
Mentari bersinar terang, Cahayanya menembus tirai sebuah kamar yang penghuninya masih terlelap, terhanyut dalam mimpinya.
Kicauan burung menambah syahdu suasana pagi ini. Namun, Hawa sejuk masih sangat terasa.
Malam tadi, Anjani meminta Ken untuk tidur dengannya di sofa. Anjani hanya tak mau egois dengan membiarkan sang pemilik kamar tidur di sofa sedang ia enak-enakan tidur di lantai.
Tidak terjadi aktifitas apapun semalam. Hanya canda gurau dan saling melempar godaan satu sama lain. Mereka berdua, larut dalam suasana malam penuh kasih. Tenggelam dalam buaian kemesraan bak sejoli yang baru mengenal cinta.
Sejak kemarin pagi, Anjani memutuskan untuk belajar memaafkan dan menerima Kenan kembali. Bukan tanpa alasan, Sikap Kenan lah yang mampu membuat Anjani meluruh kembali.
Anjani seperti melupakan sakit hati atas kelakuan Ken selama ini. Entahlah. Cinta terkadang lebih mengesampingkan hal logis. Tanpa pikir lagi, mungkin kah ke belakang akan tetap seperti ini.
Anjani terbuai.
Anjani terlena.
Anjani menyerah.
Anjani lebih memilih melepas masa lalu dan memaafkan.
Menurut Anjani, bukankah kesalahan juga bisa di maafkan?
Anjani terbangun dan merasa benda berat menindih kakinya. Ia mengerjapkan matanya perlahan. Wajah pertama yang ada dalam pandangannya adalah suaminya, Ken memejamkan matanya dengan damai. Wajah tampannya selalu menjadi candu bagi Anjani.
Kaki dan tangan Kenan menindih Anjani dengan erat. Hingga Anjani baru menyadari bahwa matahari sudah mulai terbit pertanda ia telah bangun kesiangan.
"Mas, Bangun.... Aku udah kesiangan ini". Ucap Anjani pelan dengan menepuk-nepuk pelan pipi Kenan. Kenan yang merasa terganggu pun segera mengerjapkan matanya pelan dan melenguh.
"Emhhh ..... Udah siang, ya?"
"Iya. Ayo mas angkat tangan dan kaki mu dulu. Aku nggak bisa gerak. Kesiangan aku nggak enak sama mama kalau nggak bantuin masak". Ucap Anjani pelan. Ken pun tersenyum sembari semakin mengeratkan palukannya.
"Mas...", ucap Anjani lagi.
"Sebentar aja, nja. Aku pengen gini lama-lama".
"Tapi udah siang, mas. Nanti lagi kan bisa?".
"Iya deh, Nyonya muda", Anjani pun merona karena Kenan terus menggodanya.
Anjani merasa bahagia sekarang, setelah selama ini, akhirnya Anjani bisa bersatu dengan Kenan dalam sebuah tali pernikahan. Anjani beringsut dari ranjang menuju kamar mandi dengan langkah pelan. Tangan kanannya memegangi perutnya yang buncit
Kenan menatap langkah Anjani yang seperti orang tertatih. Kandungannya sudah memasuki usia delapan bulan. Pasti terasa berat bagi Anjani yang masih belum genap berusia delapan belas tahun.
Kenan baru ingat sekarang, Ulang tahun Anjani bukankah kurang dua hari lagi? Kenan berjingakt dan segera melihat kalender mini di meja kerjanya.
__ADS_1
Ken memang memiliki meja kerja yang tidak terlalu besar, sesekali Ken akan menggunakannya untuk sekedar mengecek laporan penjualan dan pemasukan distro miliknya. Terkadang, Ken juga menggunakan nya untuk mengerjakan tugas skripsinya.
Setelah Anjani tiba di kamar mandi, Ken segera melihat kalender di mejanya. Setelah memastikan, Ken pun tersenyum cerah dan segera menghampiri kamar mandi dan membukanya pelan.
Anjani pun sontak terkejut dan membelalakkan matanya. Bagaimana tidak? Anjani sudah telanjang dan hanya menggunakan dalaman segitiga saja tanpa menggunakan bra. Spontan, Anjani segera meraih handuk dan menutupi tubuhnya.
"Mas, Kamu ngagetin sih. Kenapa nggak ngetuk pintu?". Yang di tanya hanya cengengesan.
"Kenapa emang? Malu? Santai aja kali, nja. Aku bahkan udah tau semuanya kok".
"Mas, keluar ih".
"Aku cuma mau tanya, nanti sore kamu mau nggak ziarah ke makam ibu?", Anjani menatap Kenan dengan mata berbinar-binar.
"Iya iya mas, aku mau".
