
Kini, adalah senja ke tiga Kania pergi dari keluarganya. Tak satupun petunjuk Kania tinggalkan. Setelah semua yang terjadi padanya akhir-akhir ini, Kania mencoba untuk lebih dewasa menyikapi apapun, dan lebih berhati-hati dalam bersikap. Kania benar-benar muak berada dalam keluarga Mahardhika. Kania juga sangat pilu bila masih bertahan dalam rumah tangganya yang seperti neraka.
Dalam rumah tangga, tak pernah ada segalanya akan berjalan milis dan baik-baik saja. Akan selalu ada jalan terjal, tikungan berliku, lonjakan bahkan jalan temurunan yang menukik tajam.
Kania sadar. Selama ia dan Niko mengarungi bahtera rumah tangga, selalu baik-baik saja. Untuk hal ini, Kania menyikapinya dengan positif thinking saja. Mungkin, ini hanyalah bagian dari jalan terjal yang memang harus Kania lalui.
Hanya saja......
Mengapa harus dalam keadaan yang seperti ini?
Di saat Kania sebenarnya benar-benar butuh support keluarganya, butuh kasih sayang suaminya dengan porsi lebih, butuh banyak perhatian dari orang-orang terdekatnya.
Sayangnya, harapan hanya tinggal harapan. sebanyak apapun Kania memupuk harapan, Setinggi apapun Kania berangan-angan, Sekuat apapun Kania bertekad, tetap saja ia tak akan pernah di dengarkan meski hanya sekedar untuk berkeluh kesah.
Dan saat ini, Kania hanya bisa meratapi nasib. Mempercayakan pada kuasa dan mukjizat Tuhan akan nasibnya ke depan.
"Ingin rasanya aku berteriak di depan kamu, mas. Ingin rasanya aku memberitahu kamu semuanya, ingin rasanya aku membuka tentang yang terjadi pada diriku, ingin rasanya aku menyampaikan kabar ini untukmu, tapi kamu bahkan tidak pernah berusaha memberiku kesempatan untuk bicara.
Andai suatu saat nanti kamu tahu dan terlambat kamu sadari, apa kamu akan tetap nyalahin aku?"
Kania bermonolog seorang diri. Tangannya menggenggam foto tanpa pigura, foto pernikahannya dengan Niko, suaminya.
Kania tengah berada jauh dari kota kelahirannya, kota yang menjadikannya sebagai anak ningrat dan penuh kenangan. Ia sudah bertekad untuk menjauh dari keluarganya. Entah untuk sementara waktu, atau mungkin..... Kania tak bisa menjanjikan batas waktunya. Percayalah, di acuhkan oleh orang-orang yang sangat di cintai secara bersamaan itu, sangat menyakitkan.
Kania bahkan hampir tak tahan dengan semua ini dan memilih bunuh diri, andai Sila tak datang untuk mencegahnya.
"Aku rindu kamu, mas.... aku rindu Fatih, aku rindu keluargaku. Tapi kalian, bahkan nggak peduli aku sama sekali. Aku nggak kuat di perlakukan seperti itu olehmu".
Keluh Kania lagi.
Sila yang ada di dekat Kania dan duduk di ranjang yang sama dengannya, mau tak mau ikut sedih. Membayangkannya saja, andai Sila ada di posisi Kania, belum tentu Sila bisa kuat. Yang bisa Sila lakukan saat ini, hanyalah menghibur Kania dan memberinya banyak semangat agar tak terpuruk lebih dalam lagi.
"Lo nggak usah sedih. Tenang aja, kita nggak usah pindah-pindah. Tinggal tetap aja di sini. Di sini, gue punya koneksi, dan Lo harus bekerja demi bisa menghidupi diri, dan mengalihkan fokus Lo pada suami Lo yang nggak tegas.
Eh ngomong-ngomong, suami Lo itu, banci ngak sih?"
__ADS_1
Celetuk Sila untuk menghilangkan suasana mencekam di kamar yang mereka tempati.
Kania tak segera menjawab,. pikirannya memikirkan banyak hal, meski pandangan matanya kosong dan ia hanya diam. Hingga pada akhirnya, Kania memutuskan satu hal demi kelangsungan hari-harinya ke depan.
"Kalau Lo emang yakin keluarga gue nggak bisa melacak keberadaan gue di sini, gue nggak keberatan untuk menetap di sini. Lo bener, Sil, gue harus memulai hari gue dan menyibukkan diri demi mengusir bayangan mas Niko".
