PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Episode 65


__ADS_3

"Selamat pagi, benar ini kediaman ibu Mila?".


Tanya Nawal lembut.


Winda terkesima akan kelembutan Nawal.


Wanita dengan kelembutan dan kecantikan murni.


~part sebelumnya~


"I... iya iya betul.


Om temen mama yang waktu itu, kan?


Mama ada, tunggu sebentar... Winda panggilkan dulu"


Ucap Winda gugup dan segera membuka pintu rumahnya lebar-lebar.


Beruntung Fandy sebelumnya telah menjelaskan perihal pertemuannya dengan Mila dan Winda, putri Mila. Jadi kini Nawal tak terkejut sama sekali.


Dengan percaya diri, Nawal melangkah masuk mengikuti langkah suaminya dengan mengapit erat lengan Fandy.


Winda terkagum-kagum akan sosok cantik yang baru datang bertamu di rumahnya ini.


"Duduk dulu Tante, om. Bentar Winda panggilkan mama", ucap Winda sopan sambil melenggang pergi dari ruang tamu menuju kamar mamanya.


"Ma...."


tok tok tok.....


Pintu kamar Mila di ketuk dari luar.


"Om yang waktu itu ketemu kita itu loh, ma.


Tuh sekarang datang sama istrinya"


Ungkap Winda yang sama sekali tak tau tentang masa lalu mamanya.


Di dalam......


Mila nampak mengernyit bingung sambil mengusap air matanya.


Setelah memastikan wajahnya tak terlihat seperti baru selesai menangis, Mila pun membuka pintunya dan keluar tanpa melihat apa lagi menyapa Winda sama sekali.


Winda menghela nafasnya gusar.


Alangkah terkejutnya Mila saat tau bahwa tamu yang bertandang ke rumahnya dulu adalah Fandy dan Nawal, mantan suaminya dulu bersama istrinya.


Nawal dan Fandy nampak akrab, sesekali tersenyum pelan sambil bercanda.


Gemuruh di hati Mila saat bertemu Fandy, masih ada.


Dengan menguatkan hatinya, Mila menetralkan emosinya dengan berdehem.


Sontak Nawal dan Fandy menoleh ke arah Mila.


"Assalamualaikum, mba Nawal, mas Fandy....


Sudah dari tadi kah?", Tanya Mila dengan mengulas senyum lembut. Ia menyambut tamunya dengan ramah.

__ADS_1


"Wa'alaikum salam. Enggak sih baru nyampek".


Tiba-tiba Winda datang dengan membawa nampan berisi dua gelas minuman, dan hendak berpamitan untuk kuliah pada mamanya.


Fandy dan Nawal menatap lekat Winda hingga Winda menghilang di balik pintu.


Sejurus kemudian, Fandy mengeluarkan foto terbaru Kania dan Niko.


"Mil.... Ini adalah foto adiknya Kenan, dan ini adalah menantu ku. Saat ini putriku ini tengah mengandung delapan bulan". ucap Fandy tenang.


Mila menerima foto itu dengan kebingungan.


Pasalnya ia tidak tau bahwa pria yang di sukai putrinya adalah menantu dari mantan suaminya.


"Iya, terus ini maksudnya gimana ya, mas?", Tanya Mila tak mengerti.


"Em begini... ini tentang Winda.


Beberapa hari yang lalu, putrimu itu mengorek informasi tentang menantuku.


Putriku merasa tidak nyaman dengan kelakuan Winda yang secara terang-terangan mengincar menantu ku".


Jawab Fandy hati-hati.


Mila syok dan tubuhnya menegang. Foto Niko dan Kania yang dari tadi di peganginya, kini jatuh teronggok mengenaskan ke lantai.


Jadi.... pria itu menantu Fandy?


Oh tidak!!!


Sesempit inikah dunia?


"Jadi kami mohon dengan sangat agar Winda tidak lagi mengganggu ketentraman dan mengusik kebahagiaan putri kami.


Putriku Kania tengah hamil delapan bulan, tolong kasihanilah dan beri Winda pengertian agar menghentikan niatnya.