"Ya udah, lanjutin mandinya. Aku keluar",
"Ngomong gitu doang pakai ganggu orang mandi segala?", Sayup-sayup, Ken mendengar gerutuan dari Anjani. Ken hanya tersenyum dan menuju meja kerjanya untuk mengecek beberapa laporan.
..................
Sore ini, Sesuai dengan janji Ken untuk membawa Anjani Berziarah ke makam ibunya. Dengan wajah mendung, Anjani berjalan menuju mobil di halaman. Nawal pun dengan sabar menuntun Anjani ke garasi mobil.
Belakangan ini, distro Kenan penjualannya semakin meningkat drastis. Mungkin juga karna rejeki untuk sang jabang bayi yang tengah di kandung Anjani.
"Sayang, jangan terlalu lama di makam ya, Kasian bayi kamu kalau di pakai duduk jongkok lama-lama. Nanti kram perutnya kumat lagi. Lain kali kalau ada waktu lagi, boleh kok ziarah lagi. Dan kamu Ken, jaga mantu mama. Jangan macem-macem. Kalau memang jadi mau ajak Anja ke distro, jangan sampe mantu mama kecapekan. Paham?", kata Anjani pajang, menceramahi anak dan menantunya.
"Iya mama ratu", ucap Ken meledek ibunya.
Ken bersyukur, keluarganya sudah kembali menghangat lagi seperti dulu. Di perlakukan dingin semenjak kepergian Anjani, membuat keluarga Ken nampak seperti tidak mempedulikan Ken lagi.
"Ya udah Ken, hati-hati di jalan. Jangan ngebut jangan ugal-ugalan. Pelan aja pokoknya nggak terjadi apa-apa".
"Injeh, ndoro", Jawab Ken lagi.
"Nja, inget ya pesen mama. Jangan capek-capek". Anjani mengangguk sambil mengulas senyum.
"Iya, ma. Makasih ya ma udah perhatian sama Anja".
"Kamu anak mama, nja. Udah seharusnya mama menjagamu dengan baik. Terima kasih karna udah mau ngasih cucu buat mama dan papa".
Mereka pun saling memeluk dan menumpahkan kasih sayang ibu dan anak. Sungguh, Anjani merasa sangat bahagia saat ini.
Jika dulu, Anjani hanya memiliki seorang ibu, berbeda dengan kini yang memiliki orang tua lengkap, suami beserta adik yang usianya sebaya dengan Anjani.
__ADS_1
Kenan dan Anjani pun berangkat menuju makam sang ibu. Sesampainya di sana, Ken menuntun Anjani ke makam sang ibu mertua. Dengan wajah mendung, Anjani tidak bisa menahan air matanya lagi. Dengan air mata yang mengalir, Anjani membacakan doa untuk ibunya.
"Ibu..... Maafkan Anja", ucap Anjani dengan masih berlinang air mata. Ken mengusap pelan lengan Anjani dari samping setelah membacakan doa untuk ibu mertuanya.
"Maaf karna Anja membantah ibu waktu itu. Maaf Anja melanggar perintah ibu. Maaf Anja pergi meninggalkan ibu. Maaf karna di saat-saat terakhir ibu, Anja nggak ada di sisi ibu. Maaf Anja datang terlambat, Bu".
"Sayang, udah... Jangan sedih lagi. Kalau udah, kita pulang aja ya. Sekarang udah sore juga".
"Aku masih mau disini, mas".
"Kamu nggak inget pesen mama?", Anjani mengalihkan tatapannya pada Kenan. "Kalau kelamaan disini, nanti malah perutnya kram lagi", Ken membujuk Anjani dengan lembut. Anjani pun mengangguk.
"Ibu, Anja pulang dulu ya. Doakan Anja biar kalau lahiran nanti, lancar".
Anjani pun beranjak dengan Kenan yang merengkuhnya dari samping.
Sesampainya di dalam mobil, Ken memberikan minum pada Anjani.
"Mas?", panggil Anjani.
"Ya",
"Terima kasih".
"Untuk?"
"Hari ini".
"Terus?".
"Kenapa sekarang kamu berubah baik sekarang, mas?" Anjani terlalu bahagia saat ini karna Ken memperlakukannya dengan baik. Anjani hanya takut, jika Ken begini karna ia tengah mengandung anak Ken.
"Karena aku sudah sadar aku udah mencintaimu, nja".
๐น๐น๐น๐น๐น
Mau nyapa kakak readers ah.....
Salam kenal kakak-kakak readers yang baik hati....
Makasih udah mampir ya...
jangan lupa dukungannya... dan ramaikan kolom komentar biar makin deket ya kitanya...
~Salam sejahtera dari neng Tia๐๐ฅฐ
__ADS_1