
Seorang wanita tengah duduk di taman belakang rumah dengan menggendong bayi mungil yang belum genap berusia dua bulan. Tatapan matanya kosong seakan pikirannya mengelana jauh entah kemana.
Sang bayi terlihat tenang tanpa bergerak dipangkuan sang wanita. Ya, dia tengah tertidur pulas di waktu sore hari seperti ini. Sekali lagi, tatapan sang wanita beralih pada bayi yang di gendongannya.
Nawal. Ya, dia adalah Nawal.
Meski usia Nawal memasuki usia pertengahan abad, tapi penampilannya tidak lah setua itu. Wajah wanita ini begitu anggun dan teduh. Nampak tenang tanpa orang sadari, saat kemarahan menguasainya, ia mampu menghancurkan apapun yang ada di dekatnya.
Masih ingatkah saat Nawal mendengar kabar bahwa Kenan telah menghamili Anjani yang notabenenya adalah anak dari pembantu mereka?
Saat itu, Nawal lah orang yang paling histeris dan menyalahkan anaknya atas kemalangan yang menimpa Anjani
Nawal kembali mengingat saat-saat dimana dia melahirkan Kenan dulu. Tanpa Fandy dan tanpa orang tua, merupakan beban terberat dalam hidupnya. Kenan tumbuh tanpa kasih sayang ayahnya selama empat tahunan. Dia ingat bagaimana perasaan putranya saat ini.
Dengan menatap bayi ini, Nawal takut jika nasib yang menimpa putranya dulu, juga dialami oleh cucunya. Tidak. Nawal tidak ingin itu terjadi begitu saja. Ia akan berusaha sekuat tenaga untuk putra dan m nantinya bersatu.
Bukan kah seseorang berhak mendapatkan kesempatan kedua?
Dulu, Nawal juga sudah memberi kesempatan kedua pada Fandy, namun dengan tega Fandy kembali melakukan kesalahan yang sama dengan menikahi wanita lain.
Nawal menggeleng keras. Berusaha menepis kenangan masa lalu yang telah memporak porandakan hatinya.
Tanpa Nawal sadari, Fandy sudah berdiri di samping Nawal dan mengusap pelan cucu mereka.
"Ma, kenapa melamun sendirian di sini? Udaranya dingin loh. Nggak baik buat kesehatan, apalagi ada vanya juga. Ayo Mama masuk dulu, ya". Pinta Fandy dengan lembut. Nawal terkejut dan tak lama, ia pun tersenyum.
"Papa datang kok nggak bersuara?",
"Papa udah panggil, mama aja yang nggak dengerin. Lagian, takut bangunin Vanya nanti kalau papa terlalu keras manggil mama", Nawal hanya mengangguk dan tersenyum.
Tanpa kata, mereka segera membawa Vanya ke dalam.
Setibanya di dalam, Nawal segera membawa Vanya ke dalam kamar dan membaringkannya di atas ranjang. Sedang Fandy, segera menuju ke kamar mandi dan membersihkan diri.
Setelah selesai, Fandy berganti pakaian dan menghampiri Nawal yang setengah berbaring di ranjang dengan menatap cucunya.
"Apa yang mama pikirkan?", Tanya Fandy dengan hati-hati. Nawal menggeleng pelan.
__ADS_1
"Mama nggak habis pikir dengan Anjani, pah".
"Untuk hal?",
"Permintaan pisah".
"Terus?"
"Pah, coba deh papa bayangkan.... Menjadi seorang ibu dan membesarkan anak seorang diri itu tentu bukan hal yang mudah. Lalu? Anjani memutuskan untuk berpisah. Bagaimana nasib Vanya? Bukankah Ken juga udah mulai berubah?".
Fandy tersenyum simpul. Ia tahu dengan apa yang di rasakan istrinya. Tapi, semua itu terjadi bukan tanpa alasan, bukan?
"Sebagai orang tua, mama harus bijak dan mengerti dengan apa yang di inginkan anak-anak. Anjani melakukan itu bukan tanpa alasan, bukan? Meski Kenan udah berusaha berubah, tapi ingat.... Anjani masih terlalu muda dan memiliki tingkat trauma yang cukup menekan psikisnya.".
"Mama ingat? Dulu, meski usia mama cukup matang, nggak mudah juga kan bagi mama buat maafin papa? Tidak jauh berbeda dengan mama saat itu. Yang membedakan di sini hanyalah kasusnya. Jangan menyalahkan Anjani sepenuhnya. Ikuti saja alurnya dan sebagai orang tua, kita harus bisa mencegah sesuatu buruk yang bisa saja terjadi pada rumah tangga mereka".
