PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 2. 15


__ADS_3

"Maaf, Bu Dira. Saya diutus pak Kenan untuk menyampaikan ini pada bu Dira".


Rio datang menjenguk Dita hari ini, sekaligus memberikan surat titipan dari Kenan untuk Dira.


Dan mata Dira melotot sempurna ketika membaca surat dari Kenan. Bukan surat pribadi dari Kenan tepatnya, melainkan surat pemecatan Dira akibat tingkah Dira yang berusaha menggoda Ken selaku atasan.


"Apa-apa an ini? Ada banyak pekerjaan yang belum selesai dan saya nggak bisa di tinggal begitu saja".


Dira berusaha melayangkan protesnya. Dirinya enggan berhenti dan ingin melanjutkan rencana kotornya. Sayangnya, Ken sudah menutup akses untuk Dira kembali bekerja di sana.


"Untuk masalah itu, akan ada designer baru yang akan menggantikan Bu Dira".


Percuma melawan. Karena semua perlawanan Dira tak akan berarti apapun. Baiklah, Dira menyerah. Akan ada perubahan rencana setelah ini.


"Ya sudah. Terima kasih".


Ucapnya datar.


"Kalau begitu, saya permisi, Bu Dira. Selamat siang".


Rio berlalu dari dalam ruang perawatan Dira. Pria yang masih berstatus lajang itu kemudian mendesah lega. Tak sanggup karna harus berlama-lama dalam ruangan yang sama dengan wanita yang cukup berbahaya.


Cepetan. Gue gerah nungguin Lo dari tadi.


Bunyi pesan dari Ken yang baru saja masuk ke ponselnya. Maka, tanpa menunggu lagi Rio segera menuju ke halaman rumah sakit klinik tempat Dira di rawat.


"Gila, nggak tau kenapa ya, Gue ngerasa curiga kali ini".


Tutur Rio pelan setelah masuk ke dalam mobil. Lelaki itu duduk tepat di belakang kemudi. Lantas menyalakan mesin mobil untuk segera pergi dari sana.


"Memangnya kenapa? Apa ada masalah lagi?"


Tanya Kenan datar.


"Biasanya ya, kalau type-type kayak Bu Dira itu, kalau di pecat secara sepihak, dan menentang habis-habisan apa yang tidak ia suka. Tapi tadi, dia menurut dan.....


Ya..... dia diem tanpa menentang. Terus dari tatapannya..... mencurigakan.


Ya, semoga saja sih, dia nggak ngusik Lo lagi."


"Kalau sampai berani, gue bisa bikin dia menyesal. Sesuatu yang dia pikir gue gak bisa lakuin, bakal gue lakuin smapai dia terpuruk di titik terendah kemampuannya bertahan.


Gue nggak suka bila ada siapapun yang mengusik rumah tangga gue. Bagi gue, kebahagiaan Zhivanya dan mamanya adalah yang utama"

__ADS_1


"Good. Gue suka cara Lo.


Oh ya, ngomong-ngomong..... gimana kabar adek Lo yang bar-bar itu, setelah nge-labrak Mak lampir?


Gue sampe nggak kepikiran buat video in kejadian dua hari lalu saat Kania kalap, saking syok nya gue. Andai aja waktu itu gue kepikiran, pasti Kania udah viral sekarang".


Rio tergelak kemudian. Ia membayangkan video Kania yang super judes dan barbar itu, viral dan menjadi inspirasi untuk istri-istri yang tersakiti.


"Bisa habis Lo di tonjok si Niko".


Lantas, Ken dan Rio tertawa lepas.


**


**


Kania tengah sibuk menidurkan Fatih ketika Niko baru saja tiba dari cafe milik nya. Raut wajahnya terlihat sangat letih. Kania yang menyadari kedatangan suaminya yang lelah itu, segera bangkit dan menyambut Niko dengan perasaan sukacita.


"Mas, udah pulang?".


"Iya, Fatih apa udah tidur?".


"Iya nih baru aja. Capek kali dianya, dari tadi main Mulu sama nenek kakeknya".


"Oh ya, sayang. Mama sama papa katanya tadi mau makan malam disini. Sekalian ada yang mau di bicarakan sama kamu katanya".


Mata Kania berbinar mendengar kabar dari suaminya. Rasanya sangat bahagia ketika Fandi dan Nawal akan datang kemari.


"Oh ya? Biar aku siapkan menu makan malam di dapur. Kamu mandi gih, terus istirahat bentar sama sekalian jagain Fatih yang lagi tidur".


"Aku udah ngomong sama ibu, kalau mama papa bakal makan malam disini. Jadi ibu kayaknya udah di dapur deh".


"Ya udah, biar aku bantuin ibu masak".


"Nggak usah".


Niko menarik Kania dan membawanya ke dalam pelukannya.


"Bantu aku mandi".


"Ih mesum. Yang ada bukan bantuin kamu mandi, malah kamu minta jatah".


Kania tergelak. Tentu saja ia tahu bahwa Niko pasti akan menerkamnya di dalam kamar mandi.

__ADS_1


Kania kok mau di akalin?


"Ayo lah sayang, mumpung Fatih lagi tidur. Katanya mau bikin adeknya Fatih?"


Niko merenggangkan pelukannya, kemudian membelai pipi Kania dan bermaksud menggoda Kania. Kania hampir saja terbuai jika saja ia tak teringat akan membantu ibu mertuanya memasak di dapur.


"Mas, udah ih. Nanti malem aja". Kania mendorong pelan Niko.


"Nggak aku, maunya sekarang".


"Jangan ngaco".


Niko kemudian melepaskan dirinya dengan terpaksa, lantas beranjak ke kamar mandi.


"Aku ngambek ya, sekarang".


"Bodo".


Kania lantas menuju ke dapur an mendapati ibu mertua nya tengah mengiris beberapa jenis sayur. Daging beku nampak masih terendam dalam air di bawah westafel. Dengan senyum mengembang, Kania menghampiri ayah mertuanya yang menikmati secangkir kopi panas di meja makan.


"Ayah. Capek ya habis main sama Fatih?".


Sapa Kania sambil mendudukkan dirinya di samping ayah mertuanya. Kemudian meraih pisau yang di pegang ibu mertuanya untuk menggantikan memotong wortel.


"Siniin bu. Biar Kania aja".


Ibu Niko lantas tersenyum keibuan dan auranya semakin bersahaja.


"Ya sudah. Ibu buat bumbu dulu".


"Oke ibu ku sayang".


Mereka kemudian terlibat perbincangan hangat di sana. Hingga kemudian Niko muncul dengan wajah yang sengaja di mayunkan demi membuat istrinya semakin merasa bersalah. Sayangnya, bukannya berhasil, justru Niko di buat malu sendiri.


"Kamu kenapa, nak?" Sapa ibu Niko. Belum sempat membuka suara, Kania segera menyelanya dengan tanpa perasaan.


"Mas Niko ngambek, bu. Pulang kerja minta jatah nggak Kania kasih. Lagian, orang Kania mau masak".


Kania terkikik geli, apa lagi, di lihatnya wajah Niko memerah, antara malu dan marah yang bercampur menjadi satu.


Satu kata untuk Kania, *Keterlaluan.


🍁🍁🍁🍁*

__ADS_1


🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣


__ADS_2