
"Hellehhhh.... Lo pikir gue gak tau gimana kelakuan Lo yang udah godain pemilik tempat ini. Kalau sampai berlanjut dan Lo nggak kapok, gue jamin kepala Lo botak mirip kepala guru matematika gue dulu. Juga gue jamin wajah Lo penuh cakaran gue!".
Kania lantas menunjukkan jemari lentiknya. Berhiaskan kuku panjang dan lentik dengan kutek sewarna darah yang cukup menakutkan.
"Kamu pikir aku bakal takut?"
"Baiklah, persiapkan diri Lo untuk beberapa waktu ke depan!!".
Baik Ken, Rio dan Anjani menatap tajam ke arah Dira yang baju bagian depannya sudah basah akibat tumpahan minuman Kania. wanita itu mendengus kasar sambil kembali ke dalam ruangannya. Ia butuh toilet untuk membersihkan dirinya.
Kania segera melangkah masuk sembari menyeret pelan tangan Anjani. Menyadari bahwa ia butuh bicara dan menginterogasi kakaknya.
Kini, dalam ruangan Kenan, Anjani dan Kania sudah duduk di sofa berdampingan dengan Kenan. Kenan tersenyum puas akan tindakan adiknya kali ini. Kalau biasanya Ken akan sangat muak dan benci kelakuan adiknya yang liar ini, tapi tidak untuk saat ini. Ken sangat terlihat bangga pada Kania.
"Ekhm......" Kania sengaja berdaham untuk melonggarkan kerongkongannya yang terasa kering. Meski tadi ia minum cukup banyak, namun setelah berhadapan dengan musang betina yang bernama Dira itu, cukup menguras tenaganya. Alhasil, Kania speerti kembali haus.
Tanpa kata, Ken beranjak menuju meja nya. Meraih air mineral dalam kemasan untuk ia berikan pada adiknya. Kania hanya pasrah dan mengambil air yang Ken sodorkan.
"Kamu hebat hari ini".
Tutur Kenan jujur.
"Sehebat-hebatnya aku, mas Ken lebih hebat kalau nggak meladeni wanita yang namanya Dira itu.
Eits.... jangan senang dulu. Mas Ken nanti yang akan kena giliran setelah urusan si musang betina itu, beres."
Ken kaget.
"Apa-apaan kamu?"
Kenan Melotot tak terima. Ia merasa sama sekali tak terlibat affair apapun dengan si Dira. Dan kalimat Kania ini seolah kini tengah memojokkannya.
Ken kemudian melirik Kania yang diam tak bereaksi.
"Mas nggak ada main sama dia, ya".
"Bukan nggak ada, tapi mungkin belum. Mas perlu menegaskan kalau mas nggak minat sama dia".
"Mas udah lakuin, Kania."
"Dan buktikan".
Kenan menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Mau bukti apa?".
Kania diam sejenak. Kemudian senyum culasnya terbit dengan sangat mengerikan.
"Buat dia menyesal udah bikin kakak iparku tersaytag ini cemburu".
~~
~~
Tanpa terasa, hari ini adalah hari ke empat semenjak pertikaian Kania dan Dira di kantor Kenan. Kini, Kania kembali ke kantor Kenan untuk melihat secara langsung perkembangan musang betina yang bernama Dira. Mbah Sasa, adalah karyawan bagian OG yang di tugaskan Kania, untuk memata-matai Musang licik itu. Dan tentu saja Sasa membawa kabar bahwa bahwa Dira masih saja sering curi pandang ke arah Kenan dan sesekali mengunjungi ruangan Ken untuk mengajak Ken makan bersama.
__ADS_1
Sialan.... belum kapok juga tuh.
Batinnya.
Dengan kepercayaan diri penuh, Kania melewati Dira begitu saja ketika Dira membuka pintu ruang kerja nya. Kania bersikap seolah tidak ada apapun antara dirinya dan Dira tempo hari. Dengan langkah anggun, Kania meninggalkan Dira yang firasatnya mulai tak nyaman dan mengusiknya.
Dira segera turun ke bagian produksi di lantai bawah di ruang paling belakang di gedung ini. ia perlu mengecek beberapa bahan yang di gunakan oleh bagian produksi.
Kania yang melihat Dira berlalu, tersenyum penuh arti. Kemudian ibu muda itu memasuki ruang kerja Kenan setelah mengetuknya. Ada segudang rencana licik yang terpatri dalam otak culasnya.
"Loh, Kania?"
Ken terkejut mendapati adiknya tiba-tiba muncul di ambang pintu setelah mengetuk lebih dulu. Biasanya, Rio yang muncul.
"Kamu mau mata-matai mas?"
Ken nampak memicing curiga ke arah adiknya.
"Iya". Dan tentu saja Kania berkata jujur. Mana berani ia melakukan kebohongan? Dari kecil, sebar-barnya Kania, wanita itu tidak pernah terbiasa berbohong.
Kania lantas meletakkan tas nya di atas meja di sudut ruangan, Lantas mendekati Kenan dan duduk tepat di hadapan meja kerja kakaknya itu.
"Huh". Ken mendengus kesal.
