PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 3. 35


__ADS_3

Vanya merasa kerdil seketika. Kedatangan adik Dewa di apartemen Dewa yang saat ini ia dan Dewa tempati, tentu memiliki niat yang tak baik terhadapnya. Vanya tahu itu.


Berusaha tenang, Vanya tetap akan menghadapi apa pun bentuk badai dalam rumah tangganya bersama Dewa, meski di sudut lain, Vanya pasrah bila sewaktu-waktu dirinya harus dipisahkan dari Dewa.


"Ya, silahkan masuk." Vanya berusaha sopan, meski sepertinya, usia Diana tak jauh berbeda darinya.


Diana melangkah masuk sembari duduk di sebuah sofa tunggal di ruang tamu. Diamatinya seluruh ruangan apartemen kakaknya. Semua yang menjadi fasilitas yang Vanya tempati ini, akan menjadi tempat penyiksaan untuknya.


"Kamu memang menjadi menantu keluarga Sinatra. Kata lainnya, kamu menjadi bagian dari keluarga ini. Tapi ingat satu hal, Vanya. Mama dan papa nggak pernah menghendaki mas Dewa yang bodoh itu dapat anak haram kayak kamu." Ucap Diana lembut.


Nada bicaranya lembut, hanya saja, kalimatnya cukup membuat hati Vanya menciut. Vanya hanya bisa menunduk, tak membiarkan matanya yang berkaca-kaca itu, terlihat oleh dewa.


"Aku pikir kamu berasal dari keluarga baik-baik karena sepupu kak Anika. Tapi rupanya, perbandingan kalian jauh. Apa . . . orang tua kamu yang mendidik kamu jadi wanita perebut suami orang?" Tanya Diana sambil tersenyum penuh ejekan.


"Kamu boleh hina aku. Tapi jangan menghina keluargaku." Vanya tak lagi menundukkan wajahnya. Ia cukup sadar sekarang, karena kebodohannya, nama baik keluarganya juga terseret menjadi bahan ejekan.

__ADS_1


Diana bangkit dan berdiri. Gadis itu menunjuk Vanya dengan jari telunjuk kanannya.


"Tentu saja nama orang tua harus terseret, karena mereka terlibat atas apa yang dilakukan anak-anaknya. Apa kamu lupa, bahwa jika anak yang melakukan satu saja keburukan yang tak seberapa, pasti orang-orang akan menyeret nama orangtuanya sebagai pendidik utama. Aku kemari cuman mau ingatkan kamu, kalau sebentar lagi, kak Dewa bakal di depak oleh keluarga besar. Keluargaku bukan menghakimi kalian, hanya saja, kalian harus menanggung semua konsekuensinya.


"Dan satu lagi, anak haram nggak mungkin menikah dengan menggandeng nama bapaknya."


Dengan kasar, Diana bangkit dan berlalu pergi, menutup pintu apartemen Dewa dengan sangat keras.


Tinggallah Vanya seorang diri, meratapi penderitaannya. Bahkan Vanya sendiri tak mendapatkan jawaban, mengapa ayahnya tidak bisa menjadi walinya saat menikah dengan Dewa.


"Van, kamu kenapa? Apa yang terjadi?" Tanya Dewa sambil meraih istrinya ke dalam pelukannya.


"Keluarga kamu memang benar. Aku anak haram, mas. Ceraikan aku, karena aku hanya anak haram." Jawab Vanya sambil menangis.


"Hei, kenapa ngomong gitu? Siapa tadi yang datang kesini?" Tanya Dewa tak mengerti.

__ADS_1


"Diana benar, aku cuman anak haram. Aku nggak baik untukmu. Diana bilang, kamu bakal didepak dari keluarga kamu. Sebaiknya kita hentikan saja semua ini, mas. Aku kotor, aku nggak pantas buat kamu." Ungkap Vanya sambil terus terisak.


"Kamu cuman lagi syok dan tertekan. Jangan ngomong apa pun lagi. Kita, selamanya rumah tangga kita akan terus berjalan. Kamu juga harus janji, kamu bakalan dampingi aku meski aku dalam kemiskinan." Ungkap dewa.


Sejujurnya, sejak dalam perjalanan pulang tadi, Dewa sangat khawatir, bagaimana caranya menyampaikan kabar buruk ini pada Vanya. Hanya saja, entah bagaimana caranya, Kini Dewa merasa lebih lega.


"Apa maksud kamu, mas?" Tanya Vanya sambil menguraikan diri dan menatap dalam, suaminya.


"Aku bukan lagi pemimpin di perusahaan. Sore tadi, aku resmi dikeluarkan dari perusahaan. Mari kita menjalani hari dengan kesederhanaan setelah ini. Aku akan cari kerja untuk keluarga kecil kita. Beri aku anak yang banyak dan lucu."


Vanya syok.


"Ya ampun, mas. Ujian apa lagi ini." Vanya tergugu dalam tangis. Menangisi nasibnya dan Dewa yang terlanjur menyedihkan.


**

__ADS_1


__ADS_2