
"Aku mau......
Papa urus anaknya Tante Mila.
Aku nggak mu ya, dia ngincer mas Niko seperti Tante Mila ngincer papa. Aku tengah hamil tua dan nggak mau ngerasain apa yang mama rasain dulu. Kania dan mas Ken udah tau kisah antara papa dan mama di masa lalu.
Jadi pagi ini Kania mohon dengan sangat....
Papa beresin cewek gatel luar dalam kayak si Winda ini. Lebih dari seminggu yang lalu, Winda ini nyari info tentang identitas mas Niko, dan belakangan makin gencar ngedeketin mas niko",
~Part sebelumnya~
Semua terbengong dengan sikap santai kania yang begitu tenang.
Menilik dari sifatnya yang barbar dan urakan, sikap Kania kali ini begitu bertolak belakang.
"Jadi....?".
Tanya fandy, ia seperti tengah mencerna apa yang baru saja di katakan putri bungsunya itu.
"Papa bego Apa pura-pura bego sih?
Ya buat tante Mila sama anaknya menjauhi mas Niko lah.
Apa perlu aku sendiri yang turun tangan?
Apa perlu aku menyerang mereka secara langsung?
Mumpung aku lagi laper nih, butuh makan orang. Aku nggak peduli sama masa lalu papa dan mama. Yang aku peduli cuma masa depan rumah tangga ku pa.
Aku juga banyak perjuangan dan pengorbanan loh buat dapetin mas nik, dan itu tuh nggak gampang.
Harga diri taruhannya. Papa nggak lupa kan?.
Terus sekarang orang-orang masa lalu papa datang punya rencana busuk buat merebut milikku.
Siapa yang nggak emosi?".
Ucap Kania panjang lebar dengan intonasi tinggi.
Ia sebal sekaligus jengah dengan papanya yang tak mengerti dan masih mencerna apa yang tadi ia bicarakan.
"Sayang udah jangan emosi. Kamu lagi hamil loh. Aku percaya papa bakal urus secepatnya.
Aku juga tentu akan menjaga hati ku buat kamu.
Kamu Kenal aku, kan?
Kamu percaya aku, kan?"
Ujar Niko menenangkan.
Tangan kanannya mengusap pelan lengan istrinya.
Nawal dan Anjani hanya mengusap dadanya.
Merasa merinding dan sedikit ngeri dengan ucapan Anjani.
Kania adalah putri Fandy yang cenderung Fandy manjakan. Entah bagaimana cara didik Fandy, Kania yang di manja, tidak tumbuh menjadi pribadi lemah yang mudah di tindas seperti anak manja kebanyakan, melainkan berubah menjadi sosok yang menakutkan bila ketenangannya terusik.
__ADS_1
Kania memang barbar, namun juga bisa liar bagi siapapun yang mencari masalah dengannya.
Ia tak segan-segan menyerang dan melumpuhkan lawannya tanpa ampun.
Pernah suatu ketika waktu Kania masih duduk di bangku SMP, tiga orang siswi menyindir dan mencuri buku PR matematika Kania.
Menjambak, mencakar, menendang, menampar lawannya dan lain-lain seringkali ia mengaku khilaf saat Nawal memarahinya.
Alhasil, lawan nya lah yang menyesal dan kapok tak mau berurusan lagi dengan Kania.
Di laporkan pada polisi?
Itu tak mungkin karna Kania terlahir dari keluarga Mahardhika.
Keluarga kaya raya yang memiliki banyak usaha di beberapa bidang.
Melawan Fandy jelas itu hal yang mustahil.
"Iya, aku percaya", Kania menghembuskan nafas lega.
Ken hanya geleng-geleng kepala menyaksikan sikap emosional adiknya yang tengah hamil ini.
Ken adalah anak lelaki, namun ia tak pernah main urakan apalagi main serang.
La Kania ini perempuan.....
Tapi tingkahnya.....
Sulit di jabarkan dengan kata-kata.
"Papa akan urus hari ini juga.
Tapi tolong, jangan ungkit masa lalu lagi.
Yang lalu biarlah berlalu....
Cinta papa cuma buat mama sampai papa mati.", lanjut Fandy dengan merangkul bahu istrinya. Menatap nawa dengan penuh cinta.
Nawal Tersenyum.
Sekian tahun menghabiskan waktu bersama, membuktikan bahwa Fandy memang sangat mencintainya
Apa lagi Fandy menyerahkan penuh urusan rumah dan seisinya pada Nawal, Nawal kian terpesona pada suami berondong nya ini.
"Good", jawab Kania seraya mengacungkan kedua jempol nya.
"Aku tunggu kabar selanjutnya".
Semua bernafas lega ketika suasana kembali mencair.
.................
Beberapa hari kemudian....
Di sebuah rumah minimalis namun terbilang mewah itu, Mila dan Winda tengah menyantap sarapan paginya. Hari ini, Winda akan berangkat kuliah, Mila sengaja menyiapkan bekal salad buah kesukaan anaknya.
Semenjak suaminya meninggal beberapa tahun lalu, Mila tinggal di sebuah rumah peninggalan suaminya. Meski tidak kaya, namun Mila bersyukur, sepeninggal suaminya ia masih memiliki tabungan yang ia gunakan untuk usaha kecil-kecilan membuka toko grosiran sembako.
"ma.... aku pulang malem nanti. Paling habis isya'. Nggak usah nunggu aku.
__ADS_1
"Mau bikin masalah dengan menghancurkan rumah tangga orang?
Itu kan rencana kamu?", tanya Mila santai.
Winda menegang. Bagai mana pun, mamanya tidak boleh tau tentang pria yang Winda sukai.
"Mama....?".
"Mama denger kamu telponan sama seseorang kemarin malam.
Ingat Winda....
Jangan bodoh. Harga diri dan kehormatan seorang gadis adalah pada tingkah lakunya.
Jangan hancurkan harga dirimu dengan hal memalukan seperti itu."
teriak mila.
Seumur hidup, Mila baru kali ini berteriak di hadapan putrinya.
Mila adalah sosok ibu yang sangat penyayang.
Tindak tanduknya ramah dan sopan.
Semua tetangga menyukainya. Apa lagi Mila orang yang dermawan dan suka bersedekah.
Hanya saja, karna cenderung dimanjakan Mila karna dia anak semata wayang, Winda seringkali lupa diri dan suka seenaknya sendiri.
Winda terdiam. Sedangkan Mila memilih berlalu dengan menumpahkan air mata nya.
Winda tertegun.
Rasa bersalahnya muncul.
"Haruskah aku lanjutkan?".
Winda di Landa kebingungan dan keraguan.
Namun ketertarikannya pada Niko terlanjur menyusul ke dalam hatinya.
Tiba-tiba pintu di ketuk dari luar.
Winda pun bergegas membuka pintu.
Alangkah terkejutnya Winda setelah melihat dua sosok di hadapannya. Winda masih ingat betul pada Fandy setelah pertemuan tak sengaja mereka tempo hari.
Dia adalah Fandy dan sepertinya wanita di samping ini adalah istrinya.
Wanita cantik nan anggun yang terlihat awet muda.
"Selamat pagi, benar ini kediaman ibu Mila?".
Tanya Nawal lembut.
Winda terkesima akan kelembutan Nawal.
Wanita dengan kelembutan dan kecantikan murni.
🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1