PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 2. 17


__ADS_3

"Huh, Kenapa harus ketemu Kania, sih?"


Kenan mendengus ketika melihat Kania mendekat ke arah mereka. Kencan Ken dan istrinya akhir pekan ini pasti terganggu.


Dimana-mana dan bagi siapa saja, keberadaan Kania seolah mengaktifkan alarm tanda bahaya.


Ken termasuk di dalamnya.


"Apa sih? Nggak bisa ya, sehari aja nggak usah ganggu orang lain?"


"Mana bisa? Kan emang Kania itu suka ganggu mas Ken?" Ucapnya ringan tanpa beban.


"Lagian di mana-mana, yang namanya adek bontot, ya wajib lah gangguin yang tua".


"Huh. Pinter-pinter kamu aja tuh".


Kania hanya cengengesan sembari menyejajarkan langkahnya dengan Anjani, mendorong Kenan ke belakang agar berjajar dengan suami nya, Niko.


"Mba Anja, Dua hari lagi ada acara event di cafe mas Niko. Datang, ya? Nanti kita bareng".


Celetuk Kania sambil membuka tutup botol air mineral yang di bawanya, kemudian menenggaknya hingga tersisa separuh.


"Mas Ken udah bilang. Kalau mau bareng ya kita bareng aja". Anjani menjawab lembut. Ia tersenyum dan menatap hangat mantan Nina muda nya yang dulu pernah ia layani sepenuh hati. Kini, nona muda yang cerewet dan barbar itu telah menjadi adik iparnya.

__ADS_1


"Berangkat sendiri-sendiri aja. Lagian nanti mas sama mba Anja mau mampir ke suatu tempat."


Niko menolak halus keinginan adiknya. Tentu saja hal itu membuat Kania kecewa pada Ken.


"Ya udah." Kania membalikkan badan dan meraih tangan Niko.


"Aku duluan, deh. Ada sesuatu yang mau aku beli sama mas Niko".


Ucapnya kemudian sambil menarik suaminya pergi menjauh.


Setelah Kania dan Niko menjauh dari Kenan, Kania mengajak Niko untuk membeli sarapan bubur ayam yang biasa mangkal di depan komplek. Sepanjang makan, Kania hanya diam dan memakan sarapannya. Niko yang merasakan keanehan ini, lama-lama tidak tahan juga bila terus berdiam.


"Sayang, kamu kenapa sih dari tadi kok diem aja?"


Tanya Niko pelan. Ia merasakan gelagat yang aneh terlihat dari Kania. Bila biasanya wanitanya itu akan berceloteh sepanjang waktu, kini Kania nya lebih banyak diam.


Ucapnya lirih. Raut wajahnya datar. Namun, pendar matanya menyorot penuh keganjilan.


"Perasaan kamu aja, kali. Lagian kan mungkin saja mas Ken memang beneran mau mampir ke suatu tempat. Jangan buruk sangka dulu."


"Apa mas Ken benar-benar nggak suka ya, aku mencampuri urusan dia di kantor?


Pada dasarnya, bukan karna mencampuri sih lebih tepatnya, akan tetapi lebih ke..... ingin melindungi mas Ken dari yang berusaha untuk menggodanya."

__ADS_1


Ucap Kania lirih. Niko yang duduk tepat di sebelahnya, tengah menimbang-nimbang jawaban yang sekiranya tepat untuk di ucapkan.


"Suka nggak suka, aku ya nggak tau, ya. Tapi aku rasa, lebih ke.... apa ya? Cara kamu mungkin yang membuat mas Ken merasa segan pada perempuan yang namanya Dira itu.


Ya, pendapatku sih, sesalah salahnya Dira, tapi tetap saja melakukan tindak kekerasan, termasuk dalam kriminal. Jadikan ini sebuah pelajaran. Lain kali, jangan main hakim sendiri. Pakai cara halus dan buat dia benar-benar menyesali perbuatannya. Balas dengan cara anggun yang bisa membuat semua orang takjub sama kamu".


Niko menasehati istrinya dengan halus. Niko sadar, sifat Kania memang bar-bar dan suka menang sendiri. Maka dari itu, jika Niko menasehati Kania dengan cara kekerasan, maka Kania akan berontak setengah mati. Sebaliknya, jika Niko menasehati Kania dengan halus, maka dengan sendirinya Kania akan menuruti apa yang di nasehat kan padanya.


"Terus, semu udah terjadi, jadi aku harus gimana ke depannya".


"Lebih baik, kamu diam saja dan jangan mencampuri urusan orang lain. Tali, jika ada sesuatu yang menandakan sebuah bahaya, maka kamu boleh menolong saudaramu. Dengan syarat, jangan lagi menggunakan cara kekerasan." Ucap Niko dengan suara yang masih sangat lembut. Telapak tangannya terulur mengusap puncak kepala Kania. Memberi semangat dan ketenangan yang seolah membuat Kania terbuai.


Kania mengangguk dan tersenyum ke arah suaminya. Hatinya menghangat seiring dengan degub jantung yang tak pernah berubah ketika sedang berdekatan dengan Niko. Kania bersyukur, saat ini tuhan memang bermurah hati dengan menjadikan dirinya sebagai pendamping hidup Niko.


"Terima kasih, mas. Aku janji, setelah ini, aku nggak akan mengulangi kesalahan yang sama". Kania menatap Niko dengan tatapan serius.


"Asal alasannya tidak dengan kalimat, masih ada kesalahan-kesalahan lain yang belum di coba".


Keduanya kemudian tergelak bersama. Kemudian melanjutkan sarapan mereka dengan hati yang gembira.


Kania berjanji, ia akan berjuang melakukan apapun demi Niko.


Mereka hanya tak tau saja, ada bahaya yang mengintai kakak Kania. Bukan bahaya dalam artian melukai secara fisik, melainkan berbahaya bagi rumah tangga kakaknya.

__ADS_1


Lantas, mampukah Kenan mempertahankan rumah tangganya tanpa bantuan adiknya? Sedang ia tak menyadari, bahwa dirinya terlalu menganggap sepele godaan yang datang padanya.


Dari jauh, Seseorang tengah mengamati Kenan dan Anjani. Tak peduli bahwa yang di lakukan ya ini adalah sebuah kesalahan, ia tetap melakukannya demi menuruti obsesinya yang terlampau tinggi.


__ADS_2