
Rumah Fandy, di sulap menjadi sebuah tempat sebuah pesta sederhana. Namun, sederhana versi keluarga Mahardhika adalah sempurna bagi kalangan marginal.
Lihat saja....
Rumah yang begitu mewah itu, terkesan semakin glamour tatkala seluruh sudut nya di penuhi dengan banyak macam bunga segar khusus di pesan dari malang.
Bagi mempelai wanita, yaitu Kania....
Ia sama sekali tak mempermasalahkan apapun dan bagaimana pun dekorasinya. yang Kania inginkan hanyalah prosesinya berjalan dengan lancar.
Namun tidak demikian bagi Nawal. Segalanya haruslah sempurna tanpa cela. Meski pernikahannya terkesan mendadak, namun Nawal mempersiapkannya dengan sangat sempurna.
Di mulai dari dekorasi, catering, tata rias, tata busana keluarga yang berseragam, semua dipersiapkan dalam waktu singkat dan begitu maksimal. Keluarga Mahardhika memanglah terkenal sempurna dalam segala hal. Terlebih lagi Nawal. Kesempurnaan haruslah di terapkan dalam berbagai hal bagi nya.
Tiga hari sudah, Kania tidak di perbolehkan dengan Niko, sang pujaan hati. Kerinduannya begitu amat sangat membuncah malam ini. Tapi Kania harus lah mampu menahannya.
Sore ini, prosesi siraman di lakukan oleh keluarga Fandyka. Semua kerabat terdekat kut hadir serta akan berperan dalam menyambut acara widodareni malam nanti.
Kania menggenggam erat ponselnya, suara Niko..... setidaknya meski tak bertatap wajah, Kania ingin mendengar setidaknya suarana. Tapi Nawal bersikeras melarang putrinya menghubungi Niko.
"Kania..... Udah siap? Ayo bentar lagi di mulai."
Anjani datang dengan mengenakan kebaya simple bermotif bunga berwarna hijau muda. Prosesi siraman memang menggunakan seragam hijau. begitu juga dengan Kania yang mengguna kemben berwarna hijau bermotif batik yang khusus di pesan Nawal dari Jawa tengah.
Kania nampak anggun dengan mengenakan rangkaian bando melati di kepalanya. Rambutnya ia sanggul ke atas, menampilkan leher jenjangnya dan wajahnya, di bingkai dengan polesan make up simpel dan ringan.
Kania di iringi Anjani di belakangnya, Semua mata nampak menatap takjub pada putri bungsu Fandy.
Acara siraman berjalan lancar hingga malam tiba dan acara widodareni tiba. Pakaian muslim serba putih nampak mendominasi semua orang yang hadir di sana termasuk kerabat terdekat Fandy.
Acara berlangsung khidmad. Semua kerabat nampak takjub dengan persiapan yang Nawal lakukan.
....................
Pagi pun tiba.
Tanpa terasa, acara pernikahan pun akan segera di berlangsunglah. Kania sudah siap setelah di poles dengan make up berwarna kan nude.
Kebaya indah berwarna putih silver menjuntai ke lantai dengan sewek bermotifkan liris di hiasi Glitter berwarna silver yang membaluti motif batik sewek yang di kenakan Kania. Tak lupa hijab dengan warna senada dengan kebanya.
Kania nampak cantik, anggun dan terlihat elegan. Mahkota mungil yang terbentuk dari mutiara-mutiara mahal juga nampak menghiasi kepala Kania.
__ADS_1
Saat turun dari tangga, dan nya mata memandang Kania takjub. Niko yang sudah duduk di kursi depan penghulu mengalihkan pandangannya pada mempelai wanita wanita yang baru saja tiba dan menuju kursi di samping Niko.
Mata Niko tak berkedip, Dunia seolah berhenti berputar. Satu kata yang di gumamkan Niko, "Cantik".
Hingga Kania duduk di samping Niko suara penghulu mengejutkan Niko, saat itulah kesadaran Niko kembali. Maka, dimulailah acara pernikahan yang begitu sakral.
"SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWINNYA KANIA NAYAKA MAHARDHIKA BINTI FANDYKA SATYA MAHARDHIKA DENGAN MAS KAWIN SEPERANGKAT ALAT SHOLAT DAN EMAS SEBERAT SEBELAS GRAM TUNAI"
sah
sah
sah
sah
Nawal dan Anjani yang duduk berdampingan tak kuasa menahan rasa keharuannya. Meneteskan air mata bahagia. .
Demikian pula dengan Fandy. Putrinya dengan segala keluguannya kini telah melimpahkan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah kepada Niko, pria yang kini telah menjadi menantunya.