"Kamu kenapa sih nggak percaya sama mas? Kan mas udah bilang mas nggak pernah ngeladenin Dira? Kamu masih belum percaya?".
"Percaya. Tapi meski mas nggak ngeladenin, apa dia berhenti menggoda dan berhenti berusaha mendekati mas? Enggak kan? Tenang aja, aku nggak bakalan bikin dia nangis di depan umum karena aku tau, itu pasti akan memalukan mas".
"Terus mau kamu apa? Apa perlu mas memecat dia?"
"Biar aku atasi dengan cara ku sendiri. Kalau mas mecat dia, itu nggak professional namanya".
Lantas Kania berdiri tegap.
"Aku pinjam toilet kamu bentar, mas.".
"Terserah".
Kenan menarik nafas lega. Setelah Kania berlalu ke kamar mandi, sebuah ketukan pintu sebanyak tiga kali terdengar.
"Masuk".
Pintu terbuka dari luar. Sosok Wandira muncul dengan pakaian seksi. Kemeja merah pres body dengan dua bagian kancing atasnya terbuka, membuat bagian dada Dira hampir menyembul sempurna. Di padukan rok ketat hitam model span dengan belahan bagian belakang sebatas paha.
Menggoda, sangat menggoda. Bukannya tergoda, Ken justru risih.
"Permisi, pak. Ini daftar bahan yang di perlukan".
Dira meletakkan beberapa kertas di meja Kenan. Ken memeriksa tanpa membalas kalimat Dira. Bahkan untuk menolehpun, Ken merasa enggan.
Tentu saja hal itu tak luput dari pengamatan Kania yang baru saja usai buang air kecil.
"Pak Kenan....." Dira memanggil Ken dengan nada sensual. Tangannya terulur dan mendarat di bahu Kenan yang dalam posisi duduk. Perlahan tapi pasti, Dira mendekat ke arah Ken dengan bagian tubuh depan, sedikit condong pada Kenan. Kenan hampir saja mengeluarkan kalimatnya untuk mengusir Dira, kalau saja sebuah jambakan kasar, mendarat di kepala Dira hingga membuat Dira terpekik kaget.
Kania sangat benci ada perempuan lain yang terlihat nyata menggoda Kenan selain Anjani.
__ADS_1
"Aaarrrggghhhhh......"
Ken terkejut dan melongo sekian detik saat melihat Kania menarik kuat dan menyeretnya rambut Dira untuk membenturkannya pada dinding samping pintu toilet.
"Lo bilang Lo nggak bakalan kapok, kan? Gue juga kagak bakalan kasih Lo ampun!"
Ucap Kania tanpa berperasaan.
"Awhh... ssshhhh... sakkiiiit".
Usai membenturkan jidat Dira sebanyak dua kali di dinding, lengan kiri Kania lantas memelintir lengan kiri Dira dan tangan kanannya masih tetap menjambak rambut Dira.
"Nggak usah berontak!".
Bentak Kania pada Dira.
"Dek... dek.... eh Kania.... lepasin, bisa mati anak orang, Kania".
Kenan berusaha melerai. Sayangnya, amarah Kania lebih kuat.
"Am...ampuuun..... " Dira tak berdaya di bawah kuasa Kania. Ibu muda yang bar-bar itu lantas menghempaskan Dira begitu saja di lantai. Kemudian Kania kalap dan menampar Dira beberapa kali, menciptakan memar di pipi dan sudut bibir Dira.
Dira kuwalahan.
Kenan tak punya pilihan lain selain memeluk Kania dan berteriak memanggil Rio yang ruangannya ada di depan ruangan Kenan.
"Yo.... Rio..... bantuin....."
Rio segera berlari menuju ruangan Kenan. Matanya membola ketika melihat kekacauan di sini.
Dengan kasar, Kania menghempas lengan Kenan yang membelenggunya, kemudian melotot ke arah kakaknya.
"Aku nggak bakal sekalap ini kalau dia nggak menggoda kamu di depan mataku, mas!! Dia Sampek membungkuk di depan kamu biar *********** kelihatan. Aku marah sekarang!!".
Kemudian Kania menatap Dira yang masih lunglai di lantai dengan penampilan berantakan.
"Elo....." Tunjuknya pada Dira.
"Sekalu lagi gue lihat Lo godain lagi kakak gue pakai tubuh seksi Lo, bakal gue gantung Lo di tiang listrik depan distro ini, tanpa busana."
Kania beranjak meraup tasnya yang ia letakkan di meja, kemudian berlalu pergi dan berhenti saat berhadapan dengan Rio.
"Apa liat-liat? Mau kayak gitu juga?"
Dagu Kania menunjuk Dira di belakangnya, matanya menyorot tajam dan nada suaranya ketus.
Judesnya kelihatan dengan jelas dan nyata.
Tanpa menunggu jawaban Rio, Kania berlalu, meninggalkan Rio yang bicara pada Kenan tanpa peduli Dira yang masih ada di sana.
"Ken.... Niko kok bisa kuat ngadepi Kania, apa sih resepnya? Kayaknya, nyali gue ciut kalau berhadapan sama adek Lo."
Rio mengeluh, bahkan sebelum ia benar-benar berhadapan dengan Kania.
.......
__ADS_1
.......