PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 2. 41


__ADS_3

"Maaf aja nggak bisa menghapus kenangan akan perlakuan buruk kalian ke aku setahun lalu, meski aku udah berusaha memaafkan. Percayalah nyonya Kenan, melupakan, tak semudah memaafkan".


Kania menatap datar dua wanita yang duduk bersebelahan itu. Sedang Nawal dan Anjani, menatap Kania dengan perasaan nelangsa dan setengah frustasi. Apa yang mereka lakukan, nyatanya tidak berarti apapun di mata Kania. Anjani yang memang berkarakter lemah lembut dan melow, tak bisa menahan air mata yang tumpah membasahi pipi.


Baik Niko dan kedua orang tuanya, tercengang dengan kalimat panjang Kania kali ini.


Di saat yang bersamaan, Fandy dan Kenan datang dengan mengendarai satu mobil yang sama. Mereka yang lantas tak tau apa-apa, terheran-heran ketika melihat suasana hening, hanya suara isakan kecil Anjani yang terdengar.


"Assalamu'alaikum.... ada apa ini?"


Fandy datang dengan suara lembut. Ia menatap Kania penuh tanya.


Dan Kania menatap ayahnya dengan perasaan gentar sebenarnya, namun ia berhasil mengendalikan emosinya dengan baik. Sudah bisa di pastikan, akan berakhir dirinya yang di salahkan, akibat membuat Anjani menangis.


"Nggak apa-apa, pa".


Anjani menjawab lirih. Ia menunduk dan memutus pandang dengan siapapun yang ada di ruangan itu.


Ayah dan bunda Niko terpaksa pamit dan mencari alasan untuk menidurkan Anika dan Fatih. Mereka sadar, butuh waktu dan privasi bagi keluarga besannya untuk bicara dari hati ke hati.


Niko yang menyadari situasinya mulai tak baik, kini bergeser sedikit dan lebih menempel pada tubuh istrinya. Tidak akan ia biarkan istrinya merasa sendiri dan menjadi pihak yang di salahkan. Biarpun Kania bersalah akibat melukai perasaan kakak iparnya, namun Niko menyadari untuk saat ini, ia perlu menuntun istrinya pelan-pelan untuk menjadi pribadi yang lebih dewasa dan bijak dalam mengatasi banyak hal. Yang Niko tau, Kania butuh pelindung saat ini.


"Maafkan Kania, mbak Anja.... Istri saya hanya perlu waktu sedikit lagi untuk melupakan yang terjadi".


Niko tersenyum menatap satu persatu keluarga istrinya. Ia perlu mendinginkan suasana yang agaknya, mulai memanas.


"Kania menolak oleh-oleh yang Anjani berikan pada Kania, mas. Nggak apa-apa.... Kania mungkin masih belum memaafkan kejadian setahun lalu, kesalahan kita juga."


Nawal berusaha legowo kali ini. Mungkin benar apa yang Niko katakan baru saja. Kania hanya butuh waktu sedikit lagi.


Kania menatap tajam suaminya yang hanya berlagak tak berdosa. Astagaaaa..... Kania ingin mengumpat, mencakar, dan melempar kepala Niko ke tembok. Ia tak habis pikir, bagaimana bisa Niko meminta maaf, padahal jelas-jelas Kania ini marah pada keluarganya yang membuat perkara dengannya.

__ADS_1


Kenan mengambil tempat duduk tepat di samping istrinya, kemudian menyapa sekilas putranya yang berada dalam gendongan Anjani.


"Sudah. Jangan di ambil hati. Nanti dia akan luluh sendiri. Kamu kenal sifat Kania dari kecil, kan? It's okey.... kamu perlu sabar sedikit lagi".


Bidiknya ke telinga istrinya. Hanya Anjani, Nawal dan Fandy yang mendengar jelas bisikannya.


Barulah Anjani merasa lega dan bisa kembali kuat.


"Kamu apa kabar, sayang? Papa rindu."


Fandy menyapa putrinya dengan senyum hangat kebapakan. Tak ada pendar sedih, maupun luka yang selama ini bertengger di netra mata indahnya.


"Baik, pa".


"Oh ya, Minggu depan, acara arisan keluarga mau di adakan di rumah besar. Papa harap, kamu datang, ya? Keluarga dari eyang Uti sudah pesen kalau kamu nggak boleh nggak datang."