Lirih Kania. Ia hanya tak mau terus larut dalam kubangan rasa cinta yang nyatanya, sulit memberinya kepercayaan.
Bukan hanya itu, cinta nya itu bahkan tak peduli padanya hingga tiga pekan terakhir. Seharusnya, Kania di rangkul dan di didik ketika melakukan kesalahan, bukan justru malah di salahkan, kemudian di diamkan.
begitu pikir Kania.
**
Sudah tiga hari ini, Kania pergi entah kemana. Di kediaman Niko, Niko benar-benar kelimpungan dalam mengurus pekerjaannya, akibat kehilangan fokusnya. Bukan hanya itu, bahkan Niko merasa perih dan pilu ketika Kania meninggalkan dirinya, dan juga Fatih.
Mbak Sari sebagai pengasuh, tak bisa berbuat banyak. Ia hanya bisa mengasuh Fatih. Niko sang majikan, bahkan berjanji untuk memberikan kompensasi lebih pada mbak Sari sampai Kania kembali.
"Aduh sayang, kamu diem, dong."
"Nak, gimana kalau Fatih dan mbak Sari, ikut ke rumah mama dan papa saja? Nanti biar di antar saja mbak Sari dan Fatih nya kalau kamu udah udah kerja".
Tawar Nawal hati-hati, takut-takut kalau nanti Niko tersinggung pada kalimatnya.
"Niko nggak mau merepoti mama."
Jawab Niko singkat. Tubuhnya masih mengayun pelan Fatih yang ada dalam gendongannya.
"Kamu ngomong apa, sih? Kami tetap keluarga kamu."
Celetuk Kenan.
"Kania nggak akan pergi lama. Bagaimana pun, ia seorang ibu yang nggak akan mampu kisah sama anaknya. Aku udah cari dan mengerahkan orang-orang handal untuk menemukan Kania". Imbuhnya lagi.
"Aku hanya ingin Kania kembali. Aku menyesali sikapku yang mendiamkannya, padahal, seharusnya aku merengkuhnya dan mendengar keluh kesahnya".
__ADS_1
Sahut Niko lirih, seiring tangis Fatih yang mereda.
Nawal kembali menangis. Entah air mata yang ke berapa, tapi yang jelas, tak ada seorang pun, ibu yang mau di tinggal oleh putrinya, apapun alasannya.
Mungkinkah.....
Ini karma? Dulu, Nawal yang harus berpisah dengan Fandy karna Mila ketika sedang mengandung Kenan. Setelahnya, Kenan yang menghamili anak pembantunya, dan mencampakkan Anjani begitu saja, hingga berujung pada penyesalan akibat kepergian Anjani.
Dan sekarang Kania.
Nawal semakin terisak pilu.
"Pak... pak... pak Niko..... Saya... saya temukan ini di kantung sampah di kamar mandi yang di dalam kamar den Fatih".
Mbak Sari tiba-tiba datang dan mengejutkan seisi rumah. Dengan tergesa, mbak Sari menyerahkan sebuah benda kecil pilih memanjang, dengan dua garis merah di tengahnya.
"Punya siapa ini, mbak? Punya mbak Sari?"
Tanya Niko. Otaknya masih belum mencerna apa yang di maksud mbak Sari.
"Huush..... Ya punya ibu lah, pak. Kan..... ibu belakangan sering tidur sama den Fatih. Jadi saya nemuin ini. Dan sudah pasti, ini milik ibu".
Tubuh Niko meluruh ke lantai yang sangat dingin. Air matanya kembali luruh ketika mendapati, bahwa Kania pergi dalam keadaan mengandung anak kedua mereka. Niko menyesal. Menyesali semuanya.
Y**a tuhan...... karma mu benar-benar terjadi. Apa yang mas Fandy perbuat di masa lalu, kini telah di lalui dan di rasakan anak-anak kami.
Kania.... kembalilah, nak..... Mana mohon.....
Jerit Nawal pilu. Malam ini, keluarga Mahardhika sedang di Landa duka yang benar-benar lara.
🍁🍁🍁
Buat semua yang udah support dan komen, makasih ya semua..... Maaf. Maaf banget nggak bisa balas satu-satu.....
Semoga kita semua sehat selalu, ya......
__ADS_1
Sampai jumpa di part berikutnya esok hari❤️❤️🥰