
Di dalam perjalan pulang dari kantor perkebunan kali ini, Anika merasa bahagia. Pasalnya, semua pekerjaannya benar-benar luar biasa, dan Kenan telah memuji keberhasilannya. Prestasi Anika saat sekolah dulu, juga tak bisa di remehkan. Itulah sebabnya, Anika Mamou menyelesaikan pekerjaannya dengan baik.
Ditambah lagi kehadiran Rama yang selalu menghiburnya. Anika benar-benar bersyukur karena telah dikelilingi oleh orang baik di sekelilingnya. Terlepas dari ia harus kehilangan Dewa dengan cara paling menyakitkan, nyatanya kini Anika bisa perlahan-lahan melepaskan Dewa dari hati dan pikirannya.
"Ini kita mau kemana, mbak Nika? Mau langsung pulang, atau mampir-mampir dulu?" Tanya Rama sopan sambil mengemudikan mobilnya. Lelaki itu benar-benar tak pernah mengeluh meski kadang Anika menuntutnya harus bekerja, sekalipun jam kerjanya telah terlewat.
"Aku sih maunya langsung pulang. Kamu ada yang mau dibeli, nggak? Mumpung masih belum ngelewati minimarket, nih." Ungkap Anika kemudian.
"Butuh kebutuhan mandi, mbak. Tapi besok aja juga nggak apa-apa, kok." Jawab Rama kemudian. "Barang kali mbak Nika udah kangen sama non Vio."
"Kangen udah pasti. Tapi nggak apa-apa, deh. Aku juga mau belanja sesuatu." Ungkap Nika.
Rama pun hanya mengangguk dan tersenyum. Beberapa waktu bertemu dengan Anika, membuat Rama seringkali merasa bahagia tanpa sebab.
Setibanya di salah satu pusat perbelanjaan, Anika dan Rama turun. Keduanya lantas masuk usia Rama mengunci pintu mobil, dan segera menuju ke lorong khusus peralatan mandi.
Begitu juga dengan Anika yang sekadar ikut-ikutan Rama. Pandangan mata Anika yang tertuju pada sikat gigi baru, segera mengambil barang itu. Sialnya, Rama juga mengulurkan tangan hendak mengambil barang yang sama. Jadilah mereka seolah seperti tengah berpegangan tangan.
"Oh maaf, mbak. Mbak Nika ambil aja. Saya ambil lainnya." ucap Rama ketika ia tersadar, bahwa ia menyentuh tangan majikannya.
Anika mengangguk dan bersikap biasa saja. Meski sejujurnya, ada gelenyar aneh yang saat ini menjalari ke seluruh hatinya.
__ADS_1
"Nggak apa-apa. Ambil dua, nanti aku yang bayar dan kamu ambil satu." Ucap Anika tegas. Beruntung wanita itu setangguh Kania yang mampu menyembunyikan perasaannya.
"Jangan deh, mbak. Nanti ini saya bayar sendiri. Nggak enak karena udh sering di bayarin apa-apa." Ungkap Rama. Ia merasa seperti benalu di mata Anika. Padahal, Anika memang orang yang royal dan dermawan. Bukan hanya pada Rama, bahkan pada Siska si pengasuh Vio, juga pada pembantu lain di rumahnya.
"Nggak apa-apa, aku ikhlas. Udah yok, kita pulang. Aku udah kangen banget sama Vio." Ungkap Anika.
Rama tak membantah. Lelaki itu mengangguk dan segera berlalu menuju ke kasir.
Usai membayar, Anika segera keluar dan segera melanjutkan perjalanan pulang.
Alangkah terkejutnya si Anika, ketika ia mendapati Dewa dan Vanya sudah ada di ruang tamu, dengan Dewa yang tengah memangku Vio, mengajak anak itu bermain.
"Udah dari tadi, Wa?" tanya Anika. Ia hanya melirik sekilas Vanya, sebagai isyarat Anika juga menanyai Vanya.
Panggilan 'Mas' yang biasa Anika gunakan saat memanggil Dewa, kini tak lagi ada. Dan Anika sudah meneguhkan hatinya, tak akan memanggil Vanya dengan embel-embel 'Mbak'.
"Lumayan. Kamu lembur?" Tanya Dewa kemudian.
"Enggak, sih. Sore tadi pulang langsung nonton di bioskop, dan dinner bareng Rama. Kamu inget dia?" Tanya Anika yang menunjuk Rama dengan dagunya.
Rama yang merasa tak nonton bareng Anika, juga merasa belum makan malam, hanya mengerjapkan matanya pertanda bingung.
__ADS_1
"Ya, ini anak pak Agus, kan?" Tanya Dewa.
"Iya. Ternyata kamu bener selama ini. Anak pembantu memang punya pesona yang nggak main-main. Aku cendrung suka sama anak babu." Ucap Anika yang terang-terangan menyindir Vanya.
Vanya hanya bisa menunduk. Baru saja ia hendak menyapa Anika, Anika sudah lebih dulu pamit untuk naik ke lantai atas. Tentu pemandangan ini tak luput dari Kania yang baru saja hendak menghampiri Mereka semua.
"Aku istirahat dulu, ma. Rama kayaknya juga kelelahan. Bye." ucap Anika sambil berlalu dari sana, dan mengecup pipi Kania.
"Saya pamit, Bu Kania. Mari, pak." Kata Rama sopan. Rama berlalu ke paviliun sebelah, tempat dimana dirinya tinggal selama beberapa bulan terakhir ini.
Di tempatnya, Dewa merasakan denyut tak menyenangkan dalam dadanya. Ada apa ini? Dewa bingung dengan reaksi yang demikian.
**
jangan lupa kepoin ceritaku yang baru, ya. baru rilis dan di platform Noveltoon juga. Terima kasih.
__ADS_1