Bagi Nawal dan Fandy, sebengal apapun Kania, mereka tetaplah peri kecil mereka. Fandy dan Nawal bersyukur, meski sikap Kania begitu barbar dengan kepercayaan diri tingkat tinggi, namun Kania masih mampu menjaga kehormatannya. Alih-alih berkencan, justru Kania meminta nikah.
Setelah penghulu membacakan doa......
"Ekhm.....", Kenan tetaplah Kenan yang tidak bisa diam dan selalu jahil pada adiknya. Keheningan dan suasana romantis diantara Kania dan Niko lenyap sudah tatkala Kenan berdehem dan mengehentikan drama dalam pernikahan itu.
Refleks Niko dan Kania menghentikan aktifitasnya kemudian saling memalingkan wajah mereka. Anja yang ada di samping Ken pun refleks mencubit pinggang Kenan yang membuat Ken meringis kesakitan.
"Udah nanti aja di kamar. Sekarang masih banyak tamu, woy", ucap Kenan lantang. Sontak semua mata menatap ke arah Kenan dan mereka sontak tertawa bersama. Menghilangkan ketegangan dan keheningan yang terjadi.
"Kenan....!!!!", Nawal melotot ke arah putranya. Bagaimana mungkin Ken meledek adiknya habis-habisan seperti ini. Sungguh memalukan.
Setelah pernikahan usai, kini Kania berganti gaun peach silver yang telah di pesannya pada butik teman Nawal. Tidak banyak yang datang, hanya teman dekat Niko teman sekolah dan teman kuliah Kania.
......................
Hari telah berganti petang.....
Kania tengah membersihkan diri setelah seharian beraktifitas hingga kelelahan. Niko juga sudah membersihkan diri tadi.
"Mas Niko....." Kania menghampiri Niko yang tengah menatap serius ke arah layar laptopnya. Refleks Niko mendongakkan kepalanya menatap sang istri.
__ADS_1
Kania tersenyum malu-malu.
"Apa?" Tanya Niko, setelah itu Niko kembali fokus pada laptopnya.
"Nggak pengen cium aku??" Tanya Kania terang-terangan. Niko menahan nafasnya sepersekian detik. Ia bingung harus menjawab bagaimana. Kania berjalan santai mendekat dan mendaratkan bokongnya di tepi ranjang sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk.
"Nanti, Kania. Bentar lagi makan malam, kan?", Jawab Niko lembut. Niko sadar, seharusnya Niko lebih bersabar menghadapi istrinya.
"Oh iya..... nanggung ya mas waktunya". Sahut Kania seraya menyisir rambutnya yang basah.
"Emang mau ngapain?", Tanya Niko menggoda.
"Mau cium lah....", Jawab Kania ringan. Kania beranjak dari duduknya hendak memoleskan sedikit bedak dan lipstik ke wajahnya
"Yaudah, cium aja kan? Sini aku cium".
"Ogah.... ya kan sambil.......", Kania menjeda kalimatnya, kemudian memalingkan wajahnya malu
"Sambil apa?", tanya Niko seraya mengemasi laptopnya, meletakkannya ke atas nakas.
"***-***......"
"Ena-na itu memangnya apa sih?" Niko sengaja pura-pura tak tau.
"Kuda-kudaan, puas?" sahut Kania cepat seraya berlalu keluar kamar. Kania merasa sebal pada Niko yang sengaja mnggodanya. Niko hanya terkekeh geli mendengar dan melihat kekesalan sang istri...... istri labilnya itu.
Setelah membuka pintu, alangkah terkejutnya Kania dan Niko yang masih ada di dalam kamar. Fandy dan Nawal melongo melihat anak dan menantunya itu. Pasalnya, Fandy dan Nawal mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Papa sama mama ngapain berdiri di sini? Nguping sama ngintip pengantin baru ya?". tanya Kania heran.
Nawal dan Fandy gelagapan seraya saling lempar pandang.
"Ngapain nguping ngapain ngintip. Kalau mau juga langsung aja sama papa. Mama cuma mau ngajak makan malam eh kamunya malah debat di dalam? Udah debatnya? Kalau udah cepet turun makan malam udah siap", jawab Nawal tanpa memberi kesempatan putrinya menjawab.
"Ayo Niko kita turun makan malam bersama". Sambung Fandy dengan menatap lembut sang menantu.
"Iya pa".
🌹🌹🌹🌹🌹
Aku ngetiknya sambil kepingkal-pingkal loh
__ADS_1
😂😂😂😂😂😂😂😂😂