
"Hahahaha... hahaha........ Jangankan malaikat, bahkan iblis pun tertawa melihat dan mendengar doa dari kamu yang bangga akan hubungan haram kalian. Maaf, Dewa bukan lagi seleraku. Ambil saja. Tempat sampah dan penampungannya bahkan lebih pantas bersatu. Aku terlalu berharga kalau harus bersaing dengan wanita serendah kamu."
Suara Anika lantang, menggema ke sepenjuru ruangan. Tak ada yang berani menimpali, ataupun menyahuti. Baik Dewa maupun Vanya sama-sama tertegun.
"Nika . . . ." Vanya bangkit, memberanikan diri menatap Anika yang menatap penuh murka padanya dan Dewa.
"Kamu mencintai Dewa? Aku harap kamu tahu, andai aku nggak mencintai Dewa, kecewaku, sakitku, marahku, nggak akan sebesar ini. Tapi untuk apa?" Anika sekuat tenaga menahan air matanya, namun tak bisa. Cairan laknat itu merembes juga keluar dari sudut mata Anika dengan tak tahu malu.
"Bahkan itu tetap nggak akan membuat Dewa berubah meski berulang kali aku memintanya untuk berhenti, dan memperbaiki rumah tangga kami. Akhirnya aku sadar, perjuangan sepihak hanya akan mempermainkan si pejuang. Aku sudah terlanjur di titik ini, silahkan kalian pulang dan resapi semuanya. Surat cerai akan segera di kirim ke kamu, bapak Dewa Sinatra."
"Nika, tunggu. Tolong beri aku waktu untuk menjelaskan." Dewa melepas genggaman tangannya pada Vanya, beralih mengejar Anika yang hendak beralih pergi dengan air mata mengucur, meski Nika menampakkan raut wajah datarnya.
"Waktu kamu udah habis, Dewa."
Panggilan mas untuk dewa sudah tak ada lagi. "Aku berhari-hari ngasih kamu waktu untuk bicara, memberi kamu pilihan, bukannya jawaban dari mulut kamu, tapi adegan ranjang kalian yang menjijikkan itu cukup ngasih jawaban. Selamat, kamu udah berhasil menghancurkan aku. Oh bukan, bukan kamu, tapi kalian berdua. Selamat sekali lagi. Semoga kalian bahagia."
Anika menepis kasar tangan Dewa yang masih mengejarnya, hingga lantas nika habis kesabaran dan menendang Dewa, menjambak lalu menghempasnya ke lantai, Dewa tetap diam tak bergeming di tempatnya.
__ADS_1
"Nika, please, hentikan. Sakit." Desis Dewa yang merasakan kepalanya terasa berat, namun juga tak ingin melawan kemurkaan Nika.
"Sakit? Sakit kamu bilang? Andai aku nggak melihat dan memandang om Ken dan Tante Anja disini, aku udah lama menghabisi kamu dan Vanya dengan tanganku sendiri, dewa."
"Nika, Tolong ak......"
"Berhenti bicara atau aku oengal kepalamu, pelacur. Bahkan pelacur saja rela membuka paha lebar-lebar demi uang. Kamu? Kamu bahka lebih rendah dari itu. Rela berzina atas nama cinta bersama ipar sepupu."
Anika berlaku pergi setelah ia puas menghajar Dewa.
"Hentikan, Dewa. Beri Anika ruang dan waktu untuk menenangkan pikiran. Sekarang nggak ada gunanya lagi kamu ada disini. silahkan pergi. Kami akan urus segara sesuatunya dan kamu tinggal menanda tangani berkas perceraian. Dengan begitu, kamu bisa bebas sama Vanya dan nggak lagi berzina dalam waktu lama."
"Pa . . . "
"Tolong hargai dia, Dewa. Tenangkan pikiran. Kembalilah ke tempat kamu. Semua sudah jelas." Ujar Niko datar.
"Kalian nggak perlu bersembunyi-sembunyi lagi. Biasa aja, semua orang udah tau. Jadi ya sudah." Kania menimpali.
__ADS_1
"Dek......" Kenan berusaha mendinginkan suasana. Namun sayang, Kania mengacungkan telapak tangan mengisyaratkan agar Kenan berhenti.
"Kak, aku mau Kakak pulang aja dulu. Bawa anak istri kamu. Kalau suasana hati aku dan Anika mulia membaik, kita bicara lagi." Kania bangkit dan berlalu pergi, melirik Dewa dengan benci yang menggunung. Beruntung, Kania bisa menguasai emosinya dengan baik..
Baru saja empat langkah Kania berlalu dari ruang tamu, Vanya mengejar Kania dan memeluk kaki kanan Kania. Tentu saja Kania terperanjat.
"Lepaskan, Vanya. Apa-apaan kamu ini?"
"Ampun, Tante. Maafkan Vanya. Vanya rela di hukum. Tapi Vanya mohon, tolong jangan seperti ini. Maafkan Vanya. Maafkan Vanya, Tante." Vanya mencoba mengiba pada Kania.
"Sebagai sesama wanita, tolong hargai aku dan Anika sebagai wanita pula, Vanya. Jangan pernah merendahkan harga diri kamu. Jangan menjatuhkan nilainya sendiri. Dari awal, kamu udah memilih jalan ini. Sebenarnya, aku sayang sama kamu, kayak Tante sayang ke Anika. Tapi untuk saat ini, Tante masih perlu waktu untuk mencerna apa yang terjadi. Jangan menganggu Anika juga. Mungkin anak itu butuh waktu bertahun-tahun untuk memulihkan hatinya. Sekarang pergilah, jangan ganggu aku dan Anika."
Tegas kalimat Kania, meluncur begitu saja dari mulutnya. Dewa hanya bisa menunduk, bak seorang Nara pidana yang mendapat penghakiman.
"Kak, nikahkan mereka meski hanya di bawah tangan. Jangan membiarkan keduanya tidur bersama-sama tanpa pernikahan. Nggak usah sungkan dan nggak enak hati, Anika bahkan udah mempersilahkan. Setelah sah berpisah dengan Anika, Dewa bisa menikahi Vanya secara resmi. Sekarang pulanglah, biarkan kami menenangkan Nika dan Vio."
Niko berlalu begitu saja dari tempatnya, meninggalkan Kenan dan Anjani begitu saja.
__ADS_1
**