
"Kamu jangan ngadi-ngadi deh, sayang. Mana boleh kamu hamil lagi? Fatih masih kecil. Kalau memang mau, kenapa harus ngomong di depan para orang tua, sih?"
Niko tak bisa menahan kegusaran hatinya akibat kejujuran Kania yang terlalu gamblang. Akhirnya, Niko kepalang malu setengah mampus di depan kedua orang tua nya dan kedua mertuanya. Saat ini, keduanya sudah berada di dalam kamar berdua. Fatih di ajak tidur oleh ibu Niko. Sedang Nawal dan Fandy sudah pulang beberapa menit yang lalu.
"Memangnya nggak boleh, ya mas?"
Kania meringis pelan, menyadari dirinya salah, tapi sudah telanjur terjadi".
Astaga..... aku kok nggak bisa menahan diri, sih? Mas Niko kalau ilfill sama aku, gimana dong?
Imbuhnya dalam hati.
"Boleh. Boleh kalau memang kamu berniat dan bersedia kembali mengandung anakku. Tapi tidak boleh untuk pake cerita segala sama orang tua.
Astaga, sayaaaaang..... aku mana tahan malu? Memangnya kamu nggak malu?"
Ungkap Niko tertahan dengan alunan frustasi yang nampak nyata.
"Kan orangnya kita, mas. Jadi aku pikir, jujur nggak masalah, kan?" Kita memang di anjurkan selalu jujur dalam hal apa pun. Tapi tidak juga di depan orang tua ngomong gitu. Itu privasi, Kania. Kamu ngerti privasi, kan?"
Kania baru lah mengerti maksud dan arah pembicaraan suaminya kali ini. Ibu muda itu kemudian menggigit bibir bawahnya, dalam-dalam. Menghalau rasa bersalah yang tiba-tiba menyelusup ke dalam hatinya. Kania merasa bersalah. Apa lagi, barusan Niko tak menyebutnya Sayang. Tapi justru memanggil namanya secara langsung. Kania benar-benar menyesal kali ini.
Kania menunduk dalam dan mengangguk beberapa kali. Se bar-bar nya Kania, tapi ia sama sekali tak berani menentang dan membantah ucapan suaminya. Baginya ia tak mau menyakiti hati suaminya yang sudah menerimanya dengan tulus meski Kania acap kali melakukan banyak kesalahan.
Melihat Kania yang tak berani menatap dirinya dan terlihat ketakutan, Niko menyadari bahwa istri nya ini merasa bersalah. Niki tak sampai hati membuat wanita nya sesedih ini. Maka, dengan gerakan pelan, ia meraih tengkuk istrinya dan membawa tubuh istrinya ke dalam pelukannya. Di peluknya erat dan penuh kasih sayang.Tak lama, Sebuah isakan kecil terdengar dari bibir mama Fatih itu.
"Maaf kalau aku salah ngomong, sayang. Aku cuma nggak mau kamu berbuat salah nantinya. Aku mau yang terbaik untuk kamu dan keluarga kecil kita. Itu aja, nggak lebih"
Ungkap Niko lirih sembari mengusap bahu istrinya beberapa kali.
Lihatlah, bahkan ketika Kania yang berbuat salah dan Niko menasehati, selalu saja berujung Niko yang meminta maaf. Kania bersyukur dalam hati, ia telah mencintai pria yang benar. Tak tau jadinya nanti bila seandainya bumi tak menerimanya dengan tulus. Kania pasti tak akan se-bahagia ini.
"Kamu nggak salah, mas. Kamu nggak salah. Aku yang salah. Maafin Kania ya, mas".
__ADS_1
Ungkap Kania di sela-sela Isak tangisnya, membuat Niko semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku janji aku nggak akan mengulangi kesalahan yang sama".
Kania kemudian merenggangkan pelukannya pada Niko.
"Beneran? Nggak akan mengulangi kesalahan yang sama?" Kania mengangguk dan menatap Niko.
"Kenapa?"
"Karena banyak kesalahan-kesalahan lain yang belum aku coba".
Jawab Kania kemudian merebahkan tubuhnya di ranjang. Menikmati wajah Niko yang nelangsa akibat ucapannya.
"Astaga Kania......."
Niko gusar bercampur geli dan merasa konyol oleh sikap istrinya ini.
~~
~~
Pinta Anjani pada suaminya.
Saat ini, mereka tengah berada di dalam kamar, duduk dan bersandar di bahu ranjang sembari Kenan mengusap-usap puncak kepala istrinya pelan penuh kasih sayang.
"Boleh, tapi nanti konsultasi sama dokter dulu".
"Iya".
Kenan memperhatikan wajah istrinya lama. Mendalami mata uang selama ini menghanyutkannya.
Dulu, Kenan bahkan hampir gila ketika Anjani menghilang di saat Anja mengandung anaknya. Dan Kenan menyesali segala perbuatannya yang telah melukai hati dari wanita yang tengah mengandung darah dagingnya. Kedepannya, apapun yah tejadi, kan tetap tidak akan membiarkan siapapun mengusik keutuhan rumah tangganya.
__ADS_1
Siang tadi ketika di ruang kantor, ketika hendak memeriksa rancangan busana hasil karya wandira, rekan kerjanya, Ken melihat gelagat lain yang Dira tunjukkan padanya. Namun sayang, Ken terlalu peka dan tidak ingin memberi respon apapun.
"Kamu lagi mau apa lagi sekarang? Makanan, mungkin?"
Kenan menawarkan apapun yang istrinya mau.
"Hmmmm aku pagi nggak mau apa-apa. Yang aku mau, mas jangan jauh-jauh dariku".
Anjani menjawab pertanyaan suaminya dengan nada suara manja. Hatinya terlampau berbunga saat ini yang entah karena apa. Semenjak hamil ke dua, kesedihan Anja adalah ketika di tinggal Ken entah bekerja atau kemana pun. Dan ketika Ken ada di dekatnya, sudah membuat Anja bahagia luar biasa.
"Uuu udah pinter ngerayu ya, sekarang?"
Kenan menoel pelan hidung istrinya gemas.
Dan di saat yang bersamaan, ponsel Kenan berdering sebagai tanda adanya panggilan masuk. Tentu saja Kenan mengernyitkan kening dalam, ketika melihat siapa si penelepon. Dan Kenan tak segera menjawab panggilan dari ponselnya.
"Siapa?"
Tanya Anja yang menyadari keengganan suaminya untuk menerima telepon.
"Rekan kerja".
"Ya udah. Angkat aja dulu. Siapa tau penting?"
"Ini di luar jam kerja, nja. Lagian masih ada hari esok."
"Tapi kan siapa tau darurat banget, mas. Kalau nggak darurat nggak mungkin kan telepon kamu?"
Kenan gamang, antara harus menerima panggilan, atau membiarkannya saja.
..
..
__ADS_1