
"Gimana nggak pucat karna kelelahan, bunda? Habisnya di gmpur siang malam sih sama mas Niko", Jawab Kania ringan.
Niko, ayah dan bunda terpaku mendengar pernyataan manantunya ini.
~part sebelumnya~
"Oh ya?", Tanya ayah kemudian. Setahun menjadi mertua Kania, membuat ayah hafal akan bahasa barbar menantunya ini.
"Iya ayah... pinggang Kania pegel semua nih di buatnya". Keluh Kania.
"Ya udah, nanti biar bunda nasehati calon bapak ini. Jangan khawatir, nanti bunda buatkan ramuan oles beras kencur buat mantu bunda. Oh iya, ini bunda buatkan makanan dan sehat untuk Kania". Ucap bunda seraya membuka kotak makanan berukuran sedang yang ia bawa.
Niko mendesah pasrah. Bila Kania sudah bertemu dengan ayah dan bundanya, sudah tentu Kania akan bermanja-manja. Beruntung, ayah dan bunda mengerti sifat menantunya, jadi mereka mengagap itu hanya candaan semata. Bila tidak, sudah pasti Niko yang akan jadi objek sasaran amukan ayah dan bundanya. Menikmati sensasi kemarahan orang tua yang begitu memusingkan.
"Makasih, bunda", ucap Kania tulus.
...............
Siang ini, Ken mengadakan pertemuan dengan Faruq, kawan semasa kuliah dulu. Dengan membawa serta Anjani dan Vanya, Kenan memesan tempat di resto ayahnya yang saat ini telah di berikan kepada Niko.
Dengan menggunakan khimarnya, Anjani berjalan anggun di samping suaminya.
Vanya, gadis kecil cerewet nan aktif itu, mengoceh sepanjang perjalanan. Meski kata-katanya nggak jelas, namun tak jarang Ken dan Anjani tertawa bersama menyaksikan tingkah lucu putrinya.
Ken dan istrinya sudah duduk di sebuah meja di pojok ruangan. Tempat paling sepi dan nyaman saat di pakai untuk pertemuan bisnis. Tak jarang, banyak pasang mata memperhatikan keluarga kecil yang bahagia itu.
"Papa titata tuttutatti......", ucap Vanya yang sama sekali tak di mengeri oleh Kenan. Kenan hanya menanggapi dengan senyum dan sekedar menyahut 'iya'.
Setelah minuman pesanan Ken datang, Seorang pria berpakaian muslim tengah menghampiri mereka.
Dia lah Faruq.
Sesaat mereka berbincang-bincang mengenai bisnis dan mencapai sebuah kesepakatan.
Anjani tersenyum lega. Pada akhirnya impiannya untuk belajar bisnis akan mulai terlaksana. Perjuangannya akan di mulai sebentar lagi. Meski usia baru dua puluh tahunan, namun tak sedikitpun menyurutkan niat Anjani.
Setelah kepergian Faruq, Anjani dan sang suami masih terlihat betah mengobrol seraya sesekali menyuapi Vanya makanan. Belum selesai menyuapi Vanya, tiba-tiba Anjani melihat seorang wanita tengah menumpahkan sedikit minuman pada bahu Kenan, suaminya.
__ADS_1
Wanita dengan pakaian seksi ini, bukanlah Seyna.
Wanita berwajah asli Jawa namun penampilannya di buat ke bule-bule an yang rambutnya di cat pirang.
"Ma.... maaf mas. Aduh maaf banget nggak sengaja" Ucap si gadis. Tak lama, Seorang wanita paruh baya datang menghampiri.
Kenan menanggapi dengan wajah dingin.
"Lain kali hati-hati". Tukas Kenan yang hanya datar-datar saja.
"Aduh Winda...... Kamu biasa deh ceroboh ah". Ucap wanita puh baya itu tiba-tiba.
"Maaf ya, nak. putri ibu memang seperti ini. Atas nama putri ibu, ibu minta maaf ya", ucapnya kemudian seraya mengalihkan tatapannya pada Kenan.
