PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 2. 24


__ADS_3

Semangat buat aku.......


Sementara, di kasi part mewek-mewek dulu, ya. Kan lucu-lucuan nya udah.


Di cerita ini, sengaja aku tulis kisah Kania yang bukan hanya lucu, tapi juga ada versi sedihnya. kenapa demikian. Karna sengaja di novel ini, akan di ceritakan anak-anaknya Fandy&Nawal. Jadi bukan hanya kisah Kenan dan Anjani saja, ya.


Selamat membaca....❤️❤️


##


Kania tengah berada di jalan belakang rumahnya. Ia menatap kolam ikan hias tempat favorit suaminya, Niko. Beberapa bohlam terpajang indah di sekitar teras belakang. Pantas saja Niko menjadikan tempat ini favoritnya dikala lelah dan letih melanda ketika usia bekerja. Di sini, semua Niko lah yang mendesign agar senyaman ini.


Tanpa terasa, sudah sepuluh hari berlalu semenjak Niko mendiamkan dirinya. Sudah berbagai macam cara Kania kembali mencari perhatian dari Niko, juga orang tuanya. Bahkan, Kania setiap hari berkunjung ke rumah Fandy. Sayang, Kania bukannya di sambut baik dengan berbagai wejangan, justru yang ada Kania layaknya seperti orang asing yang tak di harapkan kehadirannya. Miris sekali, bukan?


Dengan menatap kosong kolam ikan, Pikiran dan tubuh Kania sedang tidak baik-baik saja. Berbagai luka dan perih menyayat hati, Kania nikmati seorang diri tanpa tempat untuknya berkeluh kesah.


Dulu, ketika dirinya masih tinggal di kediaman Mahardhika, selalu ada bik Inah yang selalu siap sedia menjadi tempat Kania mengadu tatkala sepi, ketika Nawal dan Fandy pergi mencari keberadaan Anjani demi Kenan.


Tapi kini, biasanya Niko lah yang menjadi tempatnya berpulang selepas ia keluar dari rumah besar Mahardhika. Sepuluh terakhir, adalah waktu terberat Kania menjalani fase rumah tangganya yang tengah terguncang badai, yang sayangnya Kania sendirilah pencipta badai itu.


Tubuh Kania sedikit kurus karena pola makannya tak teratur. Ia kehilangan selera makan akibat perlakuan Niko yang mendiamkannya. Wajar saja, toh Niko masih kecewa padanya, hanya masalah waktu saja hingga membuat Niko tak berlarut-larut dan kembali seperti semula. Tapi menghadapi semua ini, Kania sungguh tidak tahan.


"Bu, ibu masuk saja yuk. Nanti kan bapak pasti pulang".


Suara mbak Sari mengejutkan Kania. Dia adalah wanita berusia pertengahan tiga puluhan. Wajahnya keibuan dan bawaannya kalem. Selama ini, mbak Sari lah yang tau bagaimana kondisi Kania selama beberapa hari terakhir. Majikannya itu jarang bicara dan sedang bertengkar dengan suaminya.


Mbak Sari turut prihatin akan hal ini.


"Aku sedang nggak nunggu bapak, mbak. Biar saja. Aku hanya ingin menikmati kesendirianku."


Timpal Kania lirih. Entah mengapa, mbak sari menangkap gelagat lain dari nada bicara majikannya itu. Mungkinkah Kania berada dalam titik keputus Asaan?


"Boleh mbak Sari menemani?

__ADS_1


Den Fatih kebetulan sudah tidur."


Kania tersenyum, merasa tersanjung ketika dalam kondisi seperti ini, ada orang yang masih peduli dan bersedia menemaninya. Kania pikir, ia tak akan memiliki siapapun lagi untuk menjadi seorang teman.


"Boleh. Duduk saja mbak. Sini".


Kania menepuk pelan beberapa kali kursi kosong di sampingnya.


Mbak Sari diam sejenak, memperhatikan kondisi Kania yang sangat jauh berbeda dari biasanya. Biasanya, majikannya ini selalu cantik terawat dan menampilkan senyum ceria, tapi nyatanya kini, Kania tampak jauh berbeda.


Matanya sembab dan wajahnya tampak kuyu. Pipi nya sedikit tirus dan cekungan di kedua matanya nampak terlihat jelas. Tubuh yang biasanya rutin makan tiga kali sehari, kini tampak kurus akibat yang makan hanya sehari sekali, itu pun atas paksaan mbak sari. Seluruh permukaan kulit Kania terlihat semakin memucat.


"Bu. Maaf. Saya memang merasa bukan kapasitas saya untuk berbicara. Tapi kalau boleh menyampaikan..... Ya.... anggap saja saya ini teman ibu. Ibu jangan terlalu larut dalam kesedihan. Bapak sepertinya orang baik, dan ibu jangan terlalu dalam memikirkan masalah rumah tangga ibu. Kasihan den Fatih, Bu. Boleh. Sangat boleh ibu memikirkan tentang masalah intern rumah tangga ibu. Tapi jangan sampai membuat diri ibu sakit.


