
Hari ini, Anjani entah mengapa merasakan tubuhnya sedikit berat untuk beranjak dari tidurnya. Bukan Karna kelelahan akibat aktifitas ranjangnya semalam bersama suaminya, namun...
Tubuhnya merasakan ada yang tak beres kali ini.
"Mas...."
Ucapnya pada Kenan yang terlelap nyaman di sampingnya.
Namun yang dipanggil tak merespon.
Dengkuran halus masih terdengar dari bibirnya.
"Mas... bangun sebentar".
Barulah Kenan menggerakkan kelopak matanya perlahan seraya melenguh pelan.
"Ada apa, nja? Udah siang yah?".
Tanya Kenan dengan mata sayu nya.
Anjani menggeleng pelan.
"Badanku nggak enak, mas".
Sontak kena bangun Dan memeriksa suhu tubuh istrinya, menempelkan telapak tangannya pada dahi dan leher Kenan.
"Ya ampun, nja.... Badan kamu panas".
Ucap Kenan panik luar biasa.
"Perutku nggak enak, mas".
"Kita ke dokter sekarang". Ucap Kenan tegas tak mau di bantah.
"Tapi, ini masih subuh, mas."
"Nggak apa-apa. Bentar aku telpon dokter Lia. Habis itu aku bantu kamu siap-siap".
...................
Di sisi lain..... Kania tengah bersiap untuk hendak mencari gaun untuk ia kenakan besok malam.
Tadi malam, Niko mengajak Kania untuk memenuhi undangan pesta pernikahan salah satu teman Niko saat kuliah dulu.
"Sayang, cepat habiskan sarapannya. Jangan lama. Habis nganter kamu pulang, aku langsung balik ke resto. Ada banyak hal yang harus aku urus".
Tukas Niko kemudian saat ia mendapati sang istri, makannya tak habis-habis.
"Iya, suamiku sayang. Bawell!!".
Niko hanya geleng-geleng kepala saat sang istri mengatainya bawel.
"Fatih di bawa aja, ya?".
__ADS_1
"Jangan ngaco deh, mas..... Aku nggak mau ribet pas mau cobain baju, yang ada entar malah nangis dianya".
Ucap Kania tak suka.
"Ya udah biar nanti kita titipin mama".
Jawab Niko yang mendapat dua acungan jempol dari istrinya.
Setelah selesai, Niko dan Kania pun membawa Fatih untuk di antar ke kediaman Fandy.
*******
Kini, Kania tengah berada di depan sebuah butik ternama. Matanya bersinar terang kala di suguhkan dengan busana wanita yang begitu mewah namun terlihat elegan.
Tiba-tiba saja....
Jiwa emak-emaknya meronta.
"Mas.... Aku mau yang itu.... Yang itu juga, yang itu juga". Ucapnya menunjuk banyak gun yang di pamerkan dengan manekin, tanpa memperhatikan raut wajah suaminya yang mengerutkan keningnya dalam.
"Kamu nggak lagi berencana Meres aku, kan?".
Kania mendadak menatap suaminya.
"Ya enggak lah.... mana ada aku mau meres. Lagian ini tuh sesekali, mas. Nggak tiap hari".
"Nggak tiap hari apaan? kemarin kamu udah shoping sama kak Anja".
"Tapi, mas.....".
dan menarik lengan Kania mendekat.
"Dengar.....
Aku tau kamu terlahir dari keluarga kaya raya, tidak seperti aku yang serba pas-pasan. Bahkan.... untuk kuliah pun, aku harus banting tulang seorang diri.
Aku ingin, cukup sudah kamu memiliki pola hidup menghambur-hamburkan uang. Aku mau, kamu belajar bekerja keras agar lebih menghargai nilai uang dan tidak menyepelekan jumlah uang".
"Maksud mas Niko?".
Niko mengembuskan nafasnya kasar, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan istrinya.
"Aku nggak akan ngelarang kamu belanja apapun untuk hal-hal yang bukan termasuk dalam kebutuhan primer. Tapi.... kamu harus belajar bekerja keras untuk mendapatkannya, tanpa bantuan siapapun.
Ingat..... Aku juga akan memberi tau papa, mama ataupun kak Ken untuk nggak ngasi kamu uang gitu aja".
"Ya nggak bisa gitu dong mas. Itu namanya nggak adil".
"Adil kalau aku nurut, kamunya juga nurut.
Nggak adil kalau kamunya nggak nurut, sementara aku, kamu tuntut untuk nurut sama kamu. Sekarang, kamu boleh beli satu atau dua baju yang kamu mau. Aku nggak akan bayarin lebih".
Tukas Niko kemudian menunggu jawaban istrinya.
__ADS_1
"Ya udah aku beli dua baju aja".
"Good". sahut Niko penuh kemenangan.
Dalam hati Niko, perlahan sebisa mungkin Niko akan merubah pola pikir istrinya yang rada-rada gesrek itu.
Usai berbelanja dan menemukan gaun yang pantas, Niko keluar butik dengan diikuti Kania di belakangnya. Tanpa mereka sadari, dua orang berjalan pelan mengintai mereka dan tiba-tiba.....
Jambret.....
ambret......
Kania berteriak kencang saat tasnya raih di bawa lari dua penjambret.
Niko pun menenangkan istrinya dan berusaha mengejar penjambret dengan ketangkasannya.
Beruntung Niko dengan gesit mengejar pelaku dan dengan cepat, Niko menendang kedua pelaku dan menghajarnya dengan membabi buta.
Bugh...
bugh...
duak...
Brak...
"Mas.... mas mas udaah udah...."
Kania datang dengan beberapa warga berdatangan melerai mereka dan mengamankan kedua pelaku.
Duak....
Duak....
Bugh....
"Mas, udah.... bisa mati anak orang kalau kamu gebukin terus. Udah udah.....". ucap Kania dengan mengusap pelan dada suaminya.
"Kamu mau belain mereka yang udah jambret kamu?"
"Terus.... Apa aku harus jadi cheersleaders, menyemangati dan menyoraki suamiku yang tengah berkelahi?
Hello.... Kamu waras? Udah dong. mereka udah kamu gebukin tuh udah babak belur.
Aku nggak mau ya menjanda karna suamiku di penjara karna udah bunuh orang".
Niko terpaku. Tadi, Niko memang menghajar mereka tanpa jeda.
"Iya, sih" jawab Niko dengan menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal.
"Hayuk pulang, sekarang!!"
Ucap Kania tak terbantahkan sambil memunguti tas dan paperbag berisi belanjaannya tadi.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