PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 3. Bonus.


__ADS_3

Malam telah larut, ketika Rama muncul diambang pintu kamar mandi, dan mendapati Anika yang tengah membaca majalah dengan santai. Baru kali ini selama tiga tahun Rama bekerja pada istrinya itu, Rama melihat wajah Anika yang polos tanpa make up, tanpa gincu, dan tampil apa adanya.


Cantik.


Itulah satu kata yang pantas Rama sematkan pada mantan janda Dewa Sinatra itu. Meski tanpa balutan make up, Anika masih tampak tampil menawan.


Dan apa itu? Daster sederhana yang melekat pada tubuh istrinya itu, membuat Rama panas dingin. Bagaimana ia harus tidur malam ini? Rama jelas canggung dibuatnya.


"Rama, kamu ngapain bengong disitu? Nggak tidur? Apa kamu nggak ngantuk?" tanya Anika yang memicing ke arah Rama kemudian.


"Saya, saya bingung, mbak. Gimana caranya saya tidur?" tanya Rama, antara jujur, dengan polosnya.


'Punya laki perjaka polos gini, antara enak dan gemes juga, yak?'


Tanya Anika dalam hati.


"Kamu nggak tahu caranya tidur? Tinggal rebahkan badan, sama pejamkan mata, apas susahnya? Dan lagi, ngapain kamu pakai panggil mbak lagi? Sini, tidur," Anika berdecak sambil meletakkan majalah yang sejak tadi dibacanya, diatas nakas.


Rama berjalan pelan, menuju ke ranjang dengan langkah dramatis yang aneh menurut Anika. Anika hanya cekikikan, menatap suami perjakanya ini.


Meski Anika janda dan Rama masih belum pernah menikah sebelumnya, sejujurnya usia mereka terpaut tiga tahun lebih muda Anika.


"Kamu kenapa gugup? Kalau kamu bingung, canggung dan masih nggak siap, nggak apa-apa, kok. Aku nggak maksa dan akan nunggu sampai kamu siap. Aku sadar, pernikahan ini berjalan terlalu cepat dan kamu juga masih syok pastinya. Jadi, kamu jangan tertekan, ya?" Anika menatap Rama yang juga menatapnya.

__ADS_1


Kalimat panjang lebar Anika, nyatanya membuat Rama terfokus pada satu titik bibir Anika yang ranum dan merona. Naluri lelaki untuk menyesap bibir manis itu, nyatanya muncul secara alami, menuntun Rama mendekati wajah istrinya, tanpa mencerna seluruh ucapan Anika.


Mendapati Rama yang mendekatkan wajah, membuat Anika bungkam segera, meneguk salivanya dengan susah payah. Mendadak, ia yang justru mendadak gugup.


'Gila, ini jantung kenapa sih? Kok malah deg-degan, sih? Ya ampun, kenapa jadi aneh gini? Kenapa mendadak Rama yang agresif?"


Batin Anika.


Anika yang terbiasa barbar dan terbiasa agresif, kini mendadak parah dan tidak berkutik, saat Rama mendekatinya dan menatap bibirnya penuh hasrat.


Rama tak berkata apa-apa ketika ciuman itu terjadi perdana, saat Anika telah resmi ia miliki.


Dengan bodohnya, Anika kelepasan mengeluarkan ******* kurang ajar dari mulutnya. Ia tidak menyangka, tiga tahun tidak merasakan kenikmatan bersentuhan dengan pria, respon tubuhnya begitu berlebihan. Apa ini? Mengapa Anika mudah terbuai, begitu berbeda dengan ketika pertama kali Dewa menyentuhnya dulu saat malam pengantin.


Ada banyak harapan yang Rama letakkan pada pernikahannya bersama Anika. Ia berharap, dirinya menjadi sandaran terakhir untuk Anika yang dulu pernah merasakan sakitnya pengkhianatan.


**


Sepuluh tahun berlalu begitu cepat, sejak pernikahan Anika dan Rama. Dewa dan Vanya masih tetap sama, merasakan dan menikmati waktu hanya berdua saja sepanjang pernikahan mereka.


Ada banyak hal yang kini mereka rasakan, tentunya terkait kekecewaan di hati keduanya. Bagaimana tidak? Tiga belas tahun menikah, tidak satupun Vanya mampu memberikan keturunan untuk Dewa.


Finansial yang dulu sempat merosot, kini membaik, seiring dengan waktu yang terus berjalan. Namun ada satu yang membuat Dewa begitu kecewa dengan pernikahan mereka.

__ADS_1


Memang benar Dewa mencintai Vanya sepenuh hati, itu yang dulu Dewa ungkapkan. Namun lihat saja, dengan kekurangan Vanya yang saat ini tidak bisa memberikan Dewa keturunan, membuat Dewa tentunya merasa kecewa.


"Apa ini hukuman untukku, Mas?" Vanya menatap Dewa dengan penuh perasaan.


Sepasang suami istri itu tengah duduk di ruang kerja Dewa di butik yang sudah Anjani berikan pada putri sulungnya itu. Mereka tak pulang, meski nyaris semua karyawan telah pulang.


"Mungkin. Aku sendiri nggak tahu. Jujur aja, aku pengen Vio tinggal sama kita," jawab Dewa datar. "Sayangnya, Anika nggak mengizinkan, padahal dia udah punya tiga anak hasil pernikahannya dengan Rama. Ngerasa nggak sih, kalau hidup kita terasa hampa tanpa anak?" Dewa bertanya pelan.


Lelaki itu menatap istrinya dengan perasaan campur aduk.


"Apa aku coba bujuk Anika sekali lagi, untuk mengizinkan Vio dirawat sama kita? Anak itu udah besar, udah sekolah. Apa nggak boleh gitu ya, kalau Vio ikut Papanya? Biar gimana pun, kamu juga orang tuanya Vio," ujar Vanya kemudian.


"Anika waktu itu pernah bilang, kalau Vio mau, boleh lah nginep di rumah sesekali. Tapi aku inginnya Vio tinggal sama aku, karena aku nggak ada anak sama kamu. Ya, mungkin ... ini bentuk hukuman buat kita dari Tuhan. Aku menyesal sudah menyakiti Anika, Vanya," kata Dewa yang mencurahkan isi hatinya.


Hati wanita mana yang tidak sakit, ketika awal mula pernikahannya dulu disesali? Dan Vanya kembali merasakan jantungnya nyeri tanpa bisa dicegah, dan itu entah untuk yang ke berapa kalinya.


Mereka saling mencintai, namun akhirnya mereka saling menyakiti begini.


"Ya udah, aku tunggu di mobil, Mas," pamit Vanya yang kemudian melangkah keluar. Ia perlu menenangkan hatinya yang setiap hari selalu sakit, akibat tidak bisa memberikan keturunan untuk suaminya.


Dalam setiap kisah dan sebuah perselingkuhan, selalu ada hukuman dari Tuhan. Bahkan sekalipun yang tersakiti sudah memaafkan, namun hukum Tuhan akan tetap berlaku.


**

__ADS_1


Maaf yak, adegan 21++ nggak bisa dijabarkan, neng Tia lagi puasa,🫰😘🙏


__ADS_2