Biar bagaimana pun, di luaran sana banyak pria lajang yang masih pantas untuk Winda, bukan?".


Sahut Nawal cepat.


Nadanya masih datar, tapi percayalah.....


Sebenarnya di dalam hatinya, gemuruh itu begitu meledak-ledak.


Ingin sekali ia mengumpat, mencakar, menampar, menendang dan memaki Mila, mantan madunya dulu.


Bagaimana mungkin penyakit suka merebut suami orang itu di wariskan turun temurun pada anak cucu mereka?


Nawal tak habis pikir.


Air mata Mila runtuh seketika.


Ia tak menyangka putrinya yang ia besarkan dengan penuh kasih sayang, kini berani mengusik ketenangan rumah tangga orang lain, terlebih lagi itu putri mantan suaminya.


"Ma maaf mba Nawal.... Aa aku sama sekali nggak tau. Aku lalai dalam menjaga putriku.


Aku janji, aku akan membuat anakku berhenti mengusik kedamaian kalian. Sumpah demi tuhan, aku sama sekali nggak tau kalau pria itu mantu kalian.".


"Iya, kami mengerti. Aku harap, kita masih bisa menjaga hubungan baik tanpa mengusik kedamaian satu sama lain".

__ADS_1


Tukas Nawal kemudian.


Fandy bernafas dengan lega.


"Iya, mba Nawal, mas Fandy....


Aku juga berharap demikian. Sekali lagi mohon maaf, aku janji akan merubah putriku lebih baik lagi", ucap Mila yang di angguki oleh Fandy dan Nawal.


*******


Pada saat Niko mengendarai mobil menuju jalan pulang, ia merasa seperti ada motor yang membuntutinya dari beberapa jam yang lalu. Di lihat dari penampilan luarnya, sepertinya pengendara motor tersebut adalah perempuan.


Bagus, sepertinya wanita yang terobsesi dengan Niko kali ini benar-benar tidak setengah-setengah dalam mengambil tindakan. Niko mampu memastikan, bahwa wanita itu adalah wanita yang sama dengan yang waktu itu bertanya-tanya di cafe Niko.


Ia sudah mengantisipasi kan hal ini. Namun siapa sangka bahwa motor itu menyalip dan sengaja meneyerempet pelan mobil Niko yang juga melaju pelan.


Kejadiannya begitu cepat dan Niko tidak dapat menghindarinya.


Brak....


Winda jatuh ke samping. Niko pun berdecak malas dan menepikan mobilnya ke kiri.


Winda sudah meringis kesakitan dan Niko segera turun untuk menghampiri Winda.


Beberapa warga sekitar menghampiro Niko dan beberapa orang menyarankan agar Niko membawa nya ke rumah sakit.


Tanpa kata, Niko mengangkat Winda di bantu beberapa warga.


Dalam hati, Niko mengumpat kebodohan dan gaya si Winda yang terlihat receh itu.


Setelah memasuki mobil dan menjalankannya pelan, Niko segera menelfon


Kenan. Serta tak lupa ia meminta Ken untuk menyusul Kania yang ada di rumah.


"Hallo mas Ken...


Ini cewek yang waktu itu nekat nabrakin motornya ke mobil ku.


Ini aku mau bawa ke rumah sakit.


Tolong bawa istriku juga ke rumah sakit biar dia tau, jangan lupa juga hubungi papa.


Dan kalau perlu, Tante Mila juga harus tau semua ini".


Tukas Niko kemudian sebelum mematikan ponselnya,


Winda yang mendengar apa yang baru di ucapkan Niko pun terkejut setengah mati, wajahnya pucat pasi dan tubuhnya menegang.


"Mas... mas....?", tanya Winda setengah tergagap.


Niko pun menjawab tanpa memandang Winda sama sekali


"Jangan bertanya apapun lagi.


Aku bahkan nggak Sudi meski hanya sekedar melihat wajahmu yang menjijikkan dan tingkahmu yang murahan itu".


Tegas Niko dingin.


Winda tak percaya...

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2