
Dua bulan berlalu. Keluarga Mahardhika masih seperti biasanya dalam beraktifitas. Tak ada yang berubah. Semua masih sama seperti yang dulu.
Hanya saja, putri bungsu keluarga Mahardhika semakin memasang tembok Sekar di antara dirinya dan keluarganya. Semakin hari, Kania semakin tak tersentuh dan semakin menjauh.
Niko, sebagai suaminya tak menyangka bahwa nasehatnya tempo hari untuk tak mencampuri urusan orang lain, akan berbuntut panjang seperti ini. Lama-lama, Niko khawatir juga jika terus di biarkan seperti ini.
Di rumah sakit, Anjani, menantu keluarga Mahardhika itu tengah berjuang melahirkan buah hati kedua. Di sisinya, Kenan sama sekali tidak henti-hentinya berdzikir dan berdoa agar prosesi kelahiran bayi kedua mereka ini, di lancarkan.
"Sayang, kamu kuat. Yang sabar, ya. Istighfar, tarik nafas dalam-dalam, hembuskan perlahan."
Ucap Kenan lembut. Suaranya sedikit bergetar akibat menahan kepanikan.
"Mmas..... engh......"
Anjani melenguh menahan sensasi rasa sakit yang menjalari seluruh perut dan punggungnya. Keringat mulai bercucuran dari dahi dan seluruh tubuhnya.
"Tahan sayang, kamu kuat". Kenan semakin mengeratkan genggaman tangannya pada telapak tangan istrinya sebagai upaya mengalirkan kekuatan.
"Mas... Argh..."
Anjani sedikit berteriak ketika di rasanya, bayinya seperti terdorong hendak keluar. Dokter dan perawat yang sudah siaga, mulai memasang ancang-ancang.
"Tarik nafas dalam-dalam, Bu. Pembukaan nya sudah sempurna. Bayinya sudah mau keluar. Tarik nafas dalam-dalam, kemudian cobalah untuk mengejan lebih kuat".
Titah dokter.
"Uh aaarrrggghhhhh......"
Anjani mengejan beberapa kali. Sumpah demi apapun juga, Kenan di Landa kegelisahan tingkat akut seketika. Andai boleh bertukar, biarkan Kenan saja yang menggantikan posisi Anja melahirkan. Bukankah pria lebih kuat menahan sakit ketimbang perempuan?
"Sayang, kamu kuat. Kamu, ibu yang hebat".
Mata Kenan di hiasi kaca-kaca tipis yang siap jatuh kapan saja. Ya tuhan, melihat wanita yang di cintai kini sedang berjuang antara hidup dan mati, membuat Kenan frustasi.
"Mas....."
Anjani mendesis. Memanggil nama Kenan demi menguatkan dirinya. Nama suaminya, adalah jimat tersendiri yang bisa meluruhkan rasa sakit secara perlahan, dan memberinya kekuatan yang nyata.
"Sedikit lagi, bu... Iya, lanjutkan, dorong lebih keras lagi".
__ADS_1
Perintah dokter. Kenan mengeluarkan berjuta sumpah serapah untuk sang dokter yang bisanya hanya memerintah. Hei, tidak bisakah dokter itu mengerti bahwa Anjani sudah kesakitan?
"Aaaaaaaaaaaa........."
Jerit tangis bayi melengking mengisi seluruh ruangan. Ken mengucap syukur beberapa kali dan menempelkan keningnya pada kening Anja. Air mata haru tumpah begitu mendengar tangis bayi yang membuat keluarga kecilnya begitu sempurna.
"Terima kasih, sayang. Terima kasih".
Kenan masih terus terisak, meresapi rasa haru yang kian membuncah.
"Selamat, ya bapak, ibu. Bayinya laki-laki. Sehat dan sempurna. Silahkan jika mau di adzanin?"
Ungkap dokter itu dengan lembut, setelah Anjani melakukan contact skin to skin dengan bayinya. Kenan dan Anjani menatap bayi itu dengan perasaan bahagia.
Hari itu, adalah hari yang semakin membuat keluarga kecilmereka menjadi lebih sempurna. Dulu, baik Kenan maupun Anjani tidak pernah membayangkan akan datangnya kebahagiaan seperti ini. Tapi, bukankah Tuhan memiliki jalan yang indah setelah ribuan rasa sakit yang menimpa?
**
**
Fandy, Niko dan Kania tengah duduk bersama di ruang kerja Fandy di kediaman mereka. Setelah Anjani berhasil melahirkan bayi kecil, Fandy pamit pulang dengan alasan untuk mengurus beberapa hal. Tentu saja dengan meninggalkan Nawal di rumah sakit untuk mengurus anak dan menantu kesayangannya itu.
"Apa yang kamu lakukan pada Dira, Kania Putri Mahardhika?" Fandy menahan emosinya.
Kania Menatap papanya tanpa rasa gentar sama sekali. Sebelum melakukan tindakan untuk membuat Dira menderita, Kania sudah mengantisipasi hal ini akan terjadi. Namun, Kania tak menyangka akan secepat ini kabar mengenai Dira, sampai ke telinga papanya.
"Apa ada yang salah?"
Tanya Kania ringan, seolah kemarahan Fandy tak ada apa-apanya di hadapan wanita itu.
"Kamu sudah membebaskan Dira, dan menjualnya pada pria yang memiliki seksual yang menyimpang. Membuatnya menderita dengan siksaan-siksaan ketika melayani nafsu pria bejat.
Di mana hati nurani kamu? Apa kamu nggak kasihan? Bagaimana kalau kamu juga ada di posisinya? Kenapa kamu nggak mikir dulu sebelum bertindak? Kenapa kamu........".
Fandy menggelengkan kepalanya pelan beberapa kali. Merasa tak berdaya dan kehabisan kata-kata.
Niko terkejut luar biasa. Bagaimana hal yang sangat sensitif ini lolos dari pengawasannya?
Bagaiman bisa istrinya bisa melakukan hal itu? Bagaimana mungkin Kania tak memiliki perikemanusiaan? Bagaimana tanggung jawabnya sebagai suami? Bagaimana. Bagaimana. Bagaimana.......
__ADS_1
Segudang tanya mencuat dengan sendiri di kepala Niko.
"Apa?"
Niko menatap Fandy, kemudian menatap Kania, menuntut konfirmasi kebenaran berita yang di sampaikan mertuanya itu.
"Apa bener seperti itu?"
"Ya. Tapi aku melakukan itu demi bisa membuatnya jera, pa". Kania membela diri. Bagaimana pun, Kania telah mengetahui semua seluk beluk dan latar belakang Dira. Wanita rubah itu tak akan berhenti menggoda Kenan bila hanya di biarkan mendekam di penjara.
"Membuatnya di penjara saja sudah membuatnya kena sangsi sosial, kenapa harus membalas nya sekejam itu? Toh mas mu tidak masuk dalam perangkap nya?"
Nada bicara Fandy yang tadinya lembut, kini sedikit meninggi. Sesuatu yang tak pernah di lakukan ya di depan anak-anak.
"Papa sama mama nggak kurang-kurang dalam mendidik kamu. Mau kamu apa sih sebenarnya, Kania? Kenapa selalu membuat ulah?"
"Bukan tidak masuk perangkapnya, oa. Tapi belum. Aku....."
Belum sempat Kania melanjutkan kalimatnya, Niko menyelanya lebih dulu. Niko tak menyangka, istri yang sangat di cintainya itu, memiliki sisi kelam yang menakutkan.
"Kenapa nggak ngomong sama aku, Kania? Kamu anggap apa aku ini? Kenapa nggak mau terbuka? Kamu tau, tindakan kamu ini termasuk dalam tindakan kriminal?"
Sorot kekecewaan terlihat jelas dari mata Niko. Ia merasa seperti suami tak berguna yang tak bisa menjaga istrinya.
"Mas, aku tau segalanya tentang wanita itu. Kamu....."
"Cukup. Selesaikan masalah kalian di rumah. Papa nggak mau lihat kalian bertengkar di sini. Papa sudah pusing".
Lerai Fandy. Kepalanya bahkan sudah berdenyut hebat. Matanya masih menatap tajam Kania.
"Kamu masih berhutang penjelasan sama papa."
Kania merasa tak ada yang percaya lagi pada dirinya. Memang benar, dari dulu dirinya selalu mendapat tanggapan yang negatif tentang apapun yang di lakukannya. Hal itulah yang tentu saja, membuat Kania sering bertindak sesuka hati dan melahirkan sifat bar-bar.
Niko segera menarik lengan Kania agar mengikutinya.
"Kami pamit pulang, pa".
🍁🍁🍁
__ADS_1