Nawal sadar. Pikirannya mulai terbuka.
"Sekarang, Ken dan istrinya kemana?", tanya Fandy tiba-tiba karna sedari tadi tak juga mendapati keberadaan anak dan menantunya itu. Na Al tersenyum kecil.
"Ken ngajak Anjani jalan-jalan, pah."
...............
Di sinilah kenan berada, membawa Anjani ke sebuah pusat perbelanjaan terbesar di daerah Banyuwangi. Meski sebelum mereka berangkat, berlangsung drama penolakan Anjani yang cukup menguras waktu.
Entah apa yang di pikirkan Anjani menurut Ken, Hingga Anjani menolak untuk di ajak jalan-jalan.
Jika wanita lain akan dengan senang hati dan antusias, berbeda dengan Anjani yang bahkan enggan untuk mengunjungi tempat keramaian seperti mall. Apalagi, dirumah ada Vanya. Meski Nawal bersikeras untuk menjaga Vanya di rumah, Anjani masih lah tetap ngotot untuk tidak mau ikut .
"Nja, Kamu boleh pilih baju apa aja yang kamu mau. Apa mau ku pilihkan?". Anjani menggeleng.
"Nggak usah, mas. Aku mau pulang aja, kasian Vanya kalau terlalu lama di tinggal".
"Ayolah, nja. Di rumah ada mama. Kamu nggak usah khawatir. Lagian asi kamu udah ada dua botol di kulkas. Itu cukup ko buat Vanya" Sahut Kenan dengan tangan yang sudah mulai mencari baju yang cocok pada Anjani.
"Kalau mau baju, aku bisa ambil baju di toko baju milik suamiku. Ayo pulang". Kata Anjani dan segera menarik tangan Kenan. Tapi Kenan balik menarik Anjani.
__ADS_1
"Aku suami. Jadi kamu harus nurut apa kata suami. Aku nggak mau di tolak. Titik!" Tegas Kenan yang tentu saja tidak bisa di tolak Anjani. Anjani tentu saja menurut pada Kenan. Karena membantah pun akan sangat percuma.
Setelah memilih beberapa potong baju untuk Anjani, Kenan membelikan juga untuk Vanya. Dengan antusias, Kenan memilih baju yang terlihat cantik-cantik untuk bayi perempuan.
Hingga tanpa sengaja, hari sudah mulai gelap. Kenan dan Anjani bertemu dengan kedua sahabat Kenan, Rio dan Niko. Mereka pun berbincang sebentar dan memutuskan untuk makan malam sekalian.
Sesampainya di sebuah kedai makan yang cukup sederhana, mereka segera memilih tempat duduk lesehan.
"Nja, Kamu mau makan apa?", Anjani kaget karena tidak fokus dengan Kenan yang ada di sampingnya.
"Heh? Apa aja mas. Samain aja sama kamu" Tukas Anjani kemudian.
"Ya udah. Oh ya, minuman apa mau sama kayak aku aja? Aku pesen es jeruk loh ini". Anjani mengangguk namun, pandangannya tetap fokus pada satu meja yang tak jauh dari mereka.
Kenan pun yang heran dengan tingkah Anjani segera mengikuti arah pandangan Anjani.
Kenan terpaku. Pasalnya, tak jauh dari mereka, Lima gadis remaja tengah bergerombol dengan masih mengenakan seragam sekolah putih abu-abu.
Hati Ken berdenyut nyeri. Ia mengerti dengan apa yang di inginkan Anjani. saat ini, pastilah Anjani ingin seperti mereka.
Sayup-sayup, Anjani dan Kenan mendengar...
"Gila... seharian ini sibuk ikut bimbel. moga aja UTS ntar aku nggak gugup dan lancar ya"
"Iya. Moga aja gue lulus dengan nilai di atas rata-rata"
"Amin... Dan lagi, gue bisa di sambel sama nyokap kalau sampe nggak lulus"
"Nah, mending Lo di sambel. Kalau gue, bisa di coret dari daftar kartu keluarga. Kalian tau kan nyokap gue ganasnya kek apa?"
"Ihhh atuut".
Begitulah kira-kira percakapan mereka. Kenan segera menguasai dirinya dan bertanya pada Anjani.
"Nja....Kamu?", Belum sempat Ken menyelesaikan kalimatnya, Anjani sudah menjatuhkan cairan bening dari matanya.
"Aku mau sekolah".
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