PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 2. 4


__ADS_3

"Ibu tidak mengalami sakit yang serius, pak. Beliau hanya perlu istirahat dan makan teratur. Sepertinya ibu sedang kelelahan. Mohon untuk istirahat total di rumah dan kurangi beraktifitas di luar ruangan".


Kenan dengan seksama mendengar penjelasan dokter spesialis kandungan yang baru saja memeriksa keadaan istri dan bakal bayi mereka. Wajah yang biasanya terlihat menjengkelkan, kini tampak jelas tegang.


"Tapi, keadaan istri dan anak kami, nggak apa-apa kan, dok?".


Tanya nya serius. Jemarinya menggenggam telapak tangan istrinya dengan erat.


"Sejauh ini baik-baik saja, pak. Bapak harus tetap siaga, ya. Mohon untuk menjaga ibu dan jangan biarkan ibu kelelahan. Berikut saya buatkan resep obat ibu hamil, beserta vitamin yang harus di konsumsi ibu sampai habis, ya".


"Baik, dok. Terima kasih. Kami permisi".


Kenan menerima sebuah resep obat yang di angsurkan dokter. Dirinya menuntun istrinya untuk keluar dari ruangan dokter, dengan langkah hati-hati.


Di tempat yang berbeda, Niko tengah berjalan bersisian dengan istrimu, Kania. Fatih, putra mereka sedang ada di rumah bersama ayah dan bunda Niko. Mereka datang kemarin sore ke kediaman Niko.


Rencananya, Kania ingin membeli beberapa kaus kaki dan pakaian untuk Fatih di pusat perbelanjaan terdekat. Fatih yang memang dalam masa pertumbuhan, banyak baju-baju anak itu yang sudah tak muat di kenakannya. Jadi lah Kania dan Niko kini berniat belanja kebutuhan putra mereka.


"Mas, selain kebutuhan untuk Fatih, mas ada mau belanja kebutuhan mas, nggak?"


Tanya Kania yang masih bergelayut manja sambil berjalan di halaman supermarket. Cara berjalannya anggun belakangan ini, berkat didikan dan arahan Niko. Kelakuan barbar dan sifat premannya, perlahan bisa di kendalikan.


"Cuma parfum aja yang tinggal dikit".


Kania mengangguk ketika Niko berbicara padanya sambil melirik sekilas.


Langkah mereka segera saja menuju ke stand baby shop. Dengan gesit, Kania memilih beberapa lembar pakaian Fatih. Tak lupa juga, kaus kaki untuk putranya dan beberapa topi lucu dengan beragam warna dan karakter.


"Sayang jangan lama-lama milihnya, keburu Fatih nangis nyari asi nya".

__ADS_1


Celetuk Niko tiba-tiba ketika mendapati istrinya telah menggenggam beberapa pakaian Fatih.


"Bentar, sayang. Bentar lagi. Lagian kan ibu udah bisa bikin susu formula untuk Fatih."


Jawab Kania tanpa mengalihkan pandangannya pada barang-barang yang sudah di pilihnya.


Puas berbelanja kebutuhan Fatih, Kania lantas berjalan menuju stand underwear. Tak lupa, Niko juga masih setia mengekori ya dari belakang. Tangan Kania tiba-tiba terulur pada sebuah lingerie merah menyala yang terpajang pada manekin dekat kasir.


Baru saja tangan Kania terulur untuk memegang lingerie tersebut, sebuah tangan juga hinggap di sana. Mata Kania melirik ke arah wanita itu yang juga memegang lingerie yang di taksir Kania.


"Mbak, Aku mau yang ini, bungkus ya".


Ucap Kania pada petugas supermarket yang tengah berjaga. Wanita yang juga naksir pada lingerie itu, melotot ke arah Kania.


"Nggak bisa gitu, dong. Aku juga suka dan mau beli ini". Ucap wanita itu ketus. Kania tentu saja tenang dan sama sekali tak terprovokasi. Dirinya sudah biasa di bentak oleh wanita manja macam wanita seperti itu. Baginya, wanita itu bukanlah tandingannya.


Niko hanya diam memperhatikan di sudut ruangan dekat ruang ganti. Pria yang usianya setahun lebih tua dari kakak Kania itu, menebar senyum geli.


Firasatnya, akan ada perang ke tiga setelah ini.


"Huh. Dasar perempuan nggak tau aturan. Nggak punya tatakrama".


Dan tentu saja Kania masa bodoh dan tak peduli. Baginya, wanita itu mendumal juga bukan atas perintah Kania.


Berjalan menjauh, wanita itu lantas beralih dan berlalu dari saja. Tanpa sengaja, wanita itu berjalan ke arah Niko. Niko tak peduli, dan lantas memainkan ponselnya guna mengusir rasa bosan yang menggelayuti harinya.


Tatapan wanita itu terpaku pada Niko yang berdiri anggun sembari memencet-mencet ponselnya. Tanpa sadar, wanita itu menelan salivanya dengan berat.


Dan langkah pertama wanita itu dalam menarik perhatian Niko, adalah menjatuhkan tasnya seperti orang yang tak sengaja.

__ADS_1


Sayangnya, Kania melihatnya dan mencium gelagat tak nyaman dari wanita sialan itu.


"Sial. Aku udah berusaha nidurin jiwa premanku, tapi malah di usik lagi. Mau cari mati, atau cari rumah UGD nih lonthe??"


Gumam Kania sembari mendekat ke arah Niko.


Dan yang menjadi objek sasaran wanita itu, tak peduli dan tak menyadarinya.


Kania diam dahulu untuk sementara di tempatnya. Ia tengah mengamati sikon situasi yang terasa membuatnya gerah. Dan benar saja, gerak gerik wanita itu membuat Kania memasang siaga satu.


Brukkk....


Tas wanita itu terjatuh dan menumpahkan beberapa alat make up miliknya. Tentu saja hal itu berhasil mengalihkan atensi Niko yang tengah asik tenggelam dalam permainan ponselnya.


"Ah, maaf mas. Ma--maaf karna saya, nggak sengaja".


Tak sempat menjawab, Niko yang baru saja hendak menunduk dan menolong wanita tersebut, kini malah di kejutkan oleh sebuah kaki yang menendang kasar tas wanita itu hingga terpental jauh. Kedua tangannya berkacak pinggang setinggi perut. Tentu saja Niko kaget.


"Sayang.... aku hanya berusaha bantuin".


Tanpa membalas kalimat Niko, Kania segera menggendong tangan Niko dan menatap tajam mematikan ke arah wanita itu, sambil berkata......


"Lain kali, kalau mau cari perhatian, main cantik ya. Dan cari tau dulu latar belakang calon mangsa kamu. Kamu bukan tandingan aku. Dan kalau kamu benar-benar baru dalam melonthe, sini aku kursusin!!".


....


Hai hai hai.... yang kangen Kania.... sudah terobati ya. Insya Allah bakal next besok ya. Aku kangen juga soalnya Sama tingkah bar-bar Kania.


Bye bye ya. sampai jumpa di next part ya.....🥰

__ADS_1


__ADS_2