleng kepalanya.
'Gila Lo Ken'.
"Ya udah, sini gabung sama yang lain. Jangan sungkan-sungkan. Lo ambil apa aja yang Lo mau. Anjani, selamat menikmati pesta ya. Aku tinggal nyapa yang lain dulu", ucap Dian yang mengalihkan tatapannya pada Anjani disertai senyum ceria nya. Anjani pun mengangguk.
Pandangan Ken tertuju pada Rio dan Niko yang juga tengah menatapnya. Ken pun berjalan menuju meja dimana tempat kedua sahabatnya berada.
"Nja, Lo makin cantik aja. Pantes Ken jadi bertekuk lutut padamu", seloroh Niko yang membuat Anjani tersipu malu. Ken pun menatap tajam pada Niko yang asli tidak bisa menjaga ucapannya.
"Nja. Lo kalau mau makan ambil aja nggak usah sungkan. Sekalian ambilin gue makan sama minuman kesukaan gue", Anjani pun mengangguk dan beranjak untuk mengambil makanan yang tersaji tak jauh dari mereka.
"Wahh kayaknya si Rio bakal kalah deh taruhan sama Lo", ucap Niko tersenyum jahil ke arah Kenan semakin mengompori Ken.
Ken pun tersenyum penuh kemenangan meski ia belum sepenuhnya menang dari taruhan. Rio pun berdecak. "Batalin aja deh taruhan itu".
"Mana bisa ban**e, langkah gue udah terlalu jauh. Jangan macem-macem deh Lo". ucap Kenan dengan dengan sorot mata yang tajam.
"Sandiwara Lo keterlaluan", sahut Niko.
"Bukankah sandiwara perlu totalitas?".
"Iya deh, lanjut". Ucap Rio yang tak ingin memancing amarah Ken.
Anjani pun tiba dengan membawa apa yang di minta tadi oleh Ken. Mereka pun menikmati acara dengan hadirnya band ternama di daerah itu.
Hingga jam menunjukkan pukul 22.37 malam, acara telah usai dan mereka pun pulang. Sesaat Anjani dan Kenan menaiki mobilnya, Ken tak segera menghidupkan mesin mobilnya.
__ADS_1
"Mas, ada yang di tunggu?", tanya Anjani, Kenan melirik dengan tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya.
"Ada yang mau aku tanyakan sama kamu, nja". Anjani menoleh ke arah Kenan dengan wajah penasaran
"A aada apa, mas?".
"Aku perhatikan, belakangan ini, tingkahmu aneh. Seperti....", Ken tidak melanjutkan kalimatnya. Sengaja memancing Anjani untuk bertanya sendiri padanya.
"Seperti apa mas?".
"Kamu seperti tengah memiliki perasaan padaku. Apa kamu menyukai ku?".
Anjani membeku. Lidahnya terasa kelu. Wajahnya memerah. Seperti maling yang tertangkap basah. Anjani kelabakan.
"Jawab saja Anjani. Kamu nggak usah gugup. Aku seneng kalau kamu jujur sama aku".
"Sa saya... ehmmm saya...".
"Jangan terlalu formal nja. Kamu cukup pakai aku-kamu".
"Aa aku, Aku memang suka sama mas Ken". Ucap Anjani cepat dengan menunduk tidak berani menatap Ken yang menyeringai penuh kepuasan. "Maaf mas, kalau Anja selama ini lancang. Anja nggak berharap mas Ken membalas perasaan Anja. Anja tau diri kalau Anja nggak pantes sama se......", kalimat Anjani terhenti kala jari telunjuk Ken menempel tepat di bibir Anjani. Mata Anjani pun berkaca-kaca.
"Kamu bener suka sama aku?", Anjani mendongak memberanikan diri menatap netra mata Kenan. Sesaat kemudian Anjani mengangguk dengan kristal bening di sudut matanya yang siap jatuh saat itu juga. Tubuhnya gemetar hebat.
"Kalau aku menerima perasaanmu, Apa yang mampu kamu berikan untukku?" Tanya Kenan tanpa menoleh kearah Anjani, pandangannya beralih menatap lurus kedepan.
"Maksud mas?",
Kenan menoleh lagi pada Anjani, "Haruskah aku mengulang pertanyaan yang sama dalam satu waktu?".
"Apa yang mas mau?", Tantang Anjani dengan suara mantap.
Kali ini, Anjani harus membuang jauh egonya. Ia terlanjur jatuh hati pada Kenan. Jika ada celah untuknya bisa mendapatkan Kenan, Bukankah Anjani harus memanfaatkannya?
Anjani benar-benar kehilangan akal nya.
Cinta sudah membutakan mata hatinya.
"Aku mau kamu Anjani. Kalau kamu benar-benar mencintaiku, aku mau segalanya dari kamu. Bukankah sesuatu perlu totalitas? Aku mau bukti kalau kamu benar-benar mencintaiku. Aku juga mampu memberikan segalanya pada mu. Uang, harta, kasih sayang, perhatian. Apa pun itu. Tapi kamu? Apa milikmu yang bisa kamu berikan kepadaku?".
__ADS_1
Anjani bimbang di buatnya.