"Kalau nggak ada halangan".


"Papa harap, kamu lebih dewasa dan menerima semua dengan lapang dada, nak. Sudah cukup marahmu. Sudah cukup hukumanmu. Selama setahun papa sekeluarga mencarimu seperti orang gila, itu sudah merupakan bagian dari hukuman. Papa hanya ingin anak-anak papa rukun. Tidak ada orang tua yang ingin hubungan anak-anak nya tercerai berai. Termasuk papa. Papa harap, anak papa ini mengerti?".


Fandy menasehati putrinya dengan tulus. apa yang ia katakan, merupakan keinginan hatinya yang terdalam. Berharap anak-anak memiliki hubungan uang rukun dan baik-baik saja, siapa yang tak ingin?


"Apa di sini hanya aku yang harus menjadi pihak yang mengerti?".


Kania menjawab pelan, namun tatapan tajamnya menghunus ke arah Fandy. Fandy tersenyum tipis. Sepertinya, Kania mulai terusik ketenangannya. Toh Fandy hanya berusaha menyampaikan isi hatinya.


"Papa dan keluargamu ini juga sudah berusaha mengerti kamu kalau......"


"Dengan cara apa? Mengerti dengan cara apa? Dengan cara membela mbak Anja dan mas Ken, begitu?"


Kania berusaha mengendalikan emosinya.

__ADS_1


"Sayang sudah....sudah ya.... papa niatnya baik dan nasehati kamu. Apa salahnya...... Beliau orang tua yang harus kamu hormati". Pinta Niko lirih sembari tangannya meremas pelan jemari istrinya.


Sayangnya, Kania menepis jemari Niko dan menghentaknya kasar, tak mendengarkan ucapan Niko sama sekali.


"Jaga ucapanmu, Kania..... Anjani hidup sebatang kara dan tak punya siapapun. Kalau bukan keluarga kita yang memberinya dukungan, siapa lagi?".


Ucap Fandy datar. Sepertinya, ia mulai tersulut emosinya. Hanya saja..... ia berusaha menekan amarahnya. Takut-takut, ia bertengkar lagi dengan putrinya.


Kania lantas berdiri dan berkata lantang.


"Dengan cara mengorbankan aku? Begitu? Benar begitu? Selama ini, bila ada masalah apapun, papa selalu menyalahkan Kania... menyuruh Kania mengerti? Apa karena mbak Anja itu lemah? atau rapuh? Butuh perlindungan? Butuh dukungan? Butuh di mengerti?


Kania juga butuh semua hal itu, pa! Sebagai anak papa, Kania berhak! Sangat memiliki hak!


Papa tau kan, kalau Kania saat itu membela keluarga hingga membuat Dira terjual pada pria kelainan ***? Itu karena Kania perlu melindungi rumah tangga anak kesayangan papa. Tapi apa balasanyny? mas Ken juga ikut mengabaikan Kania. Saat itu, Kania seorang diri menghadapi semua. Tidakkah papa pikir Kania butuh semua orang untuk merangkul Kania?


Yang ada, papa justru membela mati-matian mas Ken dan mbak Anja.... seolah-olah apa yang aku lakukan itu salah total di mata kalian! Tanpa kalian lihat satu sudut pandang lain yang sekiranya membuat Kania nggak salah.


Coba pikir... coba pikir andai Kania saat itu hanya diam.... masihkah rumah tangga anak kesayangan papa akan bertahan hingga sekarang?


Dari dulu.... dari dulu papa selalu menyayangi anak lelaki papa daripada aku. Ketika mas Ken menghamili mbak Anja.... papa mati-matian mencari mbak Anja dan mengabaikan keberadaan Kania yang kesepian. Setalah mereka menikah, papa nggak biarkan mas Ken jauh dari papa mama..... sedang Kania...? Apa yang kalian lakukan setelah aku di nikahi mas Niko?


Sejak kecil, papa dan mama sering mengeluh dalam mengasuh Kania.... tapi kalian nggak pernah tuh, mengeluh ketika mengasuh mas Kenan....


Jadi.....


Sepenting apa Kania ini di mata kalian?"


🍁🍁🍁


konfliknya masih intern keluarga aja.... kapan hari menghadirkan pelakor....pada mengeluh karena bosen Ama pelakorπŸ˜„

__ADS_1


__ADS_2