PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 3. 22


__ADS_3

Beberapa hari berlalu. suasana rumah tangga Dewa dan Anika sudah mulai kembali baik secara perlahan. Dewa yang tak lagi menghakimi Anika, juga Anika yang mulai bersikap biasa saja tanpa berkata dingin lagi.


Di rumah Vanya, Kenan dan Anjani pun sudah kembali pulang. Beberapa hari ini, Vanya juga sudah tampak santai dan tak lagi bekerja di kantor Dewa, karena resign.


Meski antara Vanya, Dewa dan juga Anika sudah mulai damai sedikit demi sedikit, namun tidak demikian bagi Kania yang instingnya mengatakan, bahwa Dewa dan Vanya justru masih bermain di belakang Anika.


Seperti pagi ini ketika sarapan di rumah Dewa berlangsung. Kania duduk dengan nyaman sembari menatap Siska yang tengah mengayunkan Vio. Usai sarapan begini, Vio memang lebih suka digendong maupun diletakkan dalam ayunan.


"Nika, nanti malam aku ada urusan di luar kantor untuk mengontrol pekerjaan anak buah di kantor. Mungkin aku akan pulang tengah malam jika tak terlalu banyak pekerjaan." Ungkap Dewa tiba-tiba.


Anika hanya mengernyitkan keningnya.


"Jika banyak pekerjaan, artinya kamu mau pulang sampai pagi seperti kemarin-kemarin?" Anika tak mengerti. Mengapa bisa Dewa tidak kepikiran untuk mengontrol anak buahnya di saat sing hari saja?


"Bukan begitu? Sore hari aku cenderung menemui rekan bisnis. Kamu tahu sendiri bahwa rencananya kantor akan buka cabang lagi."

__ADS_1


Sekali lagi Anika menghembuskan nafasnya kasar.


"Entahlah, mas. Aku lagi males ribut dan juga males debat sama kamu. Masa iya, orang bekerja tak mengenal waktu begini? Ingat, mas. ada vio yang sangat butuh waktu dan perhatian kamu juga sebagai ayahnya." Apa nggak bisa gitu, kalau malam kamu ada di rumah. Bukan demi aku, mas. Tapi ini demi Vio."


Dewa terdiam di tempatnya. Bukan tidak sadar, Dewa sangat sadar bahwa ia sudah cukup lama tidak bercanda dengan Vio. Mungkin jika dikatakan brengsek, Dewa akan menerima hujatan itu terhadapnya.


"Aku mengerti. Baiklah, aku akan usahakan pulang lebih cepat nanti."


Anika tersenyum dalam hatinya, senyum perih yang perlahan coba ia bayangkan, nyatanya tak sirna. Cinta Dewa sudah tak lagi untuknya, Andai tak ada vio, Anika lebih tertarik untuk tidur siang saja.


"Jam berapa Dewa biasanya keluar dari kantor, Anika? Kamu harus tegas dan jangan lemah, Anika. Jika perlu, kamu haru mencari bukti perselingkuhan mereka."


Anika mengangguk. Raut wajahnya datar dan juga sorot matanya menunjukka emosi yang rumit.


"Biasanya pukul empat sore, kadang juga pukul tiga, ma. Anika nggak tau jelasnya. Hanya saja, sekarang bahkan Anika nggak tahu pasti, kapan mas dewa pulangnya. Mama tahu sendiri mas Dewa selalu berangkat pagi pulang tengah malam."

__ADS_1


"Maka Dewa tak akan mampir sana sini jika ia tak memiliki simpanan. Pokonya, kamu harus mencari tahu bukti perselingkuhan suamimu dan Vanya."


"Lalu Anika harus bagaimana, ma?"


Kania terdiam sejenak. Wanita itu tengah memikirkan banyak hal dan merancang sebuah rencana.


"Ada Vio yang harus diperhatikan. Biar mama yang akan mencari tahu semuanya, dan juga akan merekam apa pun aktivitas suamimu diluar rumah sekaligus keluar kantor.


"Apa? jadi mama mau membuntuti dan menguntit mas dewa?"


"Tak ada pilihan lain lagi, Anika. Mama nggak mau anak mama di permainkan begini. Jadilah wanita yang kuat."


"Baiklah, ma."


**

__ADS_1


__ADS_2