Kenan memperhatikan sekilas. Wanita paruh baya ini, penampilannya cukup sopan dengan mengenakan hijab.
"Nggak apa-apa Bu, lain kali suruh hati-hati saja", Jawab Ken kemudian beralih mendekati sang istri.
Belum sempat ada yang membuka suara lagi, tiba-tiba Vanya turun dari pangkuan Anja dan berlari kencang menuju keberadaan Fandy. Ya, saat itu Fandy baru keluar dari ruang kerjanya dan berniat untuk mengecek keadaan pantry.
"Opa...." teriak Zhivanya kencang. Fandy pun menoleh dan tersenyum lebar ke arah cucunya, Anak kecil menggemaskan dan begitu lucu di mata Fandy.
"Mas Fandy?" Gumam wanita paruh baya itu yang didengar begitu jelas oleh Anjani. Tentu saja Anjani menatap lekat wanita paruh baya di hadapannya ini.
"Ibu kenal dengan mertua saya?", Tanya Anjani heran dan wanita paruh baya itu. Wanita itu menatap Anja kemudian mengangguk dan tersenyum lembut.
"Nak, kamu Kenan kah?", tanya si wanita itu tiba-tiba, tanpa menjawab Ken mengernyitkan kedua alisnya.
Dari mana wanita itu tau tentang dirinya?
Pikir Kenan.
"Iya Bu.... Nama suami saya Kenan." Jawab Anjani. Sepertinya,di masa lalu, keluarga mertuanya cukup kenal dengan wanita ini.
Fandy yang menggendong Vanya pun segera menghampiri anak dan menantunya. Alangkah terkejutnya Fandy ketika mendapati keberadaan wanita paruh baya itu di dekat Kenan.
"Mila?", Tanya Fandy dan mendapat jawaban iya dari si wanita. "Loh apa kabar?" tanya Fandy dengan senyum ramah.
__ADS_1
"Oh iya, kenalin.... ini anakku, Winda", ucap Mila seraya menyuruh Winda menjabat tangan Kenan.
"Winda, om".
"Panggil saya om Fandy. Dan ini Kenan putraku, di sampingnya ini menantuku, istri Kenan. Namanya Anjani",
Mereka pun saling berkenalan dan sedikit berbincang-bincang.
Anjani hanya memperhatikan sekitar.
Winda tengah menatap lekat suaminya.
Di saat seperti ini, naluri istri selalu tajam dan peka atas suatu hal.l tentang suaminya.
Anjani merasa, gadis yang bernama Winda ini, seperti ya tertarik pada suaminya, Kenan.
"Oh iya, kalian berdua aja?", Tanya Fandy saat itu.
"Iya, mas. Winda ini, satu-satunya anak ku.".
"Suamimu?", Wanita bernama Mila itu tersenyum.
"Suamiku sudah meninggal tiga tahun silam".
"Oh maaf, aku bener-bener nggak tau".
"Nggak apa-apa.".
Entah mengapa, Fandy merasa tak nyaman dengan pertemuan ini dan ingin segera melanjutkan pekerjaan.Wanita bernama Winda ini menatap aneh ke arah Fandy.
"Oh ya, aku tinggal melanjutkan pekerjaanku dulu, ya", ucap Fandy tiba-tiba. Kemudian menyerahkan Vanya pada menantunya.
Setelah Fandy berlalu, Anjani pun mengajak Kenan untuk segera pergi. Entah itu pulang, ke distro Kenan, atau kemanapun, asal pergi dari si Winda ini.
"Ayo mas, katanya kau mau ngelanjutin pekerjaanmu tadi".
"Oh iya aku lupa", jawab Ken kemudian menatap dua wanita di hadapannya ini bergantian.
__ADS_1
"Saya pamit, Tante... permisi....", Ucap kenan kemudian berlalu pergi dari sana. Winda menatap Kenan penuh arti. Dia salah karna telah menunjukkan kesukaannya pada suami orang.
🌹🌹🌹🌹🌹