Maaf. Maaf sekali kalau mbak sari lancang. Tapi ibu masih muda. Kalau boleh saya sarankan, lebih baik ibu merawat diri demi menjaga cinta bapak agar tetap bertahan. Bagaimana pun, penampilan Ibu sangat mendukung demi menjaga keharmonisan rumah tangga". Ucap mbak Sari hati-hati.


"Bapak Memang orang yang sangat baik, mbak. Sangat baik. Aku aja yang sudah salah langkah. Hingga kayaknya, salahku nggak bisa di maafkan lagi. Jangan kan mas Niko. Papa dan mama aja, nggak peduli lagi dengan nasib ku yang di beginikan mas Niko.


Kania terisak pilu. Mbak Sari yang sama sekali tak tau permasalahan majikannya ini pun, mau tak mau ikut prihatin dengan keluh dan tangis Kania.


"Yang sabar, ya Bu. Ibu boleh cerita sama mbak sari kalau ibu merasa sendirian. Anggap saja.... anggap saja mbak sari kakak atau teman ibu. Iya, teman. Jangan di pendam sendiri semua keluh kesah ibu."


"Mas Niko bahkan lebih mempercayakan pengsuhan Fatih pada mbak sari di banding padaku.


Seburuk itu ya, aku?"


Kania semakin terisak menyedihkan. Ia sedih, sekaligus terharu akan kehangatan dan ketulusan mbak sari. Kania memeluk erat mbak Sari. Membiarkan mbak sari mengetahui kerapuhan hatinya.


"Ibu sepertinya demam. Badan ibu panas".


Mbak Sari yang menyadari ada yang tak beres, segera melerai pelukannya, Menyadari bahwa Kania semakin pucat pasi. Dan tiba-tiba saja, Kania mendadak pening.


"Nggak apa-apa, mbak. Aku hanya butuh istirahat".

__ADS_1


"Ibu belum makan malam. Ayo makan dulu. Biar mbak Sari temani."


"Aku udah makan roti tadi, mbak. Aku nggak selera makan nasi. Ya udah. Aku mau masuk dulu, ya mbak. Mbak Sari, sementara boleh tidur di kamar mbak Sari. Fatih, biar aku yang temani."


"Ibu yakin?"


Kania mengangguk sebagai jawaban pertanyaan mbak sari. Kemudian Kania berlalu tanpa menyadari, Niko sudah pulang, bahkan mendengar pembicaraan istrinya itu di balik pintu. Setelah menyadari Kania hendak masuk, Niko segera beranjak gesit menuju kamarnya.


Sebenarnya, Niko tak tega melihat Kania sehancur ini. Tapi mau bagaimana lagi? Toh ini demi Kania. Mau tak mau Niko harus memberi istrinya itu pelajaran agar lebih dewasa dan berhati-hati di masa depan.


Bergegas ke kamar dan membersihkan diri, Niko tak ingin di lihat Kania untuk saat ini, hingga beberapa waktu ke depan. Niko tak bisa menentukan kapan batas waktu itu. Yang jelas, ia ingin membuat sang istri jera dan menyesali kesalahannya lebih dalam demi bisa menjadikan masalah ini sebagai pelajaran.


Sedang Kania, ia melihat mobil Niko telah terparkir sempurna. Hatinya kembali perih ketika Niko tak lagi mencarinya.


Baiklah, malam ini, Kania benar-benar perlu tidur dengan Fatih. Untuk apa tidur seranjang dengan Niko, sementara ia hanya diacuhkan hingga berujung pada sakit hati? Kania ingin menenangkan diri.


Setelah Kania terlelap di samping Fatih, usai tenggelam dalam tangis sejak tadi, Niko mengendap masuk ke kamar anaknya demi melihat sang istri. Menyadari Kania telah tertidur dan mendengkur halus, Niko menghampiri Kania dan duduk di tepi ranjang, menamati wajah wanita yang berhasil meluluh lantakkan hati dan dunia nya, sekaligus membuatnya kecewa.


Tanpa sengaja, Niko mendapati foto pernikahan mereka yang berbingkai. Foto itu di dekap Kania di depan dada. Dan hati Niko kembali perih ketika melihat wajah istrinya yang semakin pucat. Se-menderita itu kah Kania?


*Maafkan aku, sayang. Tapi ini demi memberimu pelajaran. Papa dan mama juga lah yang memintaku seperti ini. Ini juga demi kebaikan kamu.


Andai kamu nggak mengambil keputusan sepihak, mungkin, kita masih akan tetap baik-baik saja.


Kamu hanya perlu bersabar. Kita pasti akan kembali seperti dulu lagi.


🍁🍁🍁*


Semangat buat aku.......


Sementara, di kasi part mewek-mewek dulu, ya. Kan lucu-lucuan nya udah.


Di cerita ini, sengaja aku tulis kisah Kania yang bukan hanya lucu, tapi juga ada versi sedihnya. kenapa demikian. Karna sengaja di novel ini, akan di ceritakan anak-anaknya Fandy&Nawal. Jadi bukan hanya kisah Kenan dan Anjani saja, ya.

__ADS_1


__ADS_2