PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Episode 42


__ADS_3

"Ayah, kayaknya bentar lagi kita bakalan punya mantu beneran", ucap bunda dengan jerit tertahan.


"Ayah pusing bunda. Gimana kalau orang tua gadis itu tak menerima Niko?".


"Dicoba saja dulu, pak. Daripada mereka seperti ini terus?".


~part sebelumnya~


Mereka makan duduk berempat dengan kehangatan layaknya keluarga yang sesungguhnya. Setelah selesai sarapan, Kania menelpon kakaknya, Ken agar mengijinkan Niko datang terlambat untuk ke distro. Beruntung Kenan berbaik hati mengijinkannya.


Kania, dengan seperti biasanya, tidak pernah memudarkan senyumnya. Begitu juga dengan orang tua Niko yang ikut serta bahagia. Sepertinya, meski Kania tergolong labil, ia gadis yang cukup baik dan pantas jika bersanding dengan Niko.


"Nak," Ayah Niko memanggil Kania yang duduk berdampingan dengan Niko yang Jelas seperti tak nyaman.


"Iya ayah.... " Jawab Kania lembut.


"Kania yakin menyayangi mas Niko?", tanya ayah Niko. Niko yang mendengar hanya bisa pasrah. Ia tidak tau apa yang harus di lakukannya.


Niko sangat menghormati orang tuanya. Selama menjadi anak mereka, Niko tak pernah sekalipun membantah apa yang di ucapkan orang tuanya. Baktinya pada orang tuanya lah yang mengantar Niko pada keberhasilannya menyelesaikan kuliah. Semua berkat dorongan support dan doa tentunya.


"Sangat ayah". Jawab Kania yang entah mengapa, dilanda kegugupan.


Kemana keberanian dan kepercayaan dirimu yang selalu kau agung-agungkan, Kania?


Kemana perginya agresif yang kau miliki jika nyatanya nyalimu kini kian menciut?


"Kenapa kamu sampai tergila-gila sama anak bungsu ayah?", Tanya ayah lagi. Ibu hanya memperhatikan mereka. Sedang Niko sudah pasrah. "Apa hanya karna tampan?".


"Enggak ayah. Kania tulus sayang sama mas Niko. Setiap ketemu mas Niko, Kania merasa nyaman meski berkali-kali mas Nik mengabaikan dan nolak Kania dengan terang-terangan. Ada rasa bahagia dan debaran yang berbeda saat bersama mas Niko. Merasa terlindungi dan galau kalau nggak ketemu. Mamaku bilang, seperti itulah yang mama rasakan saat bersama papaku. Mungkin seperti itulah juga apa yang ayah rasakan pada ibu. Jadi, boleh kan kalau Kania minta papa untuk melamar mas Niko?".


Ayah Niko tercengang dengan penuturan Kania yang begitu frontal. Niko meneguk ludahnya dengan susah payah. Begitu juga dengan ibu yang menahan nafas sepersekian detik untuk menghalau kehisterisannya karna mendengar ungkapan cinta dari calon mantu untuk putra bungsunya itu.

__ADS_1


Sejujurnya, Niko tak menampik. Siapa sih yang nggak tertarik pada Kania yang body nya bohai dan jenjang? Lagipula selain cantik, Kania juga gadis yang baik meski tergolong rada-rada barbar tingkat dewa.


Tapi tidak, Niko tidak mau. Niko menepis segala rasa itu sejauh mungkin. Bagaimanapun, ada sekat yang begitu kokoh yang menghalanginya untuk bersama Kania.


Perbedaan sosial lah pemicunya. Bagaimana pun, keluarga Niko hanyalah orang biasa. Berbeda jauh dengan orang tua Kania yang tergolong kaya. Memiliki warisan perkebunan kopi, cengkeh dan kakao secara turun temurun. Belum lagi resto yang bercabang-cabang hingga membuat Fandy, ayah Kania pening karna memikirkan hasil usahanya.


"Tapi, nak. Niko orang miskin. Kania tau kan definisi kata miskin? Bagaimana mungkin Kania mau dinikahi Niko? Sedangkan Kania tau kalau Kania bisa mendapatkan pria yang lebih mapan finansial nya ketimbang Niko", Kali ini, bunda tak tahan lagi. Ia harus segera menyadarkan Kania. Biar bagaimana pun, ia tak mau putranya mendapat penolakan. Penolakan?? Bukankah hal paling menyakitkan?.


"Enggak bunda. Kania nggak mau nikah sama lelaki lain selain mas Niko", Senyum manis itu kembali tercetak di bibir manis Kania.


Niko menahan nafas. Dirinya pasrah saja apapun yang akan orang tuanya katakan nanti.


"Kalau misalnya, ayah lamar Kania untuk putra ayah, Niko...... apakah mungkin ayah Kania akan menerima Niko?". Tanya ayah yang sudah gatal sedari tadi untuk penyiraman banyakan hal ini. Tentu saja wajah Kania memerah.


"Bener ayah? Beneran Kania mau di lamar?". Kania pun histeris.


"Kania masih kuliah. Aku nggak mau gara-gara menikahi Kania, semua kuliahnya berantakan". Sahut Niko.


"Nikah kan bisa kalau sama kuliah, maaaass. Aku janji kuliahku bakal baik-baik aja dengan nilai memuaskan nanti. Aku juga akan melayani dan merawat mas Niko dengan baik. Menyiapkan semua kebutuhan mas Niko.".


Ayah dan bunda saling tatap. Entah apa yang dua paruh baya itu katakan dalam hati. Yang Jelas, mereka tengah berkomunikasi lewat tatap mata tanpa kata. Kalimat dan rasa bahkan terkadang cukup di sampaikan lewat pandang mata tanpa bahasa, bukan?


Sedang Kania bersorak kegirangan dalam hati.


'Mas Nik ku sayang kok pergi? Ah bodoh amat ahh... Yang penting aku jadi kawin tahun ini..... ahhh jangan... Kalau bisa mah, bulan depan.. Horeeee asik asik asik'


Batin Kania.


.................


Hari ini, Anjani dan Kenan tengah pergi mengunjungi salah satu cabang distro milik Ken yang baru saja di resmikan. Jaraknya juga lumayan jauh dari kediaman Ken.

__ADS_1


Rencana Kenan untuk tinggal di rumah hasil jerih payahnya, nyatanya tidak terealisasikan dan mendapat tentangan keras dari Nawal. Bahkan, nawal terang-terangan menyuruh mereka pergi tanpa membawa Vanya.


Dulu, Ken bersikeras untuk menggugurkan Vanya dari kandungan Anjani, Dan nawal lah yang paling histeris menentang Kenan. Entahlah, Nawal sudah menyayangi Vanya semenjak Vanya masih dalam kandungan Anja.


"Nja, gimana sama sekolahmu?". Tanya Ken di sela-sela aktifitasnya menyetir mobil.


"Baik. Hanya saja.... Seyna".


"Kenapa? Seyna gangguin kamu?". Anjani menggeleng.


"Sejauh ini enggak sih mas. Tapi aku curiga sama gerak geriknya. Kemarin aku sempet denger, katanya sauna memesan obat yang nggak tau itu obat apa. Aku nggak khawatir dia racunin aku, mas. Aku cuma khawatir dia jebak kamu. Biar gimanapun, dia itu udah terobsesi dari kamu?".


"Oh ya? Kamu denger dari siapa kalau dia pesen obat?".


"Lili. kemarin Lili yang jadi saksi aku denger semua percakapan Seyna di telpon. Lili juga denger semuanya?".


"Siapa itu Lili?".


"Teman sebangku aku".


"Nja, aku nggak larang kamu temenan sama siapa aja. Aku cuma memperingati kamu, kamu harus hati-hati pilih-pilih teman. Jangan berteman terlalu akrab. Terlalu akrab juga nggak baik.". Ucap Kenan dengan menebar senyum manisnya. Anjani membalas senyum Kenan dengan rasa haru.


Perhatian kecil inilah yang selalu mampu menggetarkan perasaan Anjani setiap saat.


"Iya, mas. Oh iya, kabar mas Rio..... gimana? Apa jadi kabur?".


Kenan terbahak mendengar pertanyaan Anjani. Ia jadi ingat, Rio mati-matian sembunyi dari papanya.


"Rio masih setia ngumpet sana ngumpet sini. Nggak tau juga deh, entar kalau dia udah lelah, pasti pasrah sendiri".


"Iya ya mas. Ngomong-ngomong tentang mas Rio, aku jadi inget mas Niko sama Kania. Ngomong-ngomong, hubungan mereka sejauh mana, ya?" Tanya Anjani dengan disertai kekehan ringan.

__ADS_1


"Tau ah. Tapi kayaknya, ya...... aku dukung mereka".